Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mengapa Harus Panahan?

  • account_circle Husin Ali
  • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
  • visibility 215
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan Antropolog tentang Disiplin, Rasa, dan Jalan Pulang pada Diri

Ada olahraga yang membuat kita berkeringat. Ada yang memacu adrenalin. Dan ada satu yang membuat kita diam namun justru di sanalah kita menemukan diri sendiri. Panahan adalah yang terakhir.

Saya menulis ini sebagai antropolog—dan pengalaman itu diperkaya oleh perjumpaan panjang dengan Bang Ade Permana, seorang Polisi aktif berpangkat Kombes Pol, mantan Kapolresta Gorontalo Kota, yang juga antropolog. Kami saling mengenal sejak studi doktoral di Universitas Hasanuddin (2019). Di lapangan, beliau membina Dumbo Archery Gorontalo—sebuah ruang belajar yang tenang, egaliter, dan penuh makna.

Bahwa seorang perwira polisi sekaligus antropolog memilih panahan bukan kebetulan. Antropologi mengajarkan satu hal: manusia dibentuk oleh praktik yang ia ulangi. Panahan adalah praktik itu—sunyi, disiplin, dan jujur.

Panahan Mengajari Kita Menunggu

Panahan memaksa kita melambat. Tidak ada hasil instan. Tarikan busur menuntut kekuatan yang terukur; jeda sebelum melepas anak panah menuntut kesabaran yang sadar. Terburu-buru hampir selalu meleset. Di sini, kita belajar sabar yang aktif—bukan pasrah, melainkan siap sepenuhnya.

Rasa Saat Anak Panah Dilepas

Ada momen yang sulit dijelaskan: ketika jemari membuka, anak panah melesat, dan dunia sejenak mengecil pada satu titik tujuan. Entah tepat di tengah sasaran atau sedikit melenceng, selalu ada pelajaran. Panahan tidak pernah berbohong—ia mengembalikan kita pada kualitas niat dan ketenangan kita sendiri.

Disiplin Sunyi yang Membentuk Karakter

Di Dumbo Archery, banyak anggota adalah polisi aktif lintas generasi. Pangkat ditinggalkan. Yang diuji bukan otoritas, melainkan ketenangan. Latihan—sering kali malam hari, termasuk di rumah dinas—menjadi ritual pemulihan setelah hari yang panjang. Tidak ada teriakan. Tidak ada pamer. Hanya pengulangan, koreksi, dan saling menguatkan.

Di titik ini, perspektif antropologis menjadi terang: panahan bekerja sebagai pendidikan karakter tanpa kurikulum. Nilai ditanamkan lewat praktik—fokus, disiplin, tanggung jawab—bukan lewat ceramah.

Mengapa Panahan Relevan Hari Ini

Karena kita hidup di zaman yang bising. Karena pikiran jarang benar-benar istirahat. Karena emosi mudah tersulut, sementara jeda kian langka.

Panahan memberi jeda itu. Ia melatih kekuatan yang tertib, bukan agresi. Ia mengajarkan kepemimpinan atas diri sendiri sebelum mengelola keadaan. Itulah mengapa seorang antropolog—bahkan yang juga perwira Polri—memilihnya sebagai jalan latihan.

Sebuah Undangan Rasa

Jika Anda lelah oleh hiruk-pikuk, cobalah panahan. Pegang busur. Tarik perlahan. Atur napas. Lepaskan anak panah dengan niat baik. Rasakan ketenangan yang asing namun akrab. Jika itu datang, panahan sedang bekerja pada Anda.

Tulisan ini saya persembahkan sebagai catatan antropolog dan undangan sunyi. Bukan untuk menjadi juara, tetapi untuk menjadi lebih hadir, lebih tenang, dan lebih utuh. Karena terkadang, yang kita perlukan bukan berlari lebih cepat, melainkan berhenti sejenak—lalu melangkah dengan arah yang benar.

  • Penulis: Husin Ali
  • Editor: Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Setiap 1 Mei, jalan-jalan ibu kota terasa berbeda. Bukan karena kemacetan, tapi karena gema suara buruh yang menggema dari segala penjuru. Mereka datang bukan hanya membawa spanduk dan bendera serikat pekerja sebagai simbol solidaritas, tapi juga harapan yang terus menyala meski kadang redup oleh kenyataan. Hari Buruh Internasional selalu menjadi cermin tentang siapa kita sebagai […]

  • Pacaran Anak di Bawah Umur dan Bawa Kabur Kini Bisa Dipenjara, Ini Aturan KUHP Baru

    Pacaran Anak di Bawah Umur dan Bawa Kabur Kini Bisa Dipenjara, Ini Aturan KUHP Baru

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 343
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Praktik pacaran anak di bawah umur yang berujung pada tindakan membawa pergi tanpa restu orang tua kini berisiko pidana. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru menegaskan bahwa persetujuan anak tidak menghapus pelanggaran hukum atas hak pengasuhan orang tua yang sah. Ketentuan tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP berlaku penuh […]

  • BP3NU Gorontalo Gelar Raker, Bahas Statuta dan Regulasi Perguruan Tinggi NU

    BP3NU Gorontalo Gelar Raker, Bahas Statuta dan Regulasi Perguruan Tinggi NU

    • calendar_month Minggu, 10 Feb 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 64
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Pelaksana Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3NU) Provinsi Gorontalo dijadwalkan menggelar Rapat Kerja (Raker) yang akan berlangsung di Ballroom Hotel Damhil, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pada Minggu, 10 Februari 2019. Rapat kerja tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan statuta serta kebijakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sekaligus membahas regulasi perguruan tinggi swasta di lingkungan […]

  • PWNU Gorontalo Desak PBNU Segera Akhiri Konflik, Dorong Percepatan Muktamar photo_camera 15

    PWNU Gorontalo Desak PBNU Segera Akhiri Konflik, Dorong Percepatan Muktamar

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo bersama seluruh PCNU se-Provinsi Gorontalo menekankan perlunya penyelesaian cepat atas dinamika internal yang tengah terjadi di PBNU. Pernyataan ini disampaikan melalui Surat Pernyataan Nomor 373/PW.01/A.II.07.99/27/12/2025 yang dirilis pada 2 Desember 2025. Ketua PWNU Gorontalo, Drs. H. Ibrahim T. Sore, menegaskan bahwa konflik internal PBNU tidak boleh berlarut-larut […]

  • Kadis Pendidikan Maros Resmikan SDN 215 Inpres Taipa, Sekolah Berbasis Karakter dan Life Skill

    Kadis Pendidikan Maros Resmikan SDN 215 Inpres Taipa, Sekolah Berbasis Karakter dan Life Skill

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Suasana haru dan kebanggaan menyelimuti SDN 215 Inpres Taipa, Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, saat bangunan sekolah yang telah lama dinantikan akhirnya diresmikan, baru-baru ini. Peresmian tersebut langsung dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maros, Andi Wandi Bangsawan Putra Patabai, S.STP., MM, disaksikan para guru se-Kecamatan Maros Baru, jajaran Dinas […]

  • Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle -
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Kasus tragis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada penghujung Januari 2026, ketika seorang siswa SD berusia 10 tahun berinisial YBS diduga mengakhiri hidupnya karena keluarganya tak mampu membeli buku dan pena, adalah tamparan keras bagi nurani bangsa. Membaca berita tentang seorang anak kecil yang memilih “pergi” selamanya hanya karena selembar buku dan sebatang pena […]

expand_less