Breaking News
light_mode
Trending Tags

Papua selalu menjadi Hidangan dalam meja Kekuasaan

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • visibility 204
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ironisnya, proyek seperti ini hampir selalu dibungkus narasi kesejahteraan. Negara hadir seolah membawa solusi atas kemiskinan dan keterbelakangan. Bahasa yang digunakan terdengar mulia: membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, mempercepat kemajuan. Namun pertanyaan mendasarnya sederhana: siapa sesungguhnya yang paling banyak menikmati hasilnya? Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal justru kerap menjadi penonton di atas tanah sendiri. Mereka tersisih oleh tenaga kerja dari luar, kalah oleh modal besar, dan dipaksa beradaptasi dengan sistem ekonomi yang tidak mereka rancang.

Di sinilah relevan membaca situasi tersebut melalui gagasan Louis Althusser tentang aparatus negara. Menurut Althusser, kekuasaan bekerja bukan hanya lewat kekerasan terbuka seperti militer atau polisi, tetapi juga melalui institusi yang membentuk kesadaran: sekolah, media, birokrasi, agama, hingga bahasa pembangunan itu sendiri. Masyarakat dipanggil untuk percaya bahwa proyek negara adalah satu-satunya jalan menuju kemajuan. Mereka diarahkan menerima penggusuran sebagai pengorbanan, menerima eksploitasi sebagai kesempatan kerja, dan menerima kehilangan ruang hidup sebagai harga dari modernitas.

Bahasa pembangunan sering kali lebih efektif dari senjata. Sebab ia membuat korban merasa sedang ditolong. Ia membuat perampasan tampak seperti kemajuan. Ia membuat ketimpangan terdengar rasional. Dalam banyak kasus, orang tidak lagi dipaksa dengan kekerasan fisik, melainkan dibujuk melalui statistik, pidato pejabat, dan janji pertumbuhan ekonomi. Angka-angka dipoles sedemikian rupa, sementara suara warga yang kehilangan tanah justru dianggap gangguan.

Ketika penolakan muncul, aparatus represif pun mulai bekerja. Konflik agraria di Papua berulang kali disertai kehadiran aparat keamanan. Tanah yang semestinya menjadi ruang dialog berubah menjadi wilayah pengawasan. Warga adat yang mempertahankan hak ulayat mudah dicap anti-pembangunan, separatis, radikal, atau penghambat investasi. Di titik ini, pembangunan tidak lagi netral. Ia menjelma instrumen legitimasi kekuasaan. Negara tampil bukan sebagai penengah, tetapi sebagai pihak yang telah lebih dulu memilih kepentingan mana yang harus dilindungi.

Yang paling menyedihkan, dampak terberat justru sering menimpa kelompok yang paling jarang didengar: perempuan dan anak-anak. Perempuan adat kehilangan akses terhadap kebun, sumber pangan lokal, tanaman obat, serta peran sentralnya dalam menjaga ekonomi rumah tangga. Mereka dipinggirkan bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara sosial dan kultural. Anak-anak tumbuh di tengah rusaknya ekologi, tercabut dari pengetahuan lokal, dan diperkenalkan pada gagasan bahwa modern berarti meninggalkan warisan leluhur.

Mereka dikenalkan pada beras sebagai simbol kemajuan, sementara sagu, keladi, petatas, pisang, dan sistem pangan tradisional perlahan didorong ke pinggir sejarah. Padahal pemaksaan satu jenis pangan adalah bentuk kekerasan budaya. Papua memiliki tradisi pangan yang kaya, beragam, dan adaptif terhadap lingkungan. Sistem itu terbentuk bukan secara kebetulan, melainkan hasil pengetahuan ekologis yang diwariskan lintas generasi. Menjadikan beras sebagai satu-satunya definisi pangan sama saja dengan menolak kearifan lokal dan memaksakan selera pusat kepada daerah.

Masuknya proyek-proyek raksasa juga membawa perubahan sosial yang tidak sederhana: urbanisasi mendadak, migrasi tenaga kerja, persaingan ekonomi, perubahan demografi, inflasi lokal, hingga retaknya relasi komunal. Ketika ruang hidup menyempit dan distribusi manfaat tak adil, konflik horizontal mudah meledak. Masyarakat adat akhirnya bukan hanya berhadapan dengan negara dan korporasi, tetapi juga sesama warga yang dipaksa berebut ruang sempit yang tersisa.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Gorontalo Dorong Penelusuran Naskah Kuno untuk Selamatkan Warisan Sejarah

    Pemkab Gorontalo Dorong Penelusuran Naskah Kuno untuk Selamatkan Warisan Sejarah

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Gorontalo, Doni Lahatie, mengatakan penelusuran ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta mendokumentasikan kembali warisan budaya yang tersebar di masyarakat. “Upaya ini penting agar identitas sejarah Gorontalo tetap terjaga dan tidak hilang,” kata Doni. Pemerintah daerah juga mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk menyerahkan atau mendata naskah kuno yang dimiliki agar dapat […]

  • IKA PMII Gorontalo Gelar “Munajat Cinta Ramadhan”, Salurkan 250 Kg Beras untuk Pesantren photo_camera 4

    IKA PMII Gorontalo Gelar “Munajat Cinta Ramadhan”, Salurkan 250 Kg Beras untuk Pesantren

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 374
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kegiatan bertajuk “Munajat Cinta Ramadhan” yang dilaksanakan di Grand Q Hotel Gorontalo pada Sabtu (7/3/2026) diawali dengan pembagian takjil oleh Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Provinsi Gorontalo. Ketua PKC PMII Gorontalo, Windy Olivia Dawa, menuturkan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang buka puasa bersama, tetapi juga menjadi ruang temu […]

  • Skandal Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) di PC PMII Ambon 

    Skandal Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) di PC PMII Ambon 

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Oleh: Budiman Salamun – (Kader PMII Cabang Ambon) Pelantikan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Ambon menjadi problem mendasar yang membentuk “frame” buruk terhadap citra organisasi, mengapa demikian! karena Pelantikan PC PMII Ambon didasari oleh pengungkungan AD/ART PMII atau dengan kata lain, Pelantikan PC PMII AMBON merupakan hasil pemerkosaan Konstitusi dan Peraturan organisasi. […]

  • Fleksibilitas

    Fleksibilitas

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Fleksibilitas semakin sering digunakan dalam sistem kerja terkini, baik di korporasi maupun lembaga pemerintah. Flexibility work arragment (FWA) mulai diterapkan perlahan sebagai sistem kerja. Ia diposisikan sebagai respons atas perubahan digital yang menuntut kecepatan, keterbukaan, dan efisiensi. Pola kerja tidak lagi terikat secara ketat pada ruang dan waktu. Kantor bukan lagi satu-satunya locus kerja, dan jam kerja […]

  • Dijaga TNI, Tapi Cuma Pisang dan Ubi: Sengketa Lahan Warga vs Pertamina di Maros Makin Panas

    Dijaga TNI, Tapi Cuma Pisang dan Ubi: Sengketa Lahan Warga vs Pertamina di Maros Makin Panas

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 171
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MAROS–Sengketa kepemilikan lahan antara warga dan PT Pertamina di Jalan Pertamina, Kelurahan Temmapaduae, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kian memanas dan memicu sorotan publik. Ahli waris menegaskan bahwa di lokasi tersebut tidak terdapat kilang, pipa, maupun aktivitas produksi Pertamina, Jumat (16/1/2026). Meski demikian, sejumlah oknum TNI terlihat berjaga di lahan yang diklaim sebagai […]

  • Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Kita begitu fasih merayakan nasionalisme dalam bentuk seremoni dan simbol. Setiap tanggal 17 Agustus, kita berdiri tegap menyanyikan Indonesia Raya, mengibarkan bendera Merah Putih di halaman rumah, sekolah, dan kantor pemerintahan. Di media sosial, foto bendera yang dikibarkan di puncak gunung atau latar kemenangan atlet nasional menjadi penanda kebanggaan kolektif. Di ruang-ruang publik, nasionalisme dipentaskan lewat […]

expand_less