Breaking News
light_mode
Trending Tags

Papua selalu menjadi Hidangan dalam meja Kekuasaan

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • visibility 202
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ironisnya, proyek seperti ini hampir selalu dibungkus narasi kesejahteraan. Negara hadir seolah membawa solusi atas kemiskinan dan keterbelakangan. Bahasa yang digunakan terdengar mulia: membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, mempercepat kemajuan. Namun pertanyaan mendasarnya sederhana: siapa sesungguhnya yang paling banyak menikmati hasilnya? Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal justru kerap menjadi penonton di atas tanah sendiri. Mereka tersisih oleh tenaga kerja dari luar, kalah oleh modal besar, dan dipaksa beradaptasi dengan sistem ekonomi yang tidak mereka rancang.

Di sinilah relevan membaca situasi tersebut melalui gagasan Louis Althusser tentang aparatus negara. Menurut Althusser, kekuasaan bekerja bukan hanya lewat kekerasan terbuka seperti militer atau polisi, tetapi juga melalui institusi yang membentuk kesadaran: sekolah, media, birokrasi, agama, hingga bahasa pembangunan itu sendiri. Masyarakat dipanggil untuk percaya bahwa proyek negara adalah satu-satunya jalan menuju kemajuan. Mereka diarahkan menerima penggusuran sebagai pengorbanan, menerima eksploitasi sebagai kesempatan kerja, dan menerima kehilangan ruang hidup sebagai harga dari modernitas.

Bahasa pembangunan sering kali lebih efektif dari senjata. Sebab ia membuat korban merasa sedang ditolong. Ia membuat perampasan tampak seperti kemajuan. Ia membuat ketimpangan terdengar rasional. Dalam banyak kasus, orang tidak lagi dipaksa dengan kekerasan fisik, melainkan dibujuk melalui statistik, pidato pejabat, dan janji pertumbuhan ekonomi. Angka-angka dipoles sedemikian rupa, sementara suara warga yang kehilangan tanah justru dianggap gangguan.

Ketika penolakan muncul, aparatus represif pun mulai bekerja. Konflik agraria di Papua berulang kali disertai kehadiran aparat keamanan. Tanah yang semestinya menjadi ruang dialog berubah menjadi wilayah pengawasan. Warga adat yang mempertahankan hak ulayat mudah dicap anti-pembangunan, separatis, radikal, atau penghambat investasi. Di titik ini, pembangunan tidak lagi netral. Ia menjelma instrumen legitimasi kekuasaan. Negara tampil bukan sebagai penengah, tetapi sebagai pihak yang telah lebih dulu memilih kepentingan mana yang harus dilindungi.

Yang paling menyedihkan, dampak terberat justru sering menimpa kelompok yang paling jarang didengar: perempuan dan anak-anak. Perempuan adat kehilangan akses terhadap kebun, sumber pangan lokal, tanaman obat, serta peran sentralnya dalam menjaga ekonomi rumah tangga. Mereka dipinggirkan bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara sosial dan kultural. Anak-anak tumbuh di tengah rusaknya ekologi, tercabut dari pengetahuan lokal, dan diperkenalkan pada gagasan bahwa modern berarti meninggalkan warisan leluhur.

Mereka dikenalkan pada beras sebagai simbol kemajuan, sementara sagu, keladi, petatas, pisang, dan sistem pangan tradisional perlahan didorong ke pinggir sejarah. Padahal pemaksaan satu jenis pangan adalah bentuk kekerasan budaya. Papua memiliki tradisi pangan yang kaya, beragam, dan adaptif terhadap lingkungan. Sistem itu terbentuk bukan secara kebetulan, melainkan hasil pengetahuan ekologis yang diwariskan lintas generasi. Menjadikan beras sebagai satu-satunya definisi pangan sama saja dengan menolak kearifan lokal dan memaksakan selera pusat kepada daerah.

Masuknya proyek-proyek raksasa juga membawa perubahan sosial yang tidak sederhana: urbanisasi mendadak, migrasi tenaga kerja, persaingan ekonomi, perubahan demografi, inflasi lokal, hingga retaknya relasi komunal. Ketika ruang hidup menyempit dan distribusi manfaat tak adil, konflik horizontal mudah meledak. Masyarakat adat akhirnya bukan hanya berhadapan dengan negara dan korporasi, tetapi juga sesama warga yang dipaksa berebut ruang sempit yang tersisa.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Investasi Langit

    Investasi Langit

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Di sinilah menariknya logika spiritual dalam Islam. Dalam ekonomi modern kita mengenal time value of money—nilai uang hari ini lebih tinggi dari nilai uang di masa depan. Tetapi Ramadhan justru mengajarkan konsep yang hampir kebalikannya: time value of amal. Amal kecil yang dilakukan pada waktu yang tepat—misalnya di malam Ramadhan—nilainya bisa melampaui amal besar yang […]

  • Prabowo Kelakar PKB “Harus Diawasi”, Cak Imin: Itu Bercanda

    Prabowo Kelakar PKB “Harus Diawasi”, Cak Imin: Itu Bercanda

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 197
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan soliditas koalisi partai pendukung pemerintah saat menyampaikan taklimat awal tahun 2026 dalam sesi pembuka retret Kabinet Merah Putih di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Selasa (6/1/2026), dikutip nulondalo.com Dalam suasana santai, Prabowo sempat melontarkan kelakar dengan menyebut Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) “harus diawasi terus”. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo […]

  • Pembelajaran Online dan Dinamikanya

    Pembelajaran Online dan Dinamikanya

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Setelah proses tersebut, ruang digital dapat kembali digunakan, tetapi dengan fungsi yang berbeda. Bukan lagi sebagai tempat menerima materi, melainkan sebagai ruang refleksi dan produksi. Peserta dapat menuliskan pemikirannya, merekam pengalaman belajarnya, atau menyebarkan gagasan dalam bentuk konten digital. Dengan cara ini, pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut ke ruang sosial yang lebih […]

  • 25 SPPG di Gorontalo Ditutup Sementara, Wagub Temukan Banyak Belum Penuhi Standar

    25 SPPG di Gorontalo Ditutup Sementara, Wagub Temukan Banyak Belum Penuhi Standar

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Sebagai Ketua Satgas MBG Provinsi Gorontalo, Idah mengusulkan adanya pertemuan bersama pimpinan yayasan, kepala SPPG, serta tenaga ahli gizi. Pertemuan tersebut bertujuan memberikan arahan sekaligus penguatan kapasitas dalam penerapan standar operasional. Langkah ini dinilai penting mengingat dampak penutupan sementara tidak hanya pada layanan pemenuhan gizi, tetapi juga berpengaruh terhadap investasi dan aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk […]

  • Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Refleksi atas Sambutan Menag pada Acara Peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, tampaknya menaruh perhatian yang sangat serius pada gagasan ekoteologi. Dalam berbagai forum resmi Kementerian Agama, beliau secara konsisten memperkenalkan dan mengelaborasi konsep ini. Hampir setiap sambutan selalu membicarakan relasi agama dan lingkungan sebagai tema utama atau tema […]

  • Parkir di Gorontalo Kini Cukup Bayar Sekali Setahun, Ini Tarif Lengkapnya

    Parkir di Gorontalo Kini Cukup Bayar Sekali Setahun, Ini Tarif Lengkapnya

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 202
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo resmi menerapkan program parkir berlangganan sebagai terobosan baru dalam pelayanan perparkiran. Melalui program ini, masyarakat cukup membayar satu kali untuk masa berlaku satu tahun, tanpa perlu lagi mengeluarkan biaya setiap kali memarkir kendaraan di tepi jalan umum. Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Gorontalo, Rahmanto Idji, menjelaskan bahwa kebijakan […]

expand_less