Sa’ad bin Abi Waqqas: Sang Perintis Islam di Negeri China (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #20)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
- visibility 143
- print Cetak

Ilustrasi pertemuan delegasi Muslim yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqas dengan penguasa Dinasti Tang di China, menggambarkan momen awal hubungan diplomatik dan penyebaran Islam melalui jalur perdagangan di Guangzhou.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Delegasi tersebut dikatakan tiba di Guangzhou, sebuah pelabuhan penting di wilayah selatan China yang sejak lama menjadi titik pertemuan pedagang dari berbagai negeri. Di sana Sa’ad dan rombongannya bertemu dengan Kaisar Gaozong dari Dinasti Tang. Kaisar menerima delegasi Muslim dengan baik dan memberikan izin bagi mereka untuk menetap serta menjalankan aktivitas keagamaan. Dalam tradisi lokal, peristiwa ini dipandang sebagai salah satu titik awal kehadiran Islam di China.
Salah satu peninggalan yang sering dikaitkan dengan kedatangan Sa’ad adalah Masjid Huaisheng di Guangzhou. Masjid ini dianggap sebagai salah satu masjid tertua di China. Menurut tradisi Muslim setempat, Sa’ad bin Abi Waqqas ikut berperan dalam pembangunan masjid tersebut sebagai tempat ibadah bagi komunitas Muslim yang mulai terbentuk di kawasan pelabuhan itu. Dari pusat perdagangan seperti Guangzhou, ajaran Islam kemudian menyebar secara perlahan melalui jaringan pedagang Arab dan Persia yang berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Meski demikian, para sejarawan mencatat bahwa riwayat tentang perjalanan Sa’ad ke China lebih banyak berasal dari tradisi sejarah Muslim China daripada sumber biografi sahabat klasik. Kitab-kitab seperti al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah karya Ibnu Hajar al-Asqalani atau Siyar A‘lam al-Nubala karya al-Dzahabi tidak memberikan keterangan rinci mengenai perjalanan tersebut. Sebagian ulama bahkan menyebut bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas wafat di wilayah al-‘Aqiq dekat Madinah sekitar tahun 55 H (674 M). Karena itu, kisah tentang dakwahnya di China sering dipahami sebagai bagian dari tradisi historis yang berkembang di kalangan Muslim China.
Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, nama Sa’ad bin Abi Waqqas tetap memiliki tempat khusus dalam ingatan kolektif umat Islam di China. Di Guangzhou terdapat sebuah kompleks makam yang oleh masyarakat setempat dinisbatkan kepadanya dan menjadi tempat ziarah. Bagi komunitas Muslim di sana, figur Sa’ad melambangkan hubungan awal antara dunia Islam dan peradaban China.
Kisah Sa’ad bin Abi Waqqas menunjukkan bahwa penyebaran Islam pada masa awal tidak selalu berlangsung melalui penaklukan militer. Di banyak wilayah, termasuk China, Islam berkembang melalui jalur perdagangan, diplomasi, dan pertemuan antarperadaban. Jika riwayat tentang kedatangannya ke China benar adanya, maka Sa’ad bukan hanya seorang panglima perang yang berjasa dalam sejarah politik Islam, tetapi juga seorang tokoh yang membuka jalan bagi perjumpaan Islam dengan salah satu peradaban terbesar di dunia.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar