Suhayb ar-Rumi: Hijrah yang Dibayar dengan Seluruh Harta (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #12)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 43
- print Cetak

Ilustrasi suasana hijrah Suhayb ar-Rumi dari Makkah menuju Madinah, menggambarkan keteguhan langkahnya meninggalkan seluruh harta demi mempertahankan iman. Di latar tampak nuansa gurun dan bayangan kota tujuan hijrah, melambangkan pengorbanan, keberanian, dan harapan baru dalam perjalanan sejarah Islam awal.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di antara para sahabat Nabi yang datang dari pinggiran struktur sosial Arab, nama Suhayb bin Sinan atau lebih dikenal dengan nama Suhayb ar-Rumi menempati posisi yang khas. Ia bukan tokoh dari kabilah besar Quraisy yang memiliki perlindungan kuat. Julukan ar-Rumi melekat padanya bukan karena ia berdarah Romawi, melainkan karena masa kecilnya yang panjang di wilayah Bizantium membuatnya fasih berbahasa dan berlogat seperti orang Romawi.
Ia lahir dari keluarga Arab di wilayah Irak sekarang, namun sejak kecil tertawan dan dijual sebagai budak. Dalam banyak riwayat, ia digambarkan berkulit cerah dengan rambut pirang kemerahan (asyqar), ciri yang semakin menguatkan kesan “Romawi” pada dirinya. Bertahun-tahun hidup dalam perbudakan membentuk wataknya: tangguh, sabar, dan terbiasa berdiri tanpa perlindungan kabilah.
Ketika akhirnya ia berhasil melarikan diri dan tiba di Makkah, ia membangun hidupnya dari awal hingga menjadi pedagang yang cukup berhasil. Namun justru pada masa mapan itulah ia bertemu dengan dakwah Nabi. Bersama Ammar ibn Yasir, ia mendatangi Rasulullah secara sembunyi-sembunyi untuk mendengar ajaran Islam di rumah Al-Arqam.
Ia masuk Islam pada masa awal, ketika menjadi Muslim berarti siap menghadapi siksaan dan tekanan keras. Tanpa pelindung kabilah, Suhayb menjadi sasaran Quraisy. Ia disiksa dan diintimidasi, tetapi imannya tidak goyah sedikit pun.
Puncak keteguhan Suhayb tampak saat perintah hijrah ke Madinah turun. Kaum Quraisy menahannya dan berkata bahwa ia tidak boleh pergi membawa hartanya. Ia pun mengambil keputusan besar: menyerahkan seluruh kekayaannya sebagai tebusan agar dapat berhijrah. Ia meninggalkan hasil jerih payah bertahun-tahun demi kebebasan beriman. Ketika ia tiba di Madinah, Nabi menyambutnya dengan kabar gembira tentang keberuntungannya.
Di Madinah, Suhayb menjalani babak hidup yang berbeda dari masa-masa getirnya di Makkah. Jika dahulu ia dikenal sebagai budak yang terasing dan pedagang yang harus mempertahankan diri tanpa perlindungan, di kota hijrah ia tumbuh sebagai bagian utuh dari komunitas beriman. Ia dikenal sebagai pribadi yang dermawan; harta yang pernah ia lepaskan di jalan hijrah tidak membuatnya kikir, justru menjadikannya ringan tangan membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Kesetiaannya kepada Rasulullah tampak dalam keikutsertaannya pada berbagai peristiwa penting, berdiri bersama kaum Muslimin dalam suka dan duka perjuangan.
Kepercayaan besar kepadanya terlihat pada masa menjelang wafatnya Umar ibn al-Khattab. Ketika Umar terluka dan menanti penetapan khalifah berikutnya, Suhayb ditunjuk untuk memimpin salat kaum Muslimin. Amanah ini menunjukkan tanda kedudukan moral dan spiritualnya di tengah masyarakat. Di saat situasi politik berada dalam masa genting, ia berdiri di mihrab, memimpin umat dalam ibadah. Itu adalah kehormatan yang tidak kecil.
Suhayb wafat pada tahun 38 Hijriah dan dimakamkan di Baqi‘. Dari seorang anak tawanan berambut pirang kemerahan yang tumbuh di negeri asing, menjadi sahabat yang mengorbankan seluruh hartanya demi iman, Suhayb ar-Rumi menghadirkan teladan tentang hijrah sebagai pelepasan total—bahwa keuntungan sejati tidak selalu terletak pada apa yang digenggam, melainkan pada apa yang rela dilepaskan karena Allah.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar