Ummu Athiyah, Sang Juru Rawat di Medan Perang (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #8)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 98
- print Cetak

Ilustrasi suasana medan perang pada masa awal Islam yang menggambarkan seorang sahabat perempuan tengah merawat prajurit yang terluka, merefleksikan peran Ummu ‘Athiyah al-Ansariyah sebagai juru rawat dan pendukung logistik dalam berbagai ekspedisi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ummu ‘Athiyah al‑Ansariyah adalah sahabat perempuan dari kalangan Anshar yang hidup dan beraktivitas di Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW. Sumber-sumber klasik mencatat namanya sebagai Nusaibah binti al-Harith, meskipun terdapat variasi penulisan nasabnya di berbagai teks sejarah. Identitasnya sebagai sahabat yang aktif tetap konsisten dalam riwayat yang sampai kepada generasi setelahnya.
Ummu ‘Athiyah ikut terlibat dalam beberapa peperangan bersama Rasulullah SAW dan sahabat lainnya. Riwayat sejarah menyebut dia hadir dalam sejumlah ekspedisi militer setelah hijrah Nabi ke Madinah. Dia menjalankan tugas yang berkaitan dengan dukungan medis dan logistik bagi pasukan.
Dalam narasi sejarah, disebutkan bahwa dia merawat prajurit yang terluka, menyiapkan makanan untuk pasukan, dan memenuhi kebutuhan lain yang diperlukan selama peperangan. Dia mengatur perbekalan, memastikan ketersediaan makanan dan minuman, serta membantu prajurit yang memerlukan perawatan atau bantuan medis. Keterlibatan dia tidak terjadi hanya sekali atau dua kali, tetapi berulang dalam berbagai kesempatan yang tercatat dalam tradisi sejarah, termasuk kampanye besar pada periode hijrah.
Selain peran di medan perang, kontribusi utama Ummu ‘Athiyah tercatat dalam transmisi hadis. Riwayat yang diriwayatkan oleh dia terdapat dalam kitab hadis otoritatif seperti Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, serta koleksi hadis lain yang menghimpun periwayatan sahabat. Jumlah hadis yang diriwayatkan bervariasi menurut metode penghitungan, dan beberapa penelitian menyebut riwayatnya mencapai puluhan hingga lebih dari seratus. Tema hadis yang dia sampaikan meliputi tata cara ibadah, praktik sosial-keagamaan, dan ritual yang menjadi bagian dari kehidupan komunitas Muslim pada masa itu.
Beberapa riwayat yang dia sampaikan berkaitan dengan tata cara memandikan jenazah perempuan, ketentuan masa berkabung (ihdad), dan kehadiran perempuan dalam shalat Id. Salah satu riwayat penting menyebutkan perintah Nabi agar perempuan menghadiri shalat Id, termasuk mereka yang sedang menstruasi. Mereka tidak melaksanakan shalat secara fisik, tetapi tetap hadir untuk menyaksikan dan mendengarkan khutbah. Riwayat semacam ini menjadi acuan dalam kajian fikih mengenai partisipasi perempuan di ruang ibadah publik.
Riwayat yang dia sampaikan tersebar melalui berbagai jalur periwayatan dan dihimpun dalam kitab-kitab hadis oleh periwayat laki-laki maupun perempuan, seperti Anas bin Malik, Muhammad ibn Sirin, Hafshah binti Sirin, Abdul Malik ibn Umair, Isma’il ibn Abdurrahman ibn Atiyah, dan Ummu Sarahil. Jalur periwayatan ini menjamin bahwa narasi dia sampai kepada generasi tabi’in dan ulama klasik.
Peran Ummu ‘Athiyah juga terlihat dalam pengurusan jenazah. Dia dipercaya menangani jenazah putri Nabi ketika wafat, termasuk prosedur memandikan jenazah secara rinci, jumlah siraman air, pemilihan bahan, dan tata cara yang sesuai. Narasi ini menjadi rujukan penting dalam literatur fikih mengenai pengurusan jenazah perempuan dan praktik ritual di masa awal Islam.
Secara keseluruhan, Ummu ‘Athiyah al‑Ansariyah tampil sebagai sosok dengan peran ganda: dia mendukung pasukan secara medis dan logistik dalam peperangan, serta berkontribusi normatif melalui periwayatan hadis.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar