Breaking News
light_mode
Trending Tags

Zakat Salah Catat

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month 17 jam yang lalu
  • visibility 48
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadhan selalu datang dengan dua agenda besar: membersihkan hati dan membersihkan pembukuan. Yang pertama urusan langit, yang kedua sering kali urusan auditor. Di sinilah zakat menemukan relevansinya, bukan hanya sebagai rukun Islam, tetapi juga sebagai “rukun akuntansi sosial”. Sebab, zakat itu jangan sampai salah niat, apalagi salah catat.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, humor bukan untuk menertawakan agama, tetapi untuk menertawakan diri sendiri yang sering merasa paling benar. Seperti kisah ala Gus Dur yang pernah menyindir, “Kalau laporan keuangan masjid lebih tebal dari kitab kuning, itu bukan tanda kemajuan, tapi tanda ada yang rajin fotokopi.” Kita tertawa, tapi diam-diam merenung.

Zakat adalah instrumen distribusi kekayaan. Dalam bahasa fikih, ia ibadah maliyah. Dalam bahasa akuntansi, ia adalah kewajiban yang memiliki basis pengukuran, pengakuan, dan pelaporan. Bayangkan kalau zakat diperlakukan seperti “beban opsional”, dibayar kalau laba sedang bagus, ditunda kalau arus kas seret. Ini bukan sekadar keliru secara syariah, tapi juga keliru secara etika akuntansi.

Dalam konteks modern, lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mengelola dana umat hingga triliunan rupiah. Pertanyaannya sederhana: apakah setiap rupiah sudah dicatat dengan benar? Karena dalam akuntansi, kesalahan pencatatan bukan hanya soal teknis, tapi soal amanah. Debit dan kredit itu seperti malaikat Raqib dan Atid keduanya mencatat, tak pernah salah tulis.

Humor ala NU sering mengajarkan bahwa yang paling berbahaya bukan orang miskin yang tak bayar zakat karena tak mampu, tetapi orang kaya yang merasa sudah bayar zakat padahal belum haul dan belum nisab, tapi sudah merasa seperti investor akhirat. Ia memamerkan bukti transfer seperti memamerkan sertifikat tanah di surga. Padahal bisa jadi yang ia transfer itu masih masuk kategori “sedekah receh”, bukan zakat profesi.

Di sinilah akuntansi berperan. Zakat profesi, zakat perdagangan, zakat pertanian semuanya punya basis penghitungan. Nisabnya jelas, tarifnya jelas. Tapi yang sering tidak jelas adalah niat dan pencatatannya. Banyak entitas usaha yang mengakui zakat sebagai “biaya lain-lain”. Seolah-olah zakat itu gangguan kecil dalam laporan laba rugi. Padahal dalam perspektif maqashid syariah, zakat adalah mekanisme keadilan distributif.

Gus Dur mungkin akan berkata, “Kalau zakat dicatat sebagai beban, jangan-jangan nanti pahala juga diminta amortisasinya.” Kita tertawa lagi. Tapi kritiknya dalam. Akuntansi modern mengenal konsep akuntabilitas dan transparansi. Dalam pengelolaan zakat, dua konsep ini bukan sekadar prinsip tata kelola, melainkan bagian dari ibadah.

Ramadhan adalah momentum audit spiritual. Kita menghitung berapa juz dibaca, berapa rakaat tarawih ditegakkan. Tapi jarang yang menghitung dengan teliti berapa zakat yang benar-benar wajib dikeluarkan. Dalam tradisi pesantren, kiai sering mengingatkan: “Jangan sampai zakatmu lebih kecil dari cicilan motormu.” Ini satire, tapi relevan.

Secara ilmiah, pengelolaan zakat yang baik berdampak pada pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan mustahik. Studi-studi empiris menunjukkan bahwa tata kelola zakat yang transparan meningkatkan kepercayaan publik. Ketika laporan keuangan disusun sesuai standar akuntansi syariah, maka legitimasi lembaga meningkat. Kepercayaan itu seperti saldo kas—sekali bocor, sulit kembali utuh.

Namun ada paradoks. Di satu sisi, kita ingin zakat dikelola profesional. Di sisi lain, kita masih alergi pada audit. Seolah-olah audit itu tanda tidak percaya. Padahal dalam akuntansi, audit adalah bentuk cinta yang paling rasional. Ia memastikan bahwa amanah tidak berubah menjadi manipulasi.

Humor ala NU mengajarkan keseimbangan antara teks dan konteks. Zakat bukan hanya angka 2,5 persen, tetapi komitmen sosial. Akuntansi bukan hanya soal PSAK dan jurnal umum, tetapi soal moralitas pencatatan. Jangan sampai kita rajin mengoreksi laporan mahasiswa, tapi lupa mengoreksi laporan harta sendiri.

Ramadhan mengajarkan disiplin. Sahur ada waktunya, berbuka ada waktunya. Zakat pun ada nisab dan haulnya. Jika waktu saja kita patuhi, mengapa angka kita abaikan? Jangan sampai kita fasih membaca doa qunut, tetapi gagap membaca laporan arus kas.

Akhirnya, Zakat bukan sekadar rukun Islam. Ia adalah pengingat bahwa ibadah dan akuntansi bertemu pada satu titik: kejujuran. Dalam bahasa pesantren, sidq. Dalam bahasa auditor, fair presentation. Dalam bahasa Gus Dur, “Yang penting jangan bohong, karena Tuhan itu tidak bisa diaudit, tapi kita pasti diaudit.”

Maka, mari jadikan Ramadhan bukan hanya bulan diskon dosa, tetapi juga bulan rekonsiliasi laporan harta. Hitung dengan benar, niatkan dengan lurus, catat dengan jujur. Karena zakat yang salah catat bukan hanya berisiko pada opini auditor, tetapi juga pada opini akhirat. Dan di sana, tidak ada toleransi salah jurnal.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Dosa Akuntansi ke Selera Politik

    Dari Dosa Akuntansi ke Selera Politik

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Di negeri ini, fraud dan kriminalisasi sering kali seperti dua santri yang duduk satu bangku: kelihatannya berbeda kitab, tapi ujian akhirnya sama-sama bikin deg-degan. Fraud yang awalnya dosa akuntansi, lama-lama naik kelas menjadi dosa pidana. Sementara kriminalisasi, yang mestinya urusan hukum, kadang terasa seperti urusan selera politik. Maka jangan heran, jabatan publik kini sering dipersepsikan […]

  • DPW PKB Gorontalo Resmikan Kantor Baru, Simbol Semangat dan Marwah Partai

    DPW PKB Gorontalo Resmikan Kantor Baru, Simbol Semangat dan Marwah Partai

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo resmi memiliki kantor baru yang berlokasi di Jalan KH. Adam Zakaria, Kota Gorontalo, setelah diresmikan langsung oleh Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh, pada Selasa (12/8/2025). Ketua DPW PKB Gorontalo, Muhammad Dzikyan atau yang akrab disapa Gus Yayan, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Nihayah […]

  • Gus Aniq Kisahkan Sejarah Lahirnya NU yang Terinspirasi dari Kisah Nabi Musa AS Play Button

    Gus Aniq Kisahkan Sejarah Lahirnya NU yang Terinspirasi dari Kisah Nabi Musa AS

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 156
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di hadapan para Alumni PMII se-Gorontalo, Wakapolres Pohuwato, dan kader organisasi lainnya, KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA atau Gus Aniq membuka ceramahnya dengan satu kisah yang jarang disinggung dalam diskursus keislaman kontemporer, yakni lahirnya Nahdlatul Ulama yang terinspirasi melalui kisah Nabi Musa AS. Kisah ini, menurutnya, bukan dongeng spiritual belaka, melainkan fondasi filosofis […]

  • Jangan Pintar Scroll, Tapi Bodoh Mikir

    Jangan Pintar Scroll, Tapi Bodoh Mikir

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Gus Dur pernah berseloroh, “Kalau kamu tidak bisa menjadi orang pintar, jadilah orang yang berguna.” Di era digital hari ini, kalimat itu perlu sedikit dimodifikasi: kalau kamu sudah punya internet cepat, jangan malah mikirnya lambat. Mahasiswa zaman sekarang itu hebat. Jempolnya lincah, notifikasinya ramai, memorinya penuh—meski sering penuh oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. Dalam […]

  • Ketua CMMI Gorontalo: Ketua BKAD Popayato Sampaikan Informasi Hoax Terkait Status Badan Hukum Bumdesma

    Ketua CMMI Gorontalo: Ketua BKAD Popayato Sampaikan Informasi Hoax Terkait Status Badan Hukum Bumdesma

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Ketua Cendekia Muda Muslim Indonesia (CMMI) Provinsi Gorontalo, Amar, menyoroti pernyataan Ketua Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kecamatan Popayato yang dinilai telah menyampaikan informasi tidak benar (hoax) dalam Musyawarah Antar Desa (MAD) pada hari ini ,  minggu (19/10/2025). Dalam forum tersebut, Ketua BKAD disebut menyampaikan bahwa Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) Kecamatan Popayato telah […]

  • Ricuh Usai Laga Liga 4, Suporter PSIR Rembang Kejar Wasit

    Ricuh Usai Laga Liga 4, Suporter PSIR Rembang Kejar Wasit

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 49
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pertandingan Liga 4 antara PSIR Rembang melawan Persak Kebumen berujung ricuh usai peluit panjang dibunyikan, Jumat (13/2/2026). Laga yang dimenangi Persak Kebumen dengan skor 0-2 itu diwarnai aksi sejumlah suporter tuan rumah yang masuk ke dalam lapangan dan mengejar wasit. Insiden tersebut terjadi sesaat setelah pertandingan berakhir. Berdasarkan informasi yang beredar di media […]

expand_less