Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Map Is Not Territory

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
  • visibility 178
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Pepy Albayqunie (Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

Dalam kegiatan orientasi atau pelatihan Moderasi Beragama, ada satu latihan sederhana yang sering memantik diskusi selanjutnya. Peserta diminta menggambar denah perjalanan dari rumah menuju lokasi pelatihan. Tidak perlu akurat, tidak perlu artistik—cukup versi mereka sendiri. Setelah itu, denah-denah tersebut dipertukarkan. Peserta lain diminta menjawab satu pertanyaan krusial: “Apakah kamu yakin bisa sampai ke alamat tujuan hanya bermodal peta ini?”

Jawabannya hampir selalu sama: ragu. Bahkan ketika alamat yang dituju identik, peta yang dihasilkan nyaris tak pernah serupa. Ada yang menekankan masjid sebagai penanda, ada yang mengandalkan belokan dan jarak, ada yang menuliskan “warung kopi dekat pohon besar” sebagai koordinat penting. Di sinilah sebuah teori klasik menjadi sangat relevan: map is not the territory.

Ungkapan map is not the territory pertama kali dipopulerkan oleh Alfred Korzybski. Intinya sederhana namun radikal: representasi realitas bukanlah realitas itu sendiri. Peta membantu kita memahami wilayah, tetapi ia selalu selektif, disederhanakan, dan dipengaruhi oleh sudut pandang pembuatnya.

Dalam konteks pelatihan Moderasi Beragama, peta perjalanan itu adalah metafora dari cara kita memandang dunia, agama, identitas, dan “yang lain”. Apa yang kita gambar bukanlah dunia sebagaimana adanya, melainkan dunia sebagaimana kita pahami.

Latihan peta tadi mengajak peserta menyentuh dua lapis realitas: realitas eksternal dan realitas internal.

Realitas eksternal adalah dunia di luar sana—jalan yang sama, bangunan yang sama, rute yang sama. Tetapi ketika realitas itu masuk ke dalam diri manusia, ia disaring oleh realitas internal.

Realitas internal adalah ruang penyimpanan data yang bekerja melalui tanda dan bahasa. Di dalamnya bercampur nilai, keyakinan, pengalaman masa lalu, asumsi, emosi, serta mental model. Dua orang melewati jalan yang sama, tetapi menyimpan ingatan dan makna yang berbeda. Bagi satu orang, masjid adalah orientasi utama; bagi yang lain, pasar atau lampu merah lebih bermakna.

Ladder of Inference: Dari Pengalaman ke Keyakinan

Chris Argyris membantu kita memahami bagaimana manusia berpikir dan mengambil keputusan melalui konsep Ladder of Inference, atau tangga inferensi. Tangga ini menjelaskan bagaimana kita bergerak dari realitas yang nyata menuju kesimpulan, sering kali tanpa disadari.

Prosesnya dimulai dengan data dan pengalaman mentah, yaitu apa yang benar-benar terjadi. Dari sekian banyak data, kita melakukan seleksi, memilih informasi yang dianggap penting dan mengabaikan sisanya. Setelah itu, kita memberi makna pada data yang terpilih, berdasarkan bahasa, budaya, dan pengalaman pribadi.

Langkah berikutnya adalah membangun asumsi dari makna yang kita tetapkan, kemudian merumuskan kesimpulan dan keyakinan yang mendasari cara kita memandang dunia. Akhirnya, semua itu memengaruhi tindakan yang kita anggap paling tepat.

Dengan memahami tangga ini, kita bisa menyadari bahwa tindakan dan keyakinan kita bukan sekadar respons langsung terhadap realitas, melainkan hasil interpretasi berlapis yang dibentuk oleh pengalaman, pilihan, dan asumsi kita.

Saat peserta pelatihan diminta menggambar peta perjalanan dari rumah ke lokasi acara, mereka sebenarnya sedang menaiki tangga inferensi Chris Argyris—meski tidak menyadarinya. Langkah pertama dimulai dengan data mentah: jalanan yang mereka lalui, belokan yang mereka ingat, gedung atau pohon yang mereka anggap penting. Semua itu adalah realitas eksternal yang mereka alami.

Dari data mentah itu, peserta melakukan seleksi. Tidak semua jalan, lampu lalu lintas, atau detail kecil dicatat; mereka memilih apa yang menurut mereka relevan. Lalu, setiap elemen yang terpilih diberi makna, dipahami melalui pengalaman, budaya, dan bahasa masing-masing. Sebuah masjid bisa menjadi landmark penting bagi satu peserta, sedangkan warung kopi atau pasar lebih bermakna bagi peserta lain.

Berdasarkan makna itu, terbentuk asumsi: “Kalau aku belok di sini, pasti sampai,” atau “Kalau melewati gedung ini, jalannya benar.” Asumsi ini kemudian membuahkan kesimpulan dan keyakinan, seolah peserta yakin bahwa peta yang mereka buat akan membawa siapa pun ke tujuan dengan benar. Akhirnya, langkah terakhir adalah tindakan—dalam konteks latihan ini, berupa percaya pada peta atau mencoba menggunakannya untuk sampai ke alamat.

Latihan sederhana ini menunjukkan bahwa setiap peta yang dibuat hanyalah refleksi interpretasi individu, hasil pengalaman, seleksi, dan asumsi. Sama seperti dalam moderasi beragama, perbedaan peta bukanlah kesalahan; perbedaan itu menandakan bahwa tiap individu memiliki tangga inferensi sendiri. Memahami proses ini membantu peserta menyadari bahwa realitas bukan hanya apa yang terlihat di luar, tapi juga bagaimana kita menafsirkannya—dan dari interpretasi itulah tindakan kita lahir.

Pengalaman dan Interpretasi sebagai Kunci

Di sinilah pengalaman dan interpretasi muncul sebagai koentji utama. Semakin kaya pengalaman seseorang, semakin banyak referensi yang dimilikinya untuk membaca realitas, semakin fleksibel pula ia dalam memahami dunia. Namun pengalaman semata tidak cukup. Pengalaman harus disertai kesadaran interpretatif—kemampuan untuk menyadari bahwa apa yang kita tangkap hanyalah satu peta di antara sekian banyak peta lain yang mungkin ada. Tanpa kesadaran ini, pengalaman berisiko menjadi alat untuk menguatkan asumsi sendiri, bukan untuk memperluas pemahaman.

Latihan sederhana menggambar denah perjalanan menjadi refleksi yang sangat relevan. Jika untuk urusan sepele seperti mencari alamat kita bisa berbeda, bingung, bahkan ragu-ragu, mengapa kita begitu yakin bahwa pemahaman keagamaan kita sepenuhnya mewakili “wilayah” yang sesungguhnya? Latihan ini mengajarkan bahwa moderasi bukan sekadar menahan diri dari konflik, tetapi mampu melihat peta orang lain, menguji asumsi sendiri, dan bergerak dengan kesadaran bahwa peta kita selalu parsial dan sementara. Dengan kata lain, moderasi beragama adalah seni menavigasi keragaman peta tanpa kehilangan arah, sambil tetap terbuka untuk belajar dari pengalaman orang lain.

Dalam perspektif ini, Moderasi Beragama bukan untuk menyeragamkan peta, apalagi menghapus peta orang lain. Moderasi berarti menyadari keterbatasan peta kita sendiri, memberi ruang bagi peta orang lain, dan bersedia meninjau ulang tangga inferensi yang selama ini kita naiki secara otomatis.

Semua peta layak dipahami sebelum dinilai. Dengan pendekatan ini, moderasi bergerak dari sekadar slogan menjadi praktik reflektif: menunda penghakiman, memperkaya pengalaman, dan memelihara kesadaran interpretatif yang kritis.

Pada akhirnya, peta memang bukan wilayah. Namun tanpa peta, kita mudah tersesat. Tantangannya bukan memilih satu peta untuk semua orang, melainkan belajar membaca banyak peta sekaligus—dengan rendah hati, terbuka, dan sadar bahwa realitas selalu lebih luas daripada yang bisa digambarkan oleh setiap peta individu.

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GP Ansor Sulsel Tegaskan Satu Komando Pimpinan Pusat Soal Kasus Kuota Haji

    GP Ansor Sulsel Tegaskan Satu Komando Pimpinan Pusat Soal Kasus Kuota Haji

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 263
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Makassar – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan resmi merilis pernyataan sikap terkait polemik dugaan penyimpangan kuota haji yang menyeret nama mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut). Ketua GP Ansor Sulsel, Muhammad Ridwan Yusuf, menegaskan bahwa seluruh kader di daerah tetap berada dalam satu komando yang solid. Ia menyatakan bahwa GP […]

  • Mojtaba Khamenei Ditunjuk Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Gantikan Ayahnya di Tengah Konflik Timur Tengah

    Mojtaba Khamenei Ditunjuk Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Gantikan Ayahnya di Tengah Konflik Timur Tengah

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 301
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Iran resmi menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran, menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang dilaporkan meninggal dunia setelah serangan militer yang terjadi di tengah eskalasi konflik kawasan Timur Tengah. Keputusan tersebut diumumkan oleh Majelis Ahli Iran pada Minggu, 8 Maret 2026. Lembaga yang berwenang memilih pemimpin […]

  • PCNU Pohuwato Ingatkan PT Pani Gold Project, PWNU Gorontalo Siap Kawal dengan Kajian yang Matang

    PCNU Pohuwato Ingatkan PT Pani Gold Project, PWNU Gorontalo Siap Kawal dengan Kajian yang Matang

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 161
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gelombang sorotan terhadap aktivitas perusahaan tambang PT Pani Gold Project kembali menguat setelah berbagai kelompok masyarakat dan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di Kabupaten Pohuwato. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pohuwato ikut angkat suara. Melalui Sekretarisnya, Risman Ibrahim, PCNU menegaskan bahwa perusahaan tambang harus menyadari posisinya sebagai “tamu” di tanah Pohuwato dan wajib […]

  • Polemik Rekomendasi KPK: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol dan Tarik-Menarik Otonomi vs Reformasi

    Polemik Rekomendasi KPK: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol dan Tarik-Menarik Otonomi vs Reformasi

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 276
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Rekomendasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam laporan tahunan 2025 yang mendorong pembatasan masa jabatan ketua umum partai politik maksimal dua periode memicu perdebatan luas. Isu ini bukan sekadar teknis organisasi, tetapi menyentuh jantung relasi antara negara, partai politik, dan kualitas demokrasi di Indonesia. Di satu sisi, KPK melihat tata kelola partai sebagai salah […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Wahyudin A. Katili membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Kajian dan Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring”, Selasa (4/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah peneliti, di antaranya Zulham Sirajudin, Ph.D, Ferdiansyah Hasan, SP, M.Si, Ivana Butolo, SE, MP, serta Gema Putra Baculu, ST, M.PA. Turut diundang pula Staf […]

  • Vatikan Tolak Bergabung dalam Board of Peace, Berbeda Sikap dengan Indonesia

    Vatikan Tolak Bergabung dalam Board of Peace, Berbeda Sikap dengan Indonesia

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 216
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Vatikan secara resmi menolak tawaran untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) guna menjaga netralitas diplomatik Takhta Suci di tengah berbagai konflik global yang sedang berlangsung. Keputusan ini menandai perbedaan sikap yang cukup mencolok dengan Indonesia yang sebelumnya telah menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi aktif dalam inisiatif tersebut. Penolakan itu ditegaskan melalui pernyataan resmi […]

expand_less