Map Is Not Territory
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month Minggu, 14 Des 2025
- visibility 95
- print Cetak

Pepy al-Bayqunie/Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : Pepy Albayqunie (Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)
Dalam kegiatan orientasi atau pelatihan Moderasi Beragama, ada satu latihan sederhana yang sering memantik diskusi selanjutnya. Peserta diminta menggambar denah perjalanan dari rumah menuju lokasi pelatihan. Tidak perlu akurat, tidak perlu artistik—cukup versi mereka sendiri. Setelah itu, denah-denah tersebut dipertukarkan. Peserta lain diminta menjawab satu pertanyaan krusial: “Apakah kamu yakin bisa sampai ke alamat tujuan hanya bermodal peta ini?”
Jawabannya hampir selalu sama: ragu. Bahkan ketika alamat yang dituju identik, peta yang dihasilkan nyaris tak pernah serupa. Ada yang menekankan masjid sebagai penanda, ada yang mengandalkan belokan dan jarak, ada yang menuliskan “warung kopi dekat pohon besar” sebagai koordinat penting. Di sinilah sebuah teori klasik menjadi sangat relevan: map is not the territory.
Ungkapan map is not the territory pertama kali dipopulerkan oleh Alfred Korzybski. Intinya sederhana namun radikal: representasi realitas bukanlah realitas itu sendiri. Peta membantu kita memahami wilayah, tetapi ia selalu selektif, disederhanakan, dan dipengaruhi oleh sudut pandang pembuatnya.
Dalam konteks pelatihan Moderasi Beragama, peta perjalanan itu adalah metafora dari cara kita memandang dunia, agama, identitas, dan “yang lain”. Apa yang kita gambar bukanlah dunia sebagaimana adanya, melainkan dunia sebagaimana kita pahami.
Latihan peta tadi mengajak peserta menyentuh dua lapis realitas: realitas eksternal dan realitas internal.
Realitas eksternal adalah dunia di luar sana—jalan yang sama, bangunan yang sama, rute yang sama. Tetapi ketika realitas itu masuk ke dalam diri manusia, ia disaring oleh realitas internal.
Realitas internal adalah ruang penyimpanan data yang bekerja melalui tanda dan bahasa. Di dalamnya bercampur nilai, keyakinan, pengalaman masa lalu, asumsi, emosi, serta mental model. Dua orang melewati jalan yang sama, tetapi menyimpan ingatan dan makna yang berbeda. Bagi satu orang, masjid adalah orientasi utama; bagi yang lain, pasar atau lampu merah lebih bermakna.
Ladder of Inference: Dari Pengalaman ke Keyakinan
Chris Argyris membantu kita memahami bagaimana manusia berpikir dan mengambil keputusan melalui konsep Ladder of Inference, atau tangga inferensi. Tangga ini menjelaskan bagaimana kita bergerak dari realitas yang nyata menuju kesimpulan, sering kali tanpa disadari.
Prosesnya dimulai dengan data dan pengalaman mentah, yaitu apa yang benar-benar terjadi. Dari sekian banyak data, kita melakukan seleksi, memilih informasi yang dianggap penting dan mengabaikan sisanya. Setelah itu, kita memberi makna pada data yang terpilih, berdasarkan bahasa, budaya, dan pengalaman pribadi.
Langkah berikutnya adalah membangun asumsi dari makna yang kita tetapkan, kemudian merumuskan kesimpulan dan keyakinan yang mendasari cara kita memandang dunia. Akhirnya, semua itu memengaruhi tindakan yang kita anggap paling tepat.
Dengan memahami tangga ini, kita bisa menyadari bahwa tindakan dan keyakinan kita bukan sekadar respons langsung terhadap realitas, melainkan hasil interpretasi berlapis yang dibentuk oleh pengalaman, pilihan, dan asumsi kita.
Saat peserta pelatihan diminta menggambar peta perjalanan dari rumah ke lokasi acara, mereka sebenarnya sedang menaiki tangga inferensi Chris Argyris—meski tidak menyadarinya. Langkah pertama dimulai dengan data mentah: jalanan yang mereka lalui, belokan yang mereka ingat, gedung atau pohon yang mereka anggap penting. Semua itu adalah realitas eksternal yang mereka alami.
Dari data mentah itu, peserta melakukan seleksi. Tidak semua jalan, lampu lalu lintas, atau detail kecil dicatat; mereka memilih apa yang menurut mereka relevan. Lalu, setiap elemen yang terpilih diberi makna, dipahami melalui pengalaman, budaya, dan bahasa masing-masing. Sebuah masjid bisa menjadi landmark penting bagi satu peserta, sedangkan warung kopi atau pasar lebih bermakna bagi peserta lain.
Berdasarkan makna itu, terbentuk asumsi: “Kalau aku belok di sini, pasti sampai,” atau “Kalau melewati gedung ini, jalannya benar.” Asumsi ini kemudian membuahkan kesimpulan dan keyakinan, seolah peserta yakin bahwa peta yang mereka buat akan membawa siapa pun ke tujuan dengan benar. Akhirnya, langkah terakhir adalah tindakan—dalam konteks latihan ini, berupa percaya pada peta atau mencoba menggunakannya untuk sampai ke alamat.
Latihan sederhana ini menunjukkan bahwa setiap peta yang dibuat hanyalah refleksi interpretasi individu, hasil pengalaman, seleksi, dan asumsi. Sama seperti dalam moderasi beragama, perbedaan peta bukanlah kesalahan; perbedaan itu menandakan bahwa tiap individu memiliki tangga inferensi sendiri. Memahami proses ini membantu peserta menyadari bahwa realitas bukan hanya apa yang terlihat di luar, tapi juga bagaimana kita menafsirkannya—dan dari interpretasi itulah tindakan kita lahir.
Pengalaman dan Interpretasi sebagai Kunci
Di sinilah pengalaman dan interpretasi muncul sebagai koentji utama. Semakin kaya pengalaman seseorang, semakin banyak referensi yang dimilikinya untuk membaca realitas, semakin fleksibel pula ia dalam memahami dunia. Namun pengalaman semata tidak cukup. Pengalaman harus disertai kesadaran interpretatif—kemampuan untuk menyadari bahwa apa yang kita tangkap hanyalah satu peta di antara sekian banyak peta lain yang mungkin ada. Tanpa kesadaran ini, pengalaman berisiko menjadi alat untuk menguatkan asumsi sendiri, bukan untuk memperluas pemahaman.
Latihan sederhana menggambar denah perjalanan menjadi refleksi yang sangat relevan. Jika untuk urusan sepele seperti mencari alamat kita bisa berbeda, bingung, bahkan ragu-ragu, mengapa kita begitu yakin bahwa pemahaman keagamaan kita sepenuhnya mewakili “wilayah” yang sesungguhnya? Latihan ini mengajarkan bahwa moderasi bukan sekadar menahan diri dari konflik, tetapi mampu melihat peta orang lain, menguji asumsi sendiri, dan bergerak dengan kesadaran bahwa peta kita selalu parsial dan sementara. Dengan kata lain, moderasi beragama adalah seni menavigasi keragaman peta tanpa kehilangan arah, sambil tetap terbuka untuk belajar dari pengalaman orang lain.
Dalam perspektif ini, Moderasi Beragama bukan untuk menyeragamkan peta, apalagi menghapus peta orang lain. Moderasi berarti menyadari keterbatasan peta kita sendiri, memberi ruang bagi peta orang lain, dan bersedia meninjau ulang tangga inferensi yang selama ini kita naiki secara otomatis.
Semua peta layak dipahami sebelum dinilai. Dengan pendekatan ini, moderasi bergerak dari sekadar slogan menjadi praktik reflektif: menunda penghakiman, memperkaya pengalaman, dan memelihara kesadaran interpretatif yang kritis.
Pada akhirnya, peta memang bukan wilayah. Namun tanpa peta, kita mudah tersesat. Tantangannya bukan memilih satu peta untuk semua orang, melainkan belajar membaca banyak peta sekaligus—dengan rendah hati, terbuka, dan sadar bahwa realitas selalu lebih luas daripada yang bisa digambarkan oleh setiap peta individu.
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar