nulondalo.com – Rais Syuriyah PCNU Bone Bolango sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bone Bolango, KH. Helmi Podungge atau Guru Helmi, menyampaikan pengajian bertema Keutamaan Bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pengajian tersebut menegaskan bahwa shalawat bukan sekadar amalan lisan, melainkan jalan keselamatan dan keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam pengajiannya, Guru Helmi menekankan bahwa satu shalawat yang diucapkan dengan ikhlas akan dibalas oleh Allah SWT dengan sepuluh rahmat. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam berbagai hadis sahih tentang keutamaan bershalawat kepada Rasulullah SAW.
“Barang siapa bershalawat kepada Nabi satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Artinya, Allah melimpahkan rahmat, mengangkat derajat, dan menghapus dosa-dosanya,” ujar Guru Helmi.
Shalawat sebagai Pengangkat Doa
Guru Helmi menjelaskan, shalawat memiliki kedudukan istimewa dalam ibadah seorang muslim. Bahkan, shalawat menjadi sebab diangkatnya doa kepada Allah SWT. Doa yang diawali dan diakhiri dengan shalawat, menurut para ulama, lebih mudah dikabulkan.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak melupakan shalawat, terutama ketika berdoa, dalam majelis ilmu, maupun saat mendengar nama Rasulullah SAW disebutkan.
“Ketika nama Nabi disebut lalu kita tidak bershalawat, itu tanda kelalaian. Padahal shalawat adalah bentuk cinta dan penghormatan kita kepada Rasulullah,” tuturnya.
Dalam pengajian tersebut, Guru Helmi juga mengutip sejumlah riwayat yang menjelaskan bahwa orang yang memperbanyak shalawat akan mendapatkan syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat. Shalawat, kata dia, menjadi penghubung batin antara umat dan Nabi Muhammad SAW.
Ia menambahkan, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan memperbanyak shalawat serta mengikuti ajaran dan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi NU dan Kearifan Lokal
Menurut Guru Helmi, tradisi bershalawat yang hidup di tengah masyarakat Nahdlatul Ulama, termasuk di Gorontalo, merupakan warisan ulama yang harus dijaga. Shalawat tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi sarana menenangkan hati, memperkuat iman, dan mempererat persaudaraan umat.
“Shalawat itu ringan di lisan, tapi besar pahalanya. Jangan kita tinggalkan amalan ini, apalagi di tengah kehidupan yang penuh ujian seperti sekarang,” pesannya.
Menutup pengajiannya, Guru Helmi Podungge mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan shalawat sebagai amalan harian. Ia berharap umat Islam senantiasa menghidupkan shalawat di rumah, masjid, dan majelis-majelis ilmu.
“Insyaallah, dengan memperbanyak shalawat, hidup kita akan lebih tenang, dosa diampuni, derajat diangkat, dan kelak kita mendapat syafaat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” pungkasnya.
Pengajian ini menjadi pengingat bahwa shalawat bukan hanya tradisi, tetapi kebutuhan ruhani umat Islam dalam menjaga hubungan dengan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Sumber : (2) Kiai Live : Keutamaan Bersholawat Kepada Nabi – KH. Helmi Podungge – YouTube
Saat ini belum ada komentar