Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Karomah Palsu

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
  • visibility 334
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak pengajian NU, sering kita dengar nasihat klasik: “Nandur pari ojo ngarep panen jagung.” Menanam padi jangan berharap panen jagung. Sayangnya, dalam dunia investasi bodong, pepatah ini dibalik: modal ditanam sedikit, yang dijanjikan panen raya, bahkan sebelum subuh.

Investasi bodong adalah fenomena ekonomi yang aneh tapi nyata. Ia bukan sekadar persoalan keuangan, melainkan gabungan antara keserakahan, keputusasaan, dan kepolosan massal yang dibungkus presentasi PowerPoint dan testimoni berfoto di depan mobil sewaan. Secara ilmiah, ini dikenal sebagai skema Ponzi, di mana keuntungan investor lama dibayar dari uang investor baru. Tidak ada usaha produktif, hanya perpindahan uang yang disertai doa agar korban berikutnya datang tepat waktu.

Kalau Gus Dur masih hidup, mungkin beliau akan berkata, “Ini bukan investasi, ini arisan nasional, bedanya, yang terakhir setor malah paling rugi.”

Kasus internasional seperti Bernie Madoff menunjukkan bahwa investasi bodong bukan penyakit orang miskin saja. Madoff menipu investor global hingga puluhan miliar dolar. Ironisnya, para korban adalah orang-orang berpendidikan tinggi. Ini membuktikan satu hal: IQ tinggi tidak otomatis kebal dari iming-iming untung besar.

Di Indonesia, kasus First Travel, Pandawa Group, hingga MeMiles adalah contoh lokal dari fenomena global. Polanya mirip: janji keuntungan tetap, narasi religius atau nasionalis, dan kalimat sakti: “Ini aman, sudah banyak yang dapat.” Dalam logika NU, ini mirip cerita karomah palsu: ramai diceritakan, tapi tak pernah jelas sanadnya.

Humor ala pesantren akan nyeletuk: “Kalau benar untungnya segitu, kenapa pemiliknya masih sempat ngajak orang lain?”

Dalam perspektif fiqh muamalah NU, investasi bodong bermasalah sejak niat. Akadnya tidak jelas, risikonya disembunyikan, dan keuntungannya dipastikan. Ini melanggar prinsip gharar (ketidakpastian berlebihan) dan dharar (menimbulkan kerugian). Singkatnya: ini bukan bisnis, ini jebakan yang rapi.

Gus Dur pernah menyindir logika semacam ini dengan gaya santainya: “Kalau rezeki bisa dipastikan, nabi-nabi sudah bikin koperasi.” Maka ketika sebuah investasi menjanjikan keuntungan pasti 20–30% per bulan, sebenarnya ia sedang menampar wajah ekonomi modern dan akal sehat sekaligus.

Di era digital, investasi bodong tidak lagi datang lewat brosur lusuh, melainkan lewat aplikasi canggih, akun Instagram kinclong, dan grup WhatsApp bernama ‘Komunitas Cuan Berkah’. Modus pig-butchering scam berkembang: pelaku membangun kepercayaan emosional, lalu menawarkan investasi palsu.

Ini seperti pengajian tanpa kitab: ramai, semangat, tapi isinya kosong. NU punya istilah pas: rame ing gawe, sepi ing isi. Yang ramai hanya notifikasi, yang sepi adalah saldo.

Humor Gus Dur relevan di sini: “Sekarang setan tidak lagi menunggu di perempatan, tapi di notifikasi HP.”

Pertama, literasi keuangan rendah. Kedua, ketimpangan ekonomi membuat orang tergoda jalan pintas. Ketiga, otoritas simbolik: pelaku sering memakai atribut agama, gelar, atau foto bersama tokoh. Dalam kultur NU, ini berbahaya karena kepercayaan sosial diperdagangkan.

Padahal dalam tradisi NU, kepercayaan itu amanah, bukan aset untuk dikapitalisasi. Menipu dengan dalih agama bukan hanya kejahatan ekonomi, tapi kejahatan moral.

Investasi bodong bukan sekadar urusan uang, tapi ujian akal sehat kolektif. NU mengajarkan sikap tawassuth (moderat): berani berusaha, tapi tidak rakus. Gus Dur mengajarkan humor sebagai senjata kritik: tertawa agar tidak tertipu.

Maka, jika ada yang menawarkan investasi dengan janji “cuan pasti”, ingat pesan Gus Dur versi ekonomi: “Kalau hidup bisa instan, santri tak perlu ngaji bertahun-tahun.”

Dan seperti pesan kiai di kampung: rezeki itu berkah kalau jelas asal-usulnya. Kalau tidak jelas, biasanya cuma jelas satu hal: yang kaya pelakunya, yang capek korbannya.

Penulis : Intelektual Muda NU Indonesia Timur dan Akademisi UNUSIA Jakarta

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Sejumlah intelektual muda di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) menyerukan agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) segera mengembalikan konsesi tambang yang diberikan pemerintah kepada organisasi. Mereka menilai bahwa kepemilikan dan pengelolaan tambang oleh ormas keagamaan seperti NU berisiko merusak marwah NU sebagai jam’iyah, dan dapat membawa mudharat yang jauh lebih besar dibanding manfaatnya, Minggu(7/12/2025). Salah satu […]

  • Tabrakan Maut di Pringsurat Temanggung, Diduga Sopir Mengantuk, 1 Tewas dan 4 Luka

    Tabrakan Maut di Pringsurat Temanggung, Diduga Sopir Mengantuk, 1 Tewas dan 4 Luka

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 482
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Raya Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pada Kamis (26/3/2026). Insiden tabrakan frontal (head-on) ini melibatkan dua mobil dari arah berlawanan dan mengakibatkan satu orang meninggal dunia serta empat lainnya mengalami luka-luka. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kecelakaan diduga dipicu oleh pengemudi mobil berwarna hitam jenis Isuzu Panther yang […]

  • DPRD Tambrauw Tegas Tolak PSN Sawit, Dinilai Abaikan Hak Masyarakat Adat

    DPRD Tambrauw Tegas Tolak PSN Sawit, Dinilai Abaikan Hak Masyarakat Adat

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 372
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya, secara tegas menolak kehadiran Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui investasi perkebunan kelapa sawit di wilayah Tanah Papua. Penolakan tersebut disampaikan Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Tambrauw, Frengky F. Gifelem, kepada wartawan di Sorong, Rabu (21/1/2026). Ia menegaskan bahwa baik secara pribadi maupun […]

  • Aktivisme atau fanatisme sebagai Marabahaya Monopoli Sejarah

    Aktivisme atau fanatisme sebagai Marabahaya Monopoli Sejarah

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Setiap zaman memiliki aktivisnya sendiri. Namun dalam ruang publik Indonesia, sering muncul kecenderungan untuk menempatkan aktivisme seolah-olah identik dengan generasi atau figur tertentu, terutama mereka yang terlibat dalam Reformasi 1998. Nama-nama itu terus dihadirkan sebagai simbol perubahan, sementara pengalaman generasi setelahnya sering dipandang kurang otentik, kurang heroik, atau bahkan dianggap tidak memiliki legitimasi historis yang […]

  • Sejalan dengan Prabowo, DPR Tekankan Reformasi Polri Fokus Bersihkan Internal dan Perkuat Propam

    Sejalan dengan Prabowo, DPR Tekankan Reformasi Polri Fokus Bersihkan Internal dan Perkuat Propam

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 151
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi III DPR RI menegaskan bahwa reformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) harus diarahkan pada penguatan pengawasan internal dan perubahan kultur organisasi, bukan sekadar perombakan struktur. Penegasan ini dinilai sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menuntut Polri menjadi institusi yang bersih, tangguh, dan berpihak pada rakyat kecil. Melalui Panitia Kerja (Panja) Reformasi […]

  • Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

    Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 332
    • 0Komentar

    Kira-kira pertama kali saya mendengar nama Ahmadiyah, itu sekitar tahun 1994 ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Limboto. Salah seorang guru saya menjelaskan tentang teologi pemikiran Islam. Guru  saya lulusan IAIN Alauddin Makassar jurusan aqidah filsafat. Disela-sela ia menjelaskan  tentang pemikiran Islam, ia menyentil soal Ahmadiyah , selain Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Syi’ah dan Sunni.  […]

expand_less