Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tarawih Tanpa Manipulasi

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 30
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadhan selalu menghadirkan fenomena tahunan yang menarik untuk diamati dengan kacamata akuntansi: masjid penuh, saf rapat, parkir meluber, dan sandal kadang tertukar sebuah metafora kecil tentang risiko pengendalian internal. Namun yang paling menarik adalah tarawih: ibadah malam yang khusyuk, sekaligus ladang potensial “manipulasi spiritual”.

Dalam dunia akuntansi, manipulasi bisa terjadi ketika laporan keuangan disusun bukan untuk mencerminkan realitas, melainkan untuk menyenangkan pemangku kepentingan. Dalam ibadah, manipulasi terjadi ketika tarawih dikerjakan bukan untuk Tuhan, melainkan untuk timeline media sosial. Bedanya tipis, tapi dampaknya tebal.

Tradisi Nahdlatul Ulama mengajarkan keseimbangan antara fikih dan akhlak. Tarawih 8 atau 20 rakaat bukan soal menang-kalahan, tetapi soal keikhlasan dan adab. Humor ala pesantren sering bilang, “Yang penting bukan cepat atau lambatnya, tapi jangan sampai hatinya lebih cepat pulang duluan.” Kita bisa berdiri lama, tapi pikiran sudah di gorengan depan masjid.

Almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengingatkan bahwa agama jangan membuat orang kehilangan selera humor. Kalau tarawih membuat kita mudah menyalahkan yang berbeda jumlah rakaatnya, mungkin yang perlu diaudit bukan hitungan rakaatnya, melainkan saldo toleransinya. Dalam bahasa akuntansi, itu namanya salah klasifikasi akun: perbedaan dianggap ancaman, bukan rahmat.

Tarawih tanpa manipulasi berarti menghindari “creative piety” rekayasa kesalehan. Dalam laporan keuangan, ada istilah earnings management. Dalam ibadah, ada “image management”. Kita ingin terlihat paling rajin, paling depan saf, paling lantang amin-nya. Padahal, standar audit spiritual tidak mengukur volume suara, melainkan kedalaman niat.

Jika kita pakai kerangka teori fraud triangle, tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi maka manipulasi ibadah sering lahir dari tekanan sosial. Lingkungan religius yang kompetitif bisa membuat orang merasa harus tampil saleh. Kesempatan terbuka karena niat tidak terlihat. Rasionalisasinya sederhana: “Biar jadi contoh.” Padahal contoh terbaik justru yang tidak merasa sedang memberi contoh.

Ramadhan seharusnya menjadi bulan penguatan sistem pengendalian internal diri. Tidak ada auditor eksternal yang memeriksa niat kita. Namun ada mekanisme pengawasan batin yang lebih ketat daripada standar apa pun. Dalam akuntansi sektor publik, transparansi dan akuntabilitas menjadi prinsip utama. Dalam tarawih, transparansi itu bernama kejujuran hati.

Fenomena menarik lainnya adalah kecepatan. Ada masjid yang tarawihnya seperti kereta ekspres—cepat, efisien, dan tepat waktu. Ada pula yang seperti kereta wisata, pelan, panjang, dan penuh kontemplasi. Keduanya sah secara fikih. Yang tidak sah adalah jika kita memanipulasi niat: memilih yang cepat agar bisa segera update status, atau memilih yang lama agar dianggap lebih alim.

Tarawih tanpa manipulasi juga berarti tidak menjadikan ibadah sebagai instrumen legitimasi sosial. Dalam praktik tata kelola, konflik kepentingan harus dihindari. Begitu pula dalam ibadah, jangan sampai tarawih menjadi investasi reputasi. Jika pahala diperlakukan seperti dividen, dan masjid seperti panggung laporan tahunan, maka yang terjadi bukan spiritual growth, melainkan reputational accounting.

Dalam perspektif akuntansi syariah, tujuan akhir bukan sekadar profit, tetapi falah, kesejahteraan dunia dan akhirat. Tarawih adalah bagian dari proses mencapai falah itu. Namun falah tidak lahir dari angka rakaat semata, melainkan dari transformasi karakter. Jika setelah 20 rakaat kita masih mudah memfitnah, mungkin ada kesalahan pencatatan dalam jurnal batin kita.

Humor ala Nahdliyin sering mengingatkan: “Setan diikat, tapi ego masih bebas berkeliaran.” Ini kritik lembut bahwa…

Penulis : Dosen/Ekonom Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komisi II DPRD Maros Minta Pemkab Optimalkan Capaian PBB-P2 Yang Dinilai Masih Rendah

    Komisi II DPRD Maros Minta Pemkab Optimalkan Capaian PBB-P2 Yang Dinilai Masih Rendah

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — Menjelang berakhirnya tahun anggaran 2025, anggota Komisi II DPRD Maros, Arie Anugrah, mendesak Pemerintah Kabupaten Maros untuk lebih serius menggenjot pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Saat ini, realisasi pembayaran masih berada pada angka 84 persen, sementara waktu yang tersisa untuk menutup tahun hanya tinggal hitungan pekan. Arie menyebut […]

  • Waspada Macet! Ini Titik Rawan Kemacetan di Maros Saat Libur Nataru

    Waspada Macet! Ini Titik Rawan Kemacetan di Maros Saat Libur Nataru

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Maros mengungkap sejumlah titik rawan kemacetan selama perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026. Pemetaan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi lonjakan mobilitas masyarakat yang diprediksi meningkat signifikan selama masa libur akhir tahun. Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Maros, Muhammad Darwis, mengatakan bahwa kepadatan arus lalu lintas umumnya terjadi di […]

  • PCNU Pohuwato Ingatkan PT Pani Gold Project, PWNU Gorontalo Siap Kawal dengan Kajian yang Matang

    PCNU Pohuwato Ingatkan PT Pani Gold Project, PWNU Gorontalo Siap Kawal dengan Kajian yang Matang

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 48
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gelombang sorotan terhadap aktivitas perusahaan tambang PT Pani Gold Project kembali menguat setelah berbagai kelompok masyarakat dan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di Kabupaten Pohuwato. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pohuwato ikut angkat suara. Melalui Sekretarisnya, Risman Ibrahim, PCNU menegaskan bahwa perusahaan tambang harus menyadari posisinya sebagai “tamu” di tanah Pohuwato dan wajib […]

  • Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 72
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto berencana menghabiskan malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 di wilayah Sumatra yang terdampak banjir bandang dan longsor. Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi usai konferensi pers penanganan bencana di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025). “Direncanakan begitu (tahun baru ke Sumatra),” ujar Prasetyo Hadi, […]

  • Hirarki Pengabdian Gus Dur

    Hirarki Pengabdian Gus Dur

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Peringatan haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menjadi momentum reflektif untuk membaca sosok Gus Dur secara lebih utuh dan jernih. Membaca Gus Dur secara parsial kerap melahirkan kesalahpahaman: ia dianggap liberal, kontroversial, bahkan menyimpang dari arus utama. Padahal, jika ditelusuri secara menyeluruh, pemikiran dan laku hidup Gus Dur justru memperlihatkan konsistensi yang kuat dan […]

  • NU di Persimpangan Jalan: Analisis Geopolitik dan Sosio-Keagamaan

    NU di Persimpangan Jalan: Analisis Geopolitik dan Sosio-Keagamaan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di dunia tengah menghadapi ujian eksistensial yang menempatkannya pada persimpangan jalan sejarah yang krusial. Memasuki akhir tahun 2025, organisasi ini terjebak dalam pusaran konflik internal yang melibatkan dua pilar utamanya, jajaran Syuriyah yang merepresentasikan otoritas ulama dan jajaran Tanfidziyah sebagai pelaksana organisatoris. Ketegangan ini bukan sekadar perselisihan […]

expand_less