Abdullah bin Ummi Maktum, Muadzin Yang Tunanetra (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #3)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- visibility 84
- print Cetak

Ilustrasi digital yang menggambarkan Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat Nabi yang tunanetra, memegang panji pasukan dalam suasana peperangan, melambangkan keteguhan iman dan keberanian di medan juang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bagi umat Islam, biasanya muadzin yang paling diingat oleh sejarah adalah Bilal bin Rabah. Seorang budak bersuara merdu yang dimerdekakan oleh Abu Bakr r.a dikenal sebagai sosok yang teguh memegang iman di tengah tekanan dan siksaan. Kisahnya sangat inspiratif dan banyak diceritakan dalam buku-buku Sejarah bahkan diabadikan dalam film. Tidak sedikit orang Islam yang ketika mendengar kata “muadzin”, yang terbayang pertama kali adalah Bilal. Bahkan, di kampung-kampung Bugis, nama lain dari muadzin adalah bilala’ yang diambil dari nama Bilal.
Tetapi pada masa Nabi, umat Islam sebenarnya memiliki dua muadzin. Selain Bilal, ada pelantun adzan yang lain. Ia sahabat Nabi yang tunanetra. Namanya memang tidak sepopuler Bilal, dan kisahnya tidak terlalu sering diceritakan.
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Ia berasal dari Quraisy, dari Bani ‘Amir bin Lu’ayy. Ayahnya bernama Qais bin Zaid (dalam sebagian riwayat disebut juga ‘Amr), sementara ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdullah.
Lalu mengapa ia disebut Ibnu Ummi Maktum—“anak dari Ummi Maktum”?
Dalam tradisi Arab, seseorang kadang dinisbatkan kepada ibunya, bukan ayahnya. Ini tidak lazim, tetapi juga bukan hal aneh. Ibu Abdullah dikenal dengan julukan “Ummu Maktum”, yang secara bahasa berarti “ibu dari yang tertutup” atau “yang tertutup (penglihatannya)”. Julukan ini berkaitan dengan kondisi Abdullah yang tunanetra sejak kecil. Karena itu ia lebih dikenal dengan sebutan “anak dari Ummu Maktum” daripada dengan nama ayahnya.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar