Breaking News
light_mode
Trending Tags

Takjil Transparan, Anggaran Samar

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 41
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadhan selalu datang dengan dua hal yang pasti: pahala yang dilipatgandakan dan pengeluaran yang dilipat-duakan. Di satu sisi, takjil begitu transparan, kolak pisang terlihat jelas santannya, es buah jujur memamerkan biji selasihnya. Di sisi lain, anggaran rumah tangga sering kali samar: tahu-tahu saldo hilang, tapi kita merasa tidak pernah merasa belanja sebanyak itu. Seperti laporan keuangan yang belum diaudit, niatnya hemat, realisasinya “wallahu a’lam”.

Dalam tradisi warga Nahdlatul Ulama, humor bukan untuk menertawakan, melainkan untuk menyadarkan. Gus Dur pernah mengajarkan bahwa yang lebih berbahaya dari korupsi adalah kehilangan rasa malu. Dalam konteks Ramadhan, yang lebih berbahaya dari lapar adalah kehilangan kontrol anggaran. Kita bisa menahan haus 14 jam, tapi sering tak kuasa menahan diskon “Buy 1 Get 1” menjelang berbuka.

Fenomena “war takjil” adalah miniatur pasar modal musiman. Semua berebut posisi strategis: yang cepat dia dapat. Bedanya, di pasar modal ada prospektus; di pasar takjil ada “pokoknya enak, Bu”. Transparansi produk begitu jelas, warna merah sirupnya menyala, topping melimpah, harga tertera. Namun, transparansi sumber dan penggunaan dana sering kali tidak sejelas itu. Kita tahu harga es teh jumbo, tapi tak pernah benar-benar menghitung dampaknya pada arus kas bulanan.

Dalam akuntansi, kita mengenal prinsip full disclosure, pengungkapan penuh. Dalam kehidupan Ramadhan, mestinya ada juga prinsip full muhasabah, pengungkapan penuh pada diri sendiri. Berapa persen belanja berbuka karena kebutuhan, dan berapa persen karena lapar mata? Jangan-jangan lebih banyak “aset lancar” berupa gorengan daripada “investasi akhirat” berupa sedekah.

Secara teori, Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Dalam perspektif akuntansi manajemen, ini momentum penguatan budgeting dan pengendalian internal. Namun praktiknya sering terbalik: masjid mengumumkan laporan infak dengan rapi dan transparan, sementara laporan pengeluaran pribadi hanya tersimpan di notifikasi mobile banking yang kita abaikan.

Ada ironi yang jenaka sekaligus getir. Takjil di depan masjid gratis dan terbuka, siapa pun boleh ambil. Tetapi ketika bicara anggaran publik, sering kali yang terbuka hanya seremoni, bukan detail realisasi. Kita hafal jadwal buka puasa, tapi lupa jadwal audit. Kita semangat berbagi kurma, tetapi enggan berbagi data.

Padahal dalam Islam, akuntabilitas bukan konsep asing. Al-Qur’an sudah menyinggung pencatatan utang piutang secara rinci. Ayat terpanjang dalam kitab suci itu bicara tentang administrasi, bukan sekadar spiritualitas. Artinya, iman dan laporan keuangan tidak boleh dipisahkan. Takjil boleh manis, tapi anggaran harus logis.

Humor ala NU mengajarkan keseimbangan. Jangan terlalu kaku seperti auditor yang kehilangan selera humor, tapi jangan terlalu cair seperti es buah yang kebanyakan air. Transparansi bukan sekadar menampilkan angka, melainkan menjelaskan makna di balik angka. Kalau pengurus takmir masjid bisa memajang laporan pemasukan dan pengeluaran di papan pengumuman, masa kita tak bisa memajang rencana anggaran keluarga di dinding kulkas?

Sering kali, problem bukan pada kurangnya dana, tetapi pada kaburnya prioritas. Dalam istilah akuntansi, ini soal misalokasi sumber daya. Kita rela antre panjang demi takjil viral, tapi enggan antre dalam barisan disiplin menabung. Kita hitung pahala tarawih, tetapi tidak menghitung rasio utang terhadap pendapatan.

Ramadhan seharusnya menjadi laboratorium integritas. Transparansi takjil mengajarkan bahwa yang terlihat harus sesuai dengan isi. Jangan sampai kemasannya premium, isinya angin. Begitu pula anggaran: jangan sampai judulnya “pembangunan umat”, realisasinya “pembangunan citra”.

Sebagai akademisi akuntansi, saya sering bercanda kepada mahasiswa: “Neraca itu seperti timbangan amal. Kalau berat sebelah, berarti ada yang perlu diperbaiki.” Mereka tertawa, tapi saya tahu mereka paham. Dalam setiap transaksi ada nilai moral. Setiap rupiah yang keluar adalah keputusan etis.

Di bulan suci ini, mungkin kita perlu membuat laporan keuangan versi batin: berapa banyak sedekah dibanding belanja konsumtif? Berapa banyak waktu untuk tadarus dibanding scrolling diskon? Jangan sampai kita rajin mencatat pengeluaran untuk parcel, tapi lupa mencatat komitmen zakat.

Transparansi sejati bukan hanya soal angka, melainkan keberanian untuk diaudit oleh publik, oleh keluarga, dan tentu saja oleh Tuhan. Jika takjil saja bisa jujur menampilkan isinya, mengapa anggaran harus samar? Jika kolak bisa terang benderang, mengapa laporan penggunaan dana harus remang-remang?

Ramadhan mengajarkan bahwa lapar itu sementara, tetapi integritas itu selamanya. Maka mari kita jadikan bulan ini sebagai momentum memperjelas yang samar, memperbaiki yang timpang, dan menertawakan diri sendiri sebelum ditertawakan sejarah. Sebab dalam tradisi kebijaksanaan, humor adalah jalan halus menuju kesadaran.

Akhirnya, semoga takjil kita tetap transparan, anggaran kita makin terang, dan neraca kehidupan kita seimbang. Karena pada akhirnya, bukan hanya perut yang berbuka, tetapi juga mata hati yang terbuka. Dan siapa tahu, dengan sedikit humor dan banyak kejujuran, kita bisa membuktikan bahwa akuntansi bukan sekadar soal angka, melainkan soal amanah.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Universiti Malaysia Kelantan (UMK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat kerja sama pendidikan lintas negara dengan kampus-kampus Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di Indonesia. Pernyataan ini diungkapkan pada acara Eid Al-Fitr Gathering yang diselenggarakan di Kalbis University, Jakarta, Sabtu (19/4/2025). Acara tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan akademik antara UMK dengan institusi pendidikan Islam di Indonesia. […]

  • Respons Berbeda soal Pandji: PKS Sebut Kritik Sehat, FPI Nilai Penistaan Agama

    Respons Berbeda soal Pandji: PKS Sebut Kritik Sehat, FPI Nilai Penistaan Agama

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 151
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sikap berbeda ditunjukkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Front Persaudaraan Islam (FPI) dalam merespons materi stand-up comedy Mens Rea yang dibawakan komika Pandji Pragiwaksono. PKS menilai materi tersebut sebagai bagian dari kritik yang sehat dalam demokrasi, sementara FPI menilai sebagian isi pertunjukan mengandung penistaan agama dan layak diproses hukum. Sekretaris Jenderal PKS, Muhammad […]

  • Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 57
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Gorontalo kembali menunjukkan sikap kritisnya terhadap persoalan-persoalan serius yang menghantui daerah. Salah satu aktivisnya, Sandri atau yang lebih akrab disapa Kevin Lapendos, menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan dalam mengawal isu-isu strategis, mulai dari dugaan tindak pidana korupsi, pertambangan ilegal, hingga persoalan tata kelola sumber […]

  • PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan

    PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Di negeri yang segala sesuatunya ingin distandarkan, dari Standar Nasional Pendidikan sampai Standar Operasional Prosedur parkir motor di minimarket, kita mengenal PSAK sebagai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Biasanya tebal, serius, dan membuat mahasiswa akuntansi lebih cepat mengantuk daripada khutbah tarawih 23 rakaat plus witir tiga. Tapi Ramadhan ini, izinkan saya mengusulkan PSAK versi lain: Pernyataan […]

  • Thomas A.M. Djiwandono Resmi Dilantik sebagai Deputi Gubernur BI, Ini Profil dan Rekam Jejaknya

    Thomas A.M. Djiwandono Resmi Dilantik sebagai Deputi Gubernur BI, Ini Profil dan Rekam Jejaknya

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 105
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Thomas A.M. Djiwandono resmi dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) setelah mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. Sunarto, S.H., M.H., pada Senin, 9 Februari 2026. Pelantikan ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10/P Tahun 2026 tertanggal 3 Februari 2026. Sebelum bergabung dalam jajaran […]

  • Sidak Subuh di SPPG Boalemo, Wagub Gorontalo Temukan Sejumlah Pelanggaran Higienitas MBG

    Sidak Subuh di SPPG Boalemo, Wagub Gorontalo Temukan Sejumlah Pelanggaran Higienitas MBG

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 149
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Gorontalo kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Rabu pagi (17/12/2025). Kali ini, sidak dilakukan di SPPG Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo. Tepat pukul 04.30 Wita, Wagub Idah bersama Tim Satgas MBG […]

expand_less