Jafar bin Abi Thalib: Diplomat Nabi Ke Afrika (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #16)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 159
- print Cetak

Ilustrasi yang menggambarkan Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an di hadapan Raja Najasyi di istana Habasyah, saat memimpin rombongan sahabat yang hijrah dan memperkenalkan ajaran Islam dengan penuh hikmah dan keteguhan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kita semua pasti sangat mengenal Ali bin Abi Thalib—sahabat sekaligus sepupu Nabi Muhammad. Namanya besar, riwayatnya panjang, dan perannya monumental dalam sejarah Islam. Tapi tahukah Anda? Ada seorang sepupu lainnya yang disebut mirip dengan Nabi, baik dari rupa maupun akhlak, dan sangat dicintai beliau. Ia bukan hanya seorang pejuang, tapi juga diplomat ulung. Namanya Ja’far bin Abi Thalib.
Ja’far adalah kakak Ali dan termasuk generasi awal yang memeluk Islam. Bersama para sahabat awal, ia merasakan pahit getir menjadi seorang Muslim. Meskipun sejarah jarang menyorotnya, perannya tak kalah menentukan dalam fase-fase awal kehadiran Islam di tanah Arab.
Salah satu peran terpenting Ja’far adalah ketika ia memimpin rombongan sahabat dalam hijrah ke Habasyah, salah satu kerajaan Kristen besar di Afrika, di tengah tekanan keras kaum Quraisy. Misi ini bukan sekadar mencari perlindungan, tetapi sekaligus menandai diplomasi Islam pertama yang keluar dari tanah Arab.
Di istana Raja Najasyi, Ja’far berdiri sebagai juru bicara kaum Muslimin. Situasinya tegang, dengan tekanan penguasa Quraisy yang ingin memulangkan rombongan itu. Dengan tenang dan penuh hikmah, Ja’far menjelaskan kedatangan mereka dan memperkenalkan Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Islam. Ketika ditanya tentang Isa putra Maryam, ia membacakan ayat-ayat Surah Maryam. Suaranya mengalun, menyampaikan pesan kelahiran suci dan kenabian yang mulia. Raja Najasyi meneteskan air mata, begitu pula para pendeta di sekitarnya. Hari itu, Islam menang bukan dengan pedang, tetapi dengan kata-kata yang tulus. Habasyah pun menjadi tanah aman bagi kaum Muslimin, dan Ja’far dikenang sebagai simbol diplomasi Islam pertama.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar