Jurnal Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 200
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu menghadirkan satu pertanyaan akuntansi yang tidak pernah masuk dalam PSAK mana pun: apakah amal kita sudah dijurnal dengan benar di “Sistem Informasi Akuntansi Langit”? Kita ini rajin mencatat pengeluaran buka puasa, cicilan THR, bahkan diskon sirup tiga botol seratus ribu. Tapi soal sedekah, ikhlas, dan sabar, sering kali pencatatannya masih single entry—masuk ke Instagram, tidak masuk ke hati.
Sebagai ekonom yang kebetulan, saya sering membayangkan bahwa di atas sana ada “Kantor Akuntan Publik Malaikat & Rekan”. Auditnya real time, tanpa perlu rekonsiliasi manual. Tidak ada window dressing, tidak ada creative accounting. Kalau niatnya riya’, langsung kena koreksi fiskal ukhrawi.
Dalam tradisi humor ala Nahdlatul Ulama, kita diajarkan bahwa hidup itu jangan terlalu tegang. Kata Gus Dur—yang sering membuat kita tertawa sebelum kita sadar sedang dinasihati—agama itu jangan dipakai untuk menakut-nakuti, tapi untuk memanusiakan manusia. Maka Ramadhan seharusnya menjadi bulan “rekonsiliasi langit”, bukan bulan “rekayasa laporan kesalehan”.
Dalam akuntansi, kita mengenal istilah accrual basis. Pendapatan diakui saat diperoleh, bukan saat kas diterima. Di Ramadhan, pahala juga tampaknya menganut sistem accrual. Niat baik saja sudah dicatat sebagai potensi aset. Bahkan orang yang berniat puasa tapi tertidur sebelum sahur, masih dapat pahala niat. Masya Allah, ini standar akuntansi paling ramah dalam sejarah peradaban.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar