Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Senin, 30 Mar 2026
- visibility 218
- print Cetak

Sekretaris Kabinet Teddy bersama Maman saat memberikan keterangan kepada wartawan di kawasan Monas terkait pelaksanaan program pasar murah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Muhammad Aras Prabowo, mengkritik keras pernyataan Sekretaris Kabinet, Teddy, yang menyebut sumber anggaran program pasar murah di Monas dengan ungkapan “pokoknya ada”.
Pernyataan tersebut dinilai problematik secara etik, administratif, dan epistemik dalam tata kelola keuangan negara.
Menurut Aras, ungkapan tersebut mencerminkan lemahnya kesadaran terhadap prinsip dasar akuntabilitas publik dalam pengelolaan anggaran negara.
Ia menegaskan, dalam kerangka akuntansi sektor publik, tidak ada ruang bagi jawaban yang tidak berbasis data dan mekanisme yang jelas.
“Setiap rupiah yang dikeluarkan harus memiliki dasar hukum, transparansi sumber, serta pertanggungjawaban yang dapat diaudit. Jawaban ‘pokoknya ada’ justru menafikan prinsip-prinsip tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam perspektif akuntansi kritis dan tata kelola keuangan negara, pernyataan semacam itu berpotensi memicu moral hazard sekaligus mendelegitimasi institusi publik.
“Negara modern bekerja berdasarkan sistem, bukan asumsi. Ketika pejabat publik memberikan jawaban simplistik terhadap pertanyaan anggaran, yang tergerus bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga integritas sistem fiskal itu sendiri,” tegasnya.
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar