Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Fleksibilitas

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
  • visibility 230
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Fleksibilitas semakin sering digunakan dalam sistem kerja terkini, baik di korporasi maupun lembaga pemerintah. Flexibility work arragment (FWA) mulai diterapkan perlahan sebagai sistem kerja. Ia diposisikan sebagai respons atas perubahan digital yang menuntut kecepatan, keterbukaan, dan efisiensi.

Pola kerja tidak lagi terikat secara ketat pada ruang dan waktu. Kantor bukan lagi satu-satunya locus kerja, dan jam kerja tidak lagi sepenuhnya linear. WFA atau work from anywhere mulai digunakan dan sepertinya akan menjadi tren di hari-hari selanjutnya.  

Namun, fleksibilitas pada dasarnya hanya membuka ruang. Ia bukan solusi yang bekerja dengan sendirinya, melainkan instrumen yang sangat bergantung pada kapasitas penggunanya. Di sinilah letak persoalan yang sering diabaikan. Ketika fleksibilitas diadopsi tanpa kesiapan yang memadai, yang terjadi bukanlah peningkatan kinerja, tetapi pergeseran masalah dalam bentuk yang lebih halus dan sulit dikenali.

Kunci dari penggunaan fleksibilitas terletak pada kreativitas. Kreativitas dalam konteks ini tidak harus dipahami sebagai inovasi besar atau terobosan spektakuler, melainkan kemampuan menjaga kerja tetap terarah di tengah kelonggaran sistem. Ia mencakup inisiatif, ketepatan membaca situasi, serta kemampuan menemukan cara kerja yang tetap produktif tanpa bergantung pada kontrol yang kaku. Kreativitas memberi struktur pada fleksibilitas, memastikan bahwa ruang yang terbuka tidak berubah menjadi ruang kosong yang tidak menghasilkan nilai.

Tanpa kreativitas, fleksibilitas kehilangan fungsi strategisnya. Kerja memang tetap berlangsung, aktivitas tetap terlihat, tetapi tidak ada peningkatan kualitas maupun dampak. Dalam kondisi seperti ini, fleksibilitas justru menciptakan ilusi kerja. Sistem tampak berjalan, koordinasi terlihat aktif, tetapi substansi melemah. Apa yang terlihat sebagai adaptasi sebenarnya hanyalah reproduksi dari pola lama dalam bentuk yang lebih longgar dan tidak lagi terukur secara jelas.

Kunci kedua adalah komitmen. Fleksibilitas yang tidak diiringi dengan komitmen yang kuat berpotensi memperlemah akuntabilitas. Ketika kehadiran fisik tidak lagi menjadi ukuran utama, maka tanggung jawab seharusnya berpindah pada hasil kerja. Namun, tanpa komitmen yang jelas, perpindahan ini tidak terjadi secara utuh. Ukuran kinerja menjadi kabur, sementara mekanisme kontrol tidak cukup kuat untuk menggantikan fungsi pengawasan langsung. Akibatnya, penurunan kinerja tidak selalu terbaca sebagai kegagalan, tetapi terserap dalam sistem yang tampak modern dan adaptif.

Dalam konteks birokrasi, kondisi ini menjadi lebih kompleks. Fleksibilitas sering kali diadopsi tanpa diikuti dengan pembaruan sistem evaluasi yang memadai. Akibatnya, fleksibilitas tidak mempercepat kerja, tetapi justru menciptakan ruang abu-abu dalam tanggung jawab. Batas antara produktif dan tidak produktif menjadi tidak jelas. Organisasi tetap berjalan, tetapi tanpa kepastian bahwa arah yang ditempuh benar-benar menghasilkan dampak bagi publik.

Dalam situasi ini, fleksibilitas bukan hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga berpotensi menjadi legitimasi baru bagi stagnasi. Ia memberikan kesan progresif, namun tanpa perubahan substantif. Organisasi terlihat bergerak mengikuti zaman, padahal yang terjadi hanyalah penyesuaian di permukaan tanpa transformasi nyata pada cara kerja dan hasil yang dicapai.

Karena itu, fleksibilitas tidak cukup untuk menjawab tantangan kerja modern. Ia perlu ditempatkan secara proporsional sebagai instrumen yang harus dikaitkan dengan tiga hal utama: kreativitas, komitmen, dan ukuran kinerja yang jelas. Kreativitas menjaga arah, komitmen menjaga konsistensi, dan ukuran kinerja memastikan akuntabilitas tetap terjaga. Tanpa ketiganya, fleksibilitas hanya akan menjadi ruang longgar yang tidak produktif, sekaligus menyulitkan upaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.

Fleksibility Work Arrangement (FWA) hanya akan bermakna apabila mampu menghasilkan nilai dan budaya baru. Jika tidak, ia hanya menjadi cara lain untuk mempertahankan stagnasi dalam wajah yang lebih baru.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LBH PB PMII Kecam Dugaan Illegal Logging CV AEM di Sula, Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan dan Copot Kepala UPTD KPH Kepulauan Sula

    LBH PB PMII Kecam Dugaan Illegal Logging CV AEM di Sula, Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan dan Copot Kepala UPTD KPH Kepulauan Sula

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Lembaga Bantuan Hukum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (LBH PB PMII) mengecam keras dugaan skandal illegal logging yang melibatkan CV Anugerah Empat Mandiri (AEM) di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Perusahaan tersebut diduga kuat melakukan penebangan kayu di luar koordinat izin yang telah ditentukan, yang merupakan pelanggaran berat terhadap hukum kehutanan di […]

  • Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    Setan Diikat, Fraud Berlanjut?

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 538
    • 0Komentar

    Konon, setiap Ramadhan setan-setan dibelenggu. Informasi ini begitu populer, bahkan lebih populer daripada promo diskon sirup menjelang buka puasa. Tapi pertanyaannya, kalau setan sudah diikat, kenapa praktik fraud masih saja merajalela? Apakah setannya lolos dari sistem pengendalian internal? Atau jangan-jangan, yang perlu diaudit bukan setan, tapi niat dan sistem kita? Dalam tradisi pesantren ala Nahdlatul […]

  • Konflik Tanpa Ujung di Rumah Besar NU: Setelah Napak Tilas, Lalu Apa?

    Konflik Tanpa Ujung di Rumah Besar NU: Setelah Napak Tilas, Lalu Apa?

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Nur Shollah
    • visibility 333
    • 0Komentar

    Sekian tahun terakhir, ruang publik—terutama media sosial—nyaris tak pernah sepi dari pemberitaan konflik internal PBNU. Isu demi isu datang silih berganti, seolah membentuk mata rantai yang tak kunjung terputus. Dimulai dari polemik nasab Ba‘alawi, perdebatan tambang, wacana pencopotan Ketua Umum PBNU, rapat pleno penunjukan Penjabat Ketum, rapat musytasyar di Ploso dan Tebuireng, dinamika Haul Gus […]

  • Mendagri Mengapresiasi Realisasi APBD Pemprov Gorontalo Triwulan II

    Mendagri Mengapresiasi Realisasi APBD Pemprov Gorontalo Triwulan II

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatatkan realisasi belanja dan pendapatan yang baik di triwulan II tahun 2025. Hasil capaian tersebut mendapat apresiasi oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada saat memimpin rapat koordinasi inflasi melalui sambungan Zoom, Senin (7/7/2025). Realisasi belanja APBD Pemprov Gorontalo triwulan II 2025 berada di peringkat sembilan nasional dan atau peringkat satu se-Sulawesi […]

  • Lionel Scaloni Ungkap Alasan Messi Minta Dicadangkan Lawan Yordania: Demi Rekan Setim

    Lionel Scaloni Ungkap Alasan Messi Minta Dicadangkan Lawan Yordania: Demi Rekan Setim

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, mengungkap alasan di balik keputusan mencadangkan Lionel Messi saat menghadapi Yordania pada laga terakhir Grup J Piala Dunia 2026. Ternyata, keputusan tersebut bukan karena masalah kebugaran, melainkan atas permintaan sang kapten sendiri. Argentina menutup fase grup dengan kemenangan 3-1 atas Yordania. Dalam pertandingan itu, Messi tidak tampil sebagai […]

  • Perempuan dan Financial Freedom di Era Digital

    Perempuan dan Financial Freedom di Era Digital

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Sutanti Idris
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Di era digital, perempuan memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk mencapai financial freedom. Kemajuan teknologi telah mengubah cara bekerja, berbisnis, berinvestasi, hingga mengelola keuangan. Kesempatan yang dahulu hanya dimiliki segelintir orang, kini terbuka bagi siapa saja yang mau belajar dan beradaptasi. Namun, kemudahan teknologi juga membawa tantangan. Akses belanja yang semakin praktis, maraknya pinjaman […]

expand_less