Breaking News
light_mode
Trending Tags

Fleksibilitas

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month 10 jam yang lalu
  • visibility 86
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Fleksibilitas semakin sering digunakan dalam sistem kerja terkini, baik di korporasi maupun lembaga pemerintah. Flexibility work arragment (FWA) mulai diterapkan perlahan sebagai sistem kerja. Ia diposisikan sebagai respons atas perubahan digital yang menuntut kecepatan, keterbukaan, dan efisiensi.

Pola kerja tidak lagi terikat secara ketat pada ruang dan waktu. Kantor bukan lagi satu-satunya locus kerja, dan jam kerja tidak lagi sepenuhnya linear. WFA atau work from anywhere mulai digunakan dan sepertinya akan menjadi tren di hari-hari selanjutnya.  

Namun, fleksibilitas pada dasarnya hanya membuka ruang. Ia bukan solusi yang bekerja dengan sendirinya, melainkan instrumen yang sangat bergantung pada kapasitas penggunanya. Di sinilah letak persoalan yang sering diabaikan. Ketika fleksibilitas diadopsi tanpa kesiapan yang memadai, yang terjadi bukanlah peningkatan kinerja, tetapi pergeseran masalah dalam bentuk yang lebih halus dan sulit dikenali.

Kunci dari penggunaan fleksibilitas terletak pada kreativitas. Kreativitas dalam konteks ini tidak harus dipahami sebagai inovasi besar atau terobosan spektakuler, melainkan kemampuan menjaga kerja tetap terarah di tengah kelonggaran sistem. Ia mencakup inisiatif, ketepatan membaca situasi, serta kemampuan menemukan cara kerja yang tetap produktif tanpa bergantung pada kontrol yang kaku. Kreativitas memberi struktur pada fleksibilitas, memastikan bahwa ruang yang terbuka tidak berubah menjadi ruang kosong yang tidak menghasilkan nilai.

Tanpa kreativitas, fleksibilitas kehilangan fungsi strategisnya. Kerja memang tetap berlangsung, aktivitas tetap terlihat, tetapi tidak ada peningkatan kualitas maupun dampak. Dalam kondisi seperti ini, fleksibilitas justru menciptakan ilusi kerja. Sistem tampak berjalan, koordinasi terlihat aktif, tetapi substansi melemah. Apa yang terlihat sebagai adaptasi sebenarnya hanyalah reproduksi dari pola lama dalam bentuk yang lebih longgar dan tidak lagi terukur secara jelas.

Kunci kedua adalah komitmen. Fleksibilitas yang tidak diiringi dengan komitmen yang kuat berpotensi memperlemah akuntabilitas. Ketika kehadiran fisik tidak lagi menjadi ukuran utama, maka tanggung jawab seharusnya berpindah pada hasil kerja. Namun, tanpa komitmen yang jelas, perpindahan ini tidak terjadi secara utuh. Ukuran kinerja menjadi kabur, sementara mekanisme kontrol tidak cukup kuat untuk menggantikan fungsi pengawasan langsung. Akibatnya, penurunan kinerja tidak selalu terbaca sebagai kegagalan, tetapi terserap dalam sistem yang tampak modern dan adaptif.

Dalam konteks birokrasi, kondisi ini menjadi lebih kompleks. Fleksibilitas sering kali diadopsi tanpa diikuti dengan pembaruan sistem evaluasi yang memadai. Akibatnya, fleksibilitas tidak mempercepat kerja, tetapi justru menciptakan ruang abu-abu dalam tanggung jawab. Batas antara produktif dan tidak produktif menjadi tidak jelas. Organisasi tetap berjalan, tetapi tanpa kepastian bahwa arah yang ditempuh benar-benar menghasilkan dampak bagi publik.

Dalam situasi ini, fleksibilitas bukan hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga berpotensi menjadi legitimasi baru bagi stagnasi. Ia memberikan kesan progresif, namun tanpa perubahan substantif. Organisasi terlihat bergerak mengikuti zaman, padahal yang terjadi hanyalah penyesuaian di permukaan tanpa transformasi nyata pada cara kerja dan hasil yang dicapai.

Karena itu, fleksibilitas tidak cukup untuk menjawab tantangan kerja modern. Ia perlu ditempatkan secara proporsional sebagai instrumen yang harus dikaitkan dengan tiga hal utama: kreativitas, komitmen, dan ukuran kinerja yang jelas. Kreativitas menjaga arah, komitmen menjaga konsistensi, dan ukuran kinerja memastikan akuntabilitas tetap terjaga. Tanpa ketiganya, fleksibilitas hanya akan menjadi ruang longgar yang tidak produktif, sekaligus menyulitkan upaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.

Fleksibility Work Arrangement (FWA) hanya akan bermakna apabila mampu menghasilkan nilai dan budaya baru. Jika tidak, ia hanya menjadi cara lain untuk mempertahankan stagnasi dalam wajah yang lebih baru.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Dufa-Dufa Boikot Jalan, Desak KM Queen Mary Kembali Berlabuh di Pelabuhan Sultan Mudjafar Syah II

    Warga Dufa-Dufa Boikot Jalan, Desak KM Queen Mary Kembali Berlabuh di Pelabuhan Sultan Mudjafar Syah II

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Asril R Mahmud
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Ternate – Menjelang bulan suci Ramadan, warga Kelurahan Dufa-Dufa menggelar aksi pemboikotan akses jalan utama, Kamis 26 Februari 2026. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap polemik perubahan rute dan lokasi sandar kapal di Pelabuhan Sultan Mudjafar Syah II. Aksi berlangsung dengan pemblokiran sejumlah ruas jalan utama di wilayah Dufa-Dufa. Massa aksi menuntut agar KM […]

  • Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

    Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 765
    • 1Komentar

    Alasan mengapa sadaka ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat Gorontalo beberapa hari ini sederhana: memberatkan. Perbincangan ini juga bukan barang baru. Sebelumnya, jika jeli membaca timeline Facebook, Anda akan menemukan berbagai postingan yang membeberkan keluh-kesah warga soal praktik ini. Masa iya misalnya, kita yang sedang berduka, lalu harus memberi sejumlah uang pada para elit, pembesar, pemangku […]

  • Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 147
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki babak baru setelah tercapainya islah antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Rekonsiliasi tersebut dicapai dalam pertemuan yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025). Pertemuan yang diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar PBNU itu […]

  • Prahara Republik Merah Putih (Fakta dan Imajinasi di Jantung Negeri)

    Prahara Republik Merah Putih (Fakta dan Imajinasi di Jantung Negeri)

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Penulis : Asrul G.H. Lasapa (Da’i dan Pemerhati Sosial Keagamaan) Suasana semakin genting. Pergerakan massa sudah tidak terkendali. Teriakan demi teriakan menggelinding hingga ke petala langit. Suara dentuman benda keras menghantam genteng dan kaca bangunan megah seakan berlomba dengan suara letusan senjata aparat keamanan. Kobaran api semakin membara. Gumpalan asap hitam membumbung pekat ke angkasa […]

  • Keutamaan Bershalawat, Guru Helmi Podungge: Satu Shalawat Dibalas Sepuluh Rahmat Play Button

    Keutamaan Bershalawat, Guru Helmi Podungge: Satu Shalawat Dibalas Sepuluh Rahmat

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 238
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Rais Syuriyah PCNU Bone Bolango sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bone Bolango, KH. Helmi Podungge atau Guru Helmi, menyampaikan pengajian bertema Keutamaan Bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pengajian tersebut menegaskan bahwa shalawat bukan sekadar amalan lisan, melainkan jalan keselamatan dan keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam […]

  • Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat Play Button

    Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 224
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergantian tahun Masehi kerap identik dengan hiruk-pikuk perayaan, kembang api, dan berbagai euforia yang melibatkan keramaian. Namun, dalam sebuah pengajian penuh makna, almaghfurlah KH. Abdul Ghofur Nawawi justru mengajak jamaah untuk menyambut pergantian tahun dengan cara yang berbeda: dzikir sederhana, sunyi, dan penuh kesadaran spiritual. Kiai Ghofur mengisahkan bahwa amalan ini merupakan ijazah […]

expand_less