Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Dandhy Laksono: Indonesia Sedang Mengalami Krisis Ekstraksi dan Kemunduran Demokrasi

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 356
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com –  Jurnalis dokumenter dan pendiri Watchdoc, Dandhy Laksono, menilai Indonesia tengah menghadapi persoalan serius berupa eksploitasi sumber daya alam yang masif, kemunduran demokrasi, hingga dominasi oligarki dalam politik nasional.

Hal itu disampaikan Dandhy dalam podcast Islamitalk #5 yang tayang di kanal Islami.co pada Jumat (22/5/2026). Dalam perbincangan tersebut, Dandhy banyak membahas perjalanan produksi film-film dokumenter kritis seperti Sexy Killers, Dirty Vote, hingga film terbarunya Pesta Babi.

Menurut Dandhy, persoalan utama Indonesia saat ini terletak pada model ekonomi ekstraktif yang terus diwariskan tanpa evaluasi serius dari generasi ke generasi.

“Negara kita ini hanya ngeruk aja, simple. Karena semua biaya politik juga dari kegiatan ngeruk-ngeruk,” ujarnya.

Ia menyebut sumber utama pembiayaan politik nasional selama ini berasal dari sektor ekstraktif seperti sawit, batu bara, dan kini nikel. Karena itu, menurutnya, relasi antara politik dan bisnis sumber daya alam menjadi sangat kuat.

Dandhy menilai situasi tersebut membuat kerusakan lingkungan terus berulang di berbagai daerah tanpa adanya pelajaran berarti dari pengalaman sebelumnya.

“Setelah Sumatra dihancurkan, Kalimantan dihancurkan, pola yang sama diterapkan di Sulawesi sampai Papua. Tidak ada lesson learned,” katanya.

Dalam percakapan itu, Dandhy juga menyoroti perjalanan panjang Watchdoc yang ia dirikan bersama rekannya sejak 2009. Ia mengaku mendirikan platform independen tersebut karena merasa ruang kebebasan media arus utama semakin sempit akibat kuatnya pengaruh modal dan politik.

“Media makin dikuasai oleh modal yang irisan politiknya makin tebal,” ujarnya.

Film pertama yang diproduksi Watchdoc adalah dokumenter tentang pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib berjudul Kiri Hijau Kanan Merah. Film itu dibuat sebagai upaya melawan narasi negatif terhadap Munir setelah kematiannya.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Semarak HUT ke-80 RI di SD Negeri 40 Kota Ternate Penuh Warna dan Antusiasme

    Semarak HUT ke-80 RI di SD Negeri 40 Kota Ternate Penuh Warna dan Antusiasme

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, SD Negeri 40 Kota Ternate menggelar rangkaian lomba yang memadukan nuansa kebudayaan dan semangat kebersamaan. Dua kegiatan utama yang digelar adalah lomba tarian daerah pada 5–7 Agustus 2025 dan lomba gerak jalan yang menjadi penutup pada 9 Agustus 2025. Kepala SD Negeri 40 Kota Ternate […]

  • Sekolah Kader KOPRI PMII Makassar Hadirkan Farid F. Saenong Bahas Gerakan Perempuan Masa Depan

    Sekolah Kader KOPRI PMII Makassar Hadirkan Farid F. Saenong Bahas Gerakan Perempuan Masa Depan

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 217
    • 0Komentar

    MAKASSAR, nulondalo.com – Korps PMII Putri (KOPRI) PMII Kota Makassar menghadirkan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Farid F. Saenong, Ph.D., sebagai narasumber nasional dalam kegiatan Sekolah Kader KOPRI (SKK). Dalam forum kaderisasi tersebut, Farid membawakan materi bertajuk “KOPRI dan Sinergi Gerakan Multisektoral”, yang menyoroti pentingnya membangun gerakan perempuan melalui kolaborasi lintas sektor, penguatan […]

  • Jangan Pintar Scroll, Tapi Bodoh Mikir

    Jangan Pintar Scroll, Tapi Bodoh Mikir

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Gus Dur pernah berseloroh, “Kalau kamu tidak bisa menjadi orang pintar, jadilah orang yang berguna.” Di era digital hari ini, kalimat itu perlu sedikit dimodifikasi: kalau kamu sudah punya internet cepat, jangan malah mikirnya lambat. Mahasiswa zaman sekarang itu hebat. Jempolnya lincah, notifikasinya ramai, memorinya penuh—meski sering penuh oleh hal-hal yang tidak terlalu penting. Dalam […]

  • 31 Kontingen Rampungkan Registrasi, PPSN VI Kian Semarak

    31 Kontingen Rampungkan Registrasi, PPSN VI Kian Semarak

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Nulondalo, Malang – Suasana Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” Bululawang, Kabupaten Malang, kian semarak menjelang pembukaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI. Hingga Rabu (30/9/2026) pukul 15.19 WIB, sebanyak 31 kontingen putra dan putri telah menyelesaikan proses registrasi ulang. Jumlah tersebut terdiri atas 30 kontingen tingkat provinsi dan satu kontingen tuan rumah dari Pondok Pesantren […]

  • Titik Nadir Gorontalo Vs BSG: Fokus Rebut Kuasa, Bukan Bank Baru!

    Titik Nadir Gorontalo Vs BSG: Fokus Rebut Kuasa, Bukan Bank Baru!

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Saat ini di kancah global kita menyaksikan dinamika perang dagang antara kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, di mana kebijakan proteksionis dan persaingan sengit mewarnai hubungan ekonomi. Di tingkat regional, dinamika serupa tampaknya terjadi dalam hubungan antara Gorontalo dan Bank SulutGo (BSG). Isu keputusan Gorontalo untuk mempertimbangkan keluar dari struktur pemegang saham BSG dan […]

  • Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

    Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 510
    • 0Komentar

    Nasionalisme berangkat dari pertanyaan paling mendasar tentang manusia: siapa saya dan di mana posisi saya. Jawaban atas identitas inilah yang kemudian membimbing cara hidup, pilihan moral, dan tindakan politik. Dalam kerangka ini, bangsa diposisikan sebagai komunitas utama yang membentuk kewajiban normatif individu. Pemikiran ini sejalan dengan antropolog Benedict Anderson yang menegaskan bahwa nasionalisme adalah sebuah […]

expand_less