Perempuan Berhenti Bekerja: Pengorbanan atau Investasi?
- account_circle Sutanti Idris
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 9
- print Cetak

Sutanti Idris/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di tengah semakin banyak perempuan yang memilih berhenti bekerja setelah menikah atau memiliki anak, muncul pertanyaan yang sering kali memicu perdebatan: apakah keputusan tersebut merupakan sebuah pengorbanan atau justru investasi?
Bagi saya, jawabannya bergantung pada alasan dan cara perempuan memaknai keputusan itu. Berhenti bekerja bukanlah tanda menyerah, bukan pula bukti bahwa perempuan kehilangan kemampuan. Sebaliknya, keputusan tersebut dapat menjadi investasi terbesar dalam hidup apabila diambil dengan kesadaran, perencanaan, dan tujuan yang jelas. Namun, jika dilakukan karena merasa tidak berharga, kehilangan kepercayaan diri, atau merasa tidak lagi memiliki pilihan, maka yang terjadi bukan investasi, melainkan pengorbanan yang menyisakan penyesalan.
Perempuan memiliki kemampuan untuk menjalankan banyak peran dalam kehidupannya. Menjadi ibu, istri, profesional, maupun pengusaha bukanlah identitas yang saling bertentangan. Yang berubah hanyalah fase kehidupan, bukan kapasitas untuk terus berkembang.
Tidak sedikit perempuan yang memilih mendampingi tumbuh kembang anak di masa emas kehidupannya. Pilihan ini layak dihormati karena keluarga adalah fondasi utama dalam membangun peradaban. Pendidikan pertama seorang anak lahir dari rumah, dan kualitas rumah sangat dipengaruhi oleh kualitas seorang ibu.
Namun, berhenti dari pekerjaan formal bukan berarti berhenti berkarya. Dunia telah berubah. Teknologi menghadirkan begitu banyak peluang yang memungkinkan perempuan tetap produktif dari mana saja. Menjadi penulis, mentor, konsultan, pelaku usaha digital, investor, hingga penggerak komunitas merupakan bentuk karya yang sama berharganya dengan pekerjaan di kantor.
Penelitian yang diterbitkan dalam Population and Development Review menunjukkan bahwa banyak perempuan di Indonesia keluar dari pekerjaan formal setelah memiliki anak pertama karena sulitnya menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa fleksibilitas kerja menjadi salah satu faktor penting yang mendorong perempuan tetap dapat berpartisipasi dalam dunia kerja. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan karena perempuan kehilangan kemampuan, melainkan karena sistem belum sepenuhnya mendukung mereka menjalankan dua peran sekaligus.
- Penulis: Sutanti Idris

Saat ini belum ada komentar