Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026
- account_circle Haairunnisah
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 48
- print Cetak

Haairunnisah, mahasiswi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) semester 4, dengan minat pada akuntansi sektor publik, kebijakan fiskal, serta analisis subsidi energi dan akuntabilitas anggaran negara.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Lebih jauh, subsidi yang terlalu besar juga membuka ruang terjadinya moral hazard. Harga energi yang relatif murah mendorong konsumsi berlebih dan mengurangi insentif untuk berhemat. Dalam jangka panjang, pola ini tidak hanya membebani anggaran, tetapi juga menghambat upaya menuju penggunaan energi yang lebih efisien.
Kritik publik terhadap pengelolaan APBN pun tidak bisa diabaikan. Isu pembengkakan anggaran, lemahnya pengawasan, hingga ketidaktepatan sasaran subsidi menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar berapa besar anggaran yang dikeluarkan, melainkan bagaimana kualitas pengelolaannya. Tanpa perbaikan mendasar, stabilitas fiskal yang terlihat saat ini berpotensi hanya menjadi ilusi.
Dalam kondisi seperti ini, menambah subsidi bukanlah pilihan yang mencerminkan akuntabilitas anggaran. Kebijakan tersebut mungkin memberikan kenyamanan jangka pendek, tetapi sekaligus memperbesar beban fiskal di masa depan. Sebaliknya, penyesuaian harga BBM secara bertahap yang disertai dengan subsidi tepat sasaran lebih mencerminkan tanggung jawab fiskal. Kebijakan ini lebih jujur dalam mencerminkan biaya ekonomi yang sebenarnya, sekaligus lebih adil karena bantuan difokuskan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan.
Namun, solusi ini tidak bisa berjalan tanpa perbaikan sistemik. Pemerintah perlu memperkuat transparansi fiskal melalui digitalisasi anggaran, sehingga informasi mengenai penerima subsidi dan realisasi belanja dapat diakses secara terbuka. Reformasi belanja negara juga harus diarahkan pada pengalihan subsidi dari berbasis komoditas menjadi berbasis penerima manfaat. Selain itu, peran pengawasan perlu diperkuat, baik oleh lembaga audit maupun masyarakat, untuk memastikan bahwa setiap rupiah anggaran digunakan secara efektif. Di sisi lain, kualitas pelaporan keuangan harus ditingkatkan dengan menekankan aspek kinerja, bukan sekadar kepatuhan administratif.
Pada akhirnya, persoalan defisit APBN 2026 bukan hanya soal menjaga angka tetap di bawah batas aman. Lebih dari itu, ini adalah ujian terhadap komitmen pemerintah dalam mewujudkan akuntabilitas anggaran yang sesungguhnya. Akuntabilitas tidak diukur dari seberapa rapi laporan disusun, tetapi dari seberapa tepat kebijakan diambil dan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat.
Jika struktur belanja tidak diperbaiki, terutama dalam hal subsidi energi, maka stabilitas fiskal yang terlihat hari ini hanya akan menjadi ketenangan semu. Dan seperti banyak pengalaman sebelumnya, ketenangan semu dalam kebijakan publik sering kali menjadi awal dari masalah yang lebih besar di kemudian hari.
- Penulis: Haairunnisah

Saat ini belum ada komentar