Cerdas Dan Tasamuh
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
- visibility 2
- print Cetak

Ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Seandainya Nabi masih hidup, mungkin kita akan langsung bertanya kepada Beliau mana yang benar puasa hari rabu atau puasa hari kamis, dan tentu akan selesai persoalan dan tidak ada lagi yang saling menyalahkan, nah hari ini terjadi lagi perbedaan. Apakah pada zaman Nabi pernah terjadi perbedaan dikalangan para sahabat?, tentu sering terjadi perbedaan, Dan Nabi sering tampil memberikan pemahaman atau memberi penilaian terhadap pendapat para sahabat yang berbeda.
Seperti hari ini yang terjadi, ada yang bertanya kapan anda puasa?, rabu apa kamis?, ikut muhammadiyah atau NU/menteri agama?, masing-masing ada pangikutnya, argumentasi dan dalil masing-masing. Lalu bagaimana orang yang tidak puasa hari rabu dalam pandangan orang yang puasa di hari rabu, apa mereka berdosa, dan bagaimana orang berpuasa di hari rabu, padahal belum masuk ramadhan menurut versi yang berpuasa hari kamis?. Ini problem kan?.
Kita ini masyarakat Indonesia sudah sangat berpengalaman dalam perbedaan pendapat, dan sangat cerdas dan tasamuh dalam menyikapi perbedaan, bertahun-tahun NU dan Muhammadiyah hidup dalam perbedaan pendapat, baik dengan tokoh-tokohnya masing-masing maupun secara keorganisasian dan sampai sekarang dalam penentuan awal ramadhan dan penentuan idul fitri itu masih sering berbeda pendapat, sekalipun kedua organisasi ini punya tokoh sentral yang sangat dikagumi oleh para pengikutnya.
Sederet tokoh-tokoh kedua organisasi tersebut, AR Fachruddin, KH Azhar Basyir, Syafi’i Ma’arif, Gus Dur, Hasyim Muzadi, Said Aqil Siradj, dan tokoh-tokoh lainnya mereka ini adalah tokoh yang punya pemikiran yang maju dan moderat, berbeda dalam organisasi tapi punya pemikiran yang sama sebagai garda terdepan dalam memajukan keislaman, kemanusiaan dan keindonesiaan.
Kembali kepada perbedaan di atas, dan perbedaan ini tidak boleh dipertentangkan, perbedaan ini masih dalam ranah khilafiyah. Dalam pandangan Prof Quraish dalam salah satu bukunya, menyangkut dialog ketika masing-masing menyatakan kebenaran, inilah gambaran arti khilafiyah dan inilah pandangan yang meyakini bahwa kebenaran dalam perincian ajaran agama hanya satu. Lebih lanjut Prof Quraish mengatakan, mari kita dengar mereka yang berpendapat bahwa dalam perincian boleh jadi kebenaran itu beragam, selama semua menuntut ridha Ilahi. Bukankah empat adalah dua kali dua, atau tiga tambah satu, atau dua tambah dua atau lainnya lagi.
Ada riwayat bahwa Rasulullah, pernah berpesan kepada sekelompok pasukan, “janganlah salat asar, seorang di antaramu, kecuali di perkampungan bani quraizhah.” Perjalanan demikian panjang, dan waktu asar telah hampir berlalu. Maka sebagian anggota kelompok melaksanakan shalat asar sebelum tiba di tempat yang dituju, sedangkan yang lain berpegang pada bunyi teks dan bersikeras melaksanakan di tempat yang dituju meskipun waktunya telah berlalu.
Dan persoalan ini dilaporkan kepada Nabi, Beliau tidak menyalahkan siapapun. Keduanya dibenarkan walaupun berbeda, dalam bahasa agama dikenal dengan tanawwu’ al-ibadah (keragaman cara beribadah). Nabi tidak menyalahkan salah satu dari kelompok yang berbeda dalam menyikapi perintah Nabi, karena keduanya sama-sama ingin mencari kebenaran dan ridha Ilahi.Dan perlu diingat yang seperti ini hanya diberikan dalam bidang furu’ (perincian ajaran), misalnya penetapan waktu idul fitri atau awal puasa dan yang berbeda pun harus harus memiliki otoritas ilmiah, mujtahid dalam bahasa hadisnya.
Lewat tulisan ini, saya mengapresiasi kedua organisasi terbesar di Indonesian ini, yakni Muhammadiyah dan NU, yang telah banyak berjasa dalam pengembangan pemikiran keagamaan, yang telah meletakkan dasar-dasar moderasi beragama di Indonesia, yang telah mengedukasi sebagian besar masyarakat Indonesia, baik dibidang keagamaan maupun dibidang sosial kemasyarakatan, jasa kedua organisasi besar ini, begitu terasakan dan ini salah bentuk sumbangan untuk kemajuan bangsa dan negara.
Prof Haedar Nashir, sang Ketua Umum PP Muhammadiyah, telah berpesan kepada kita semua menyangkut perbedaan di awal puasa ini, Beliau mengatakan bahwa dalam menyikapi perbedaan ini kita harus mengedepankan kecerdasan dan tasamuh, tentu kecerdasan yang dimaksud, bukan hanya kecerdasan intelektual atau punya argumentasi dalam berpendapat, juga kecerdasan emosional, bukan emosional yang kita kedepankan dalam menyikapi perbedaan tersebut, begitupun kecerdasan spiritual senantiasa menjadi basis dalam memperkuat dasar keagamaan kita, sehingga dalam menghadapi perbedaan, kita tidak mudah kaget dalam berbagai perbedaan furuiyyah.
Beruntunglah Indonesia ini yang telah ditopang kedua organisasi besar yaitu NU dan Muhammadiyah, mudah-mudahan tetap eksis dalam memberikan sumbangan atau sumbangsih terhadap eksistensi bangsa dan negara ke depan.
(Bumi Pambusuang, 17 Pebruari 2026)
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar