Fatimah bin al-Khattab: Pembuka Jalan Iman Umar bin Al-Khattab. (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #18)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
- visibility 177
- print Cetak

Ilustrasi momen ketika Fatimah binti al-Khattab dengan tegas membacakan ayat-ayat Surah Taha di hadapan kakaknya, Umar bin Khattab, yang kemudian menjadi titik awal perubahan hatinya hingga memeluk Islam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketika Umar tiba di rumah itu, Fatimah dan Sa’id sebenarnya sedang mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an bersama seorang sahabat Nabi, Khabbab bin al-Aratt. Mereka sedang membaca lembaran ayat dari Surah Taha. Mendengar langkah Umar mendekat, Khabbab segera bersembunyi.
Namun Umar sudah terlanjur masuk. Suasana tegang langsung terasa. Ia sebelumnya sempat mendengar sesuatu dari dalam rumah dan menuntut penjelasan. Perdebatan pun terjadi. Dalam kemarahan yang memuncak, Umar bahkan memukul Sa’id dan kemudian mengenai Fatimah yang mencoba melindungi suaminya.
Namun pada saat itulah sesuatu yang tidak disangka terjadi.
Fatimah berdiri dengan tegas di hadapan kakaknya. Dengan suara yang tetap tenang, ia mengatakan bahwa dirinya memang telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada rasa takut dalam ucapannya. Tidak ada pula keinginan untuk menarik kembali keyakinannya.
Sikap itu membuat Umar terdiam sejenak. Ia melihat darah di wajah adiknya sendiri, tetapi perempuan itu tetap teguh dengan keyakinannya. Kemarahan Umar perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu.
Ia lalu meminta agar Fatimah membacakan ayat yang sempat ia dengar tadi.
Fatimah tidak langsung melakukannya. Ia meminta Umar terlebih dahulu membersihkan diri. Setelah Umar melakukannya, barulah ia membacakan ayat-ayat tersebut.
Umar mulai mendengar dengan seksama ayat-ayat dari Surah Taha yang dibaca Fatimah. Kata demi kata yang ia simak perlahan mengubah suasana hatinya. Ayat-ayat itu terdengar berbeda dari apa pun yang pernah ia dengar sebelumnya.
Ketika Fatimah selesai membaca, sesuatu dalam diri Umar berubah. Kemarahan yang tadi membara kini mereda. Ia lalu bertanya di mana Muhammad berada.
Saat itulah Khabbab bin al-Aratt keluar dari persembunyiannya. Ia mengatakan bahwa Nabi sedang berada di rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam bersama para sahabat.
Umar kemudian berjalan ke sana. Pertemuan itu akhirnya mengubah arah hidupnya. Di hadapan Nabi Muhammad, Umar menyatakan keislamannya.
Sejak hari itu, sejarah Islam bergerak ke babak baru. Umar yang sebelumnya menjadi penentang keras justru berubah menjadi salah satu pembela paling kuat bagi Islam. Keberaniannya memberikan kekuatan moral bagi kaum Muslimin yang sebelumnya sering hidup dalam tekanan.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar