Homo MBGiens
- account_circle Muhammad Suryadi R
- calendar_month Senin, 9 Mar 2026
- visibility 266
- print Cetak

Muhammad Suryadi R/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Setiap hari, orang datang membawa wadah itu, berdiri dalam antrean, menunggu makanan dibagikan. Menunggu ompreng makanan bergizi -seharga Rp. 8.500- yang di dalamnya berisi nasi, lauk, dan sayur. Ompreng kini perlahan menjadi tanda zaman, yang mana sebuah peradaban tidak lagi sepenuhnya ditopang oleh kerja manusia, tetapi ditentukan pola makan yang telah diatur oleh negara: Makan Bergizi Gratis.
Makan Bergizi Gratis sesungguhnya merupakan program yang (berniat) sungguh mulia. Tujuannya jelas: memastikan masyarakat, terutama anak-anak sekolah -dari semua tingkatan baik swasta maupun negeri- mendapatkan makanan yang layak bukan lezat. Dalam banyak kasus, program semacam ini membantu keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, meski hanya tertulis dalam angka dan statistik.
Tetapi, kebijakan kerap menampilkan dua sisi sekaligus. Ketika pemberian makanan dilakukan terus-menerus dan menjadi rutinitas wajib, maka secara tidak langsung akan membentuk pola pikir dan kebiasaan baru. Generasi yang tumbuh dari pola semacam ini bisa saja akan memandang makanan bukan lagi sebagai hasil dari usaha, tetapi sebagai sesuatu yang datang dan didistribusi oleh negara. Tanpa disadari, negara bukan hanya menyuap makan setiap hari. Negara juga turut andil besar membentuk pola hidup baru.
Homo MBGiens: Evolusi yang Aneh
Sekali lagi, ompreng bukan sekadar wadah makanan. Ia sekaligus membawa pesan simbolik. Bahwa kebutuhan hidup, terutama makanan, datang tanpa proses panjang dari bekerja. Jika kebiasaan ini terus berulang, maka nalar manusia perlahan tersisih oleh ingatan terhadap ompreng. Rasionalitas yang seharusnya menjadi alat intelektualitas anak-anak sekolah digeser oleh wadah makanan yang datang setiap lima hari yang bernama ompreng itu. Kebiasaan ini akan menggeser banyak hal. Pergeseran dari papan tulis ke dapur. Dari pulpen ke ompreng. Dan pikiran turun ke perut.
- Penulis: Muhammad Suryadi R

Saat ini belum ada komentar