Homo MBGiens
- account_circle Muhammad Suryadi R
- calendar_month Senin, 9 Mar 2026
- visibility 267
- print Cetak

Muhammad Suryadi R/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di sinilah MBGiens menemukan bentuk akhirnya, yakni seorang manusia yang hidup dan bergantung pada seompreng makanan dari negara. Generasi hidup dalam sistem distribusi yang teratur, generasi yang terbiasa menyesuaikan hidupnya dengan jadwal dan antrian, dan generasi yang mulai memandang makanan sebagai bantuan yang terberi bukan dari bekerja. Ini bukan lagi soal kebijakan yang baik, tapi perlahan mengubah ekosistem menjadi ekosistem yang kacau kalau tidak ingin dikatakan buruk.
Evolusia manusia dalam tahapan ini adalah evolusi yang aneh. Aneh dalam istilah, perkakas, dan kebiasaan. Makan bergizi gratis awal mula keanehan ini. Di saat dunia pendidikan kita keropos karena kualitas pengajar dan kualitas sistem yang keropos, MBG hadir di tengah-tengah problem itu. Negara menghadirkannya dengan optimisme “tambah dua orang gas” bahwa pemenuhan gizi anak-anak adalah solusi pendidikan Indonesia dan stunting nasional. Dan kita melihat, dapur-dapur didirikan. Rekrutmen petugas dilaksanakan secara massif. Masyarakat menerima surplus dengan menjadi penerima manfaat.
Tetapi yang terlihat yakni lahirnya Homo MBGiens, sebuah generasi manusia yang bertumbuh di era MBG. Generasi dengan nutrisi dan kalorinya serba diatur. Padahal petugas dan pekerja MBG belum tentu nutrisi dan kalorinya tercukupi setiap hari; generasi dengan buruk atau baiknya gizi ditentukan oleh seompreng nasi. Padahal anak pemulung yang hidup di jalanan setiap hari jauh lebih kuat dibanding anak yang makan MBG setiap hari; generasi yang diharuskan mengabarkan manfaat MBG. Padahal tidak sedikit ompreng terisi makanan yang tidak habis. Satu hal yang pasti, apapun masalahnya MBG tetap harus jalan, jaya, jaya, jaya.
(Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi dan Peneliti Parametric Development Center)
- Penulis: Muhammad Suryadi R

Saat ini belum ada komentar