Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kesederhanaan dan Akhlak yang berumur panjang: Membaca Kharisma Imam Lapeo

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • visibility 58
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam kajian sosiologi klasik, Max Weber memperkenalkan konsep otoritas kharismatik sebagai salah satu sumber legitimasi sosial. Menurut Weber, kharisma muncul ketika seorang individu dipercaya memiliki kualitas luar biasa—kesucian, keberanian, atau kemampuan spiritual—yang membuatnya dipandang berbeda dari orang kebanyakan. Legitimasi figur tersebut tidak bersumber dari hukum formal ataupun tradisi, melainkan dari keyakinan para pengikut bahwa ia memiliki sesuatu yang istimewa.

Namun, jika kita menengok pengalaman sosial di banyak masyarakat lokal, konsep ini kadang menemukan bentuk yang lebih subtil. Ingatan kolektif masyarakat Mandar tentang Imam Lapeo, misalnya, memperlihatkan sebuah model kharisma yang tidak selalu sejalan dengan gambaran Weberian yang dramatis.

Dalam banyak cerita yang beredar secara lisan, Imam Lapeo tidak dikenang sebagai ulama yang menampilkan keistimewaan dirinya secara spektakuler. Ia justru diingat sebagai sosok yang hidup sederhana, belajar tanpa merasa selesai, dan mengajar tanpa merasa lebih tinggi dari orang lain. Ilmu, bagi beliau, tidak berhenti pada kitab atau mimbar, tetapi hadir dalam percakapan sehari-hari, dalam nasihat yang tenang, dan dalam sikap hidup yang rendah hati.

Salah satu kisah kecil yang sering diceritakan orang-orang tua di Mandar menggambarkan hal ini dengan cukup jelas. Dikisahkan seorang pemuda pulang dari perantauan setelah bertahun-tahun belajar agama. Ia datang dengan bekal pengetahuan yang tidak sedikit, namun juga membawa kegelisahan. Di kampung halaman, masyarakat tidak memperlakukannya secara istimewa sebagaimana yang ia bayangkan. Ia merasa ilmunya tidak mendapatkan pengakuan.

Ketika kegelisahan itu disampaikan kepada Imam Lapeo, sang ulama tidak memberikan nasihat panjang. Ia hanya mengajak pemuda itu berjalan menyusuri kampung hingga mereka tiba di sebuah ladang. Di sana seorang petani tua bekerja di bawah matahari, dengan tangan penuh tanah dan baju yang basah oleh keringat.

Imam Lapeo kemudian berkata pelan, “Ia mungkin tidak membaca kitab seperti yang engkau baca. Tetapi setiap pagi ia bangun sebelum fajar, salat, bekerja dengan jujur, dan tidak pernah mengambil hak orang lain. Jika ilmumu membuatmu lebih dekat kepada Tuhan dan lebih lembut kepada manusia, orang akan merasakannya tanpa perlu engkau ceritakan.”

Dan beberapa kisah yang diwariskan secara lisan juga menyambungkan ilmu dan keteladanan dari Imam Lapeo dalam menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari di tengah masyarakat. Banyak dari kisah tersebut mencerminkan kecakapan serta kedalaman pembacaannya terhadap realitas sosial yang dihadapi umat.

Kisah ini menarik dalam diskursus pengetahuan Sosiologi Agama. Dalam kerangka Weber, kharisma sering dipahami sebagai sesuatu yang menonjol—sebuah kualitas luar biasa yang membuat seseorang tampak berbeda dari masyarakat di sekitarnya. Tetapi dalam kisah Imam Lapeo, legitimasi moral justru tidak lahir Semata dari penonjolan diri, melainkan dari kemampuan menyatu dengan kehidupan sosial yang sederhana.

Alih-alih mempertegas jarak antara ulama dan masyarakat, Imam Lapeo justru meruntuhkan jarak itu. Ia menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dibicarakan dalam kitab—kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan—bisa hidup dalam keseharian seorang petani. Dalam konteks ini, kharisma tidak dibangun melalui klaim keistimewaan, melainkan melalui konsistensi antara pengetahuan dan praktik hidup.

Penghormatan masyarakat kepada seorang ulama, dalam banyak tradisi lokal, memang sering lahir secara organik. Ia tumbuh dari pengalaman kolektif masyarakat yang melihat bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Orang tidak menghormati seseorang semata karena ia mampu mengutip kitab atau menjelaskan teori, tetapi karena mereka merasakan dampak dari ilmunya, sikapnya ,kata-katanya yzng menenangkan, dan tindakannya adil juga bijaksana.

Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat, pelajaran ini terasa semakin relevan. Pengetahuan hari ini beredar dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Diringkas dan kerap disimplifikasi untuk kebutuhan tertentu. Kemudahan ini tentu membawa manfaat besar. Tetapi ia juga melahirkan gejala lain, pengetahuan sering tampil lebih cepat daripada kedewasaan untuk memahaminya. Tidak jarang pengetahuan berubah menjadi simbol identitas—dipamerkan dalam perdebatan, di media sosial, atau dalam ruang-ruang diskusi—seolah-olah nilai sebuah gagasan baru terlihat ketika ia sudah diakui orang lain.

Dalam situasi seperti ini, kisah tentang Imam Lapeo menghadirkan pengingat yang sederhana namun penting di refleksikan bahwa Ilmu tidak selalu perlu dibuktikan melalui klaim. Jika ia benar-benar hidup dalam diri seseorang, masyarakat akan merasakannya secara perlahan.

Dalam fenomena ini ada celah kritik bagi teori kharisma Weber. Jika kharisma sering dipahami sebagai kualitas yang membuat seseorang tampak luar biasa, pengalaman sosial seperti yang ditunjukkan oleh kisah Imam Lapeo memperlihatkan bahwa kharisma juga bisa lahir dari sesuatu yang tampak sebaliknya: kerendahan hati yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam arti tertentu, kharisma tidak selalu muncul dari kemampuan untuk menonjol, tetapi dari kemampuan untuk menjalani nilai-nilai yang diyakini tanpa banyak suara. Dan mungkin justru karena itulah sosok seperti Imam Lapeo tetap hidup dalam ingatan masyarakat—bukan karena spektakel keilmuannya, tetapi karena ketenangan cara ia mempraktikkan ilmunya di tengah kehidupan.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Maros Musnahkan 359 Gram Narkoba, Selamatkan 7.000 Warga dari Ancaman Penyalahgunaan

    Polres Maros Musnahkan 359 Gram Narkoba, Selamatkan 7.000 Warga dari Ancaman Penyalahgunaan

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Polres Maros memusnahkan barang bukti (BB) narkoba hasil pengungkapan Satres Narkoba selama tiga bulan terakhir. Pemusnahan dipimpin langsung Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, di halaman Mapolres Maros, Jumat (5/12/2025). Total BB yang dimusnahkan mencapai 359 gram dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp500 juta. Polisi menyebut jumlah tersebut setara dengan penyelamatan sedikitnya 7.000 […]

  • Kontroversi Abah Aos dan Ujian Akidah Umat di Era Media Sosial

    Kontroversi Abah Aos dan Ujian Akidah Umat di Era Media Sosial

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Nur Shollah Bek
    • visibility 197
    • 0Komentar

    “Menimbang Klaim Spiritual dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan Akal Sehat” Nama Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul—yang dikenal luas sebagai Abah Aos—kembali menjadi pusat perhatian publik. Tokoh spiritual Tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) asal Ciamis, Jawa Barat ini menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan umat Islam akibat sejumlah pernyataan yang beredar luas di media sosial dan dinilai […]

  • Parkir di Gorontalo Kini Cukup Bayar Sekali Setahun, Ini Tarif Lengkapnya

    Parkir di Gorontalo Kini Cukup Bayar Sekali Setahun, Ini Tarif Lengkapnya

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 107
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo resmi menerapkan program parkir berlangganan sebagai terobosan baru dalam pelayanan perparkiran. Melalui program ini, masyarakat cukup membayar satu kali untuk masa berlaku satu tahun, tanpa perlu lagi mengeluarkan biaya setiap kali memarkir kendaraan di tepi jalan umum. Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Gorontalo, Rahmanto Idji, menjelaskan bahwa kebijakan […]

  • Reses di Boalemo, Aleg DPRD Gorontalo Muhammad Dzikyan Serap Aspirasi Soal Bantuan Sosial hingga Lapangan Kerja Pemuda

    Reses di Boalemo, Aleg DPRD Gorontalo Muhammad Dzikyan Serap Aspirasi Soal Bantuan Sosial hingga Lapangan Kerja Pemuda

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 120
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan (Dapil) Pohuwato–Boalemo, Muhammad Dzikyan, menggelar kegiatan reses di Desa Bongo Dua, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo untuk menyerap berbagai aspirasi masyarakat, Jumat (6/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, warga menyampaikan sejumlah persoalan mulai dari perubahan data bantuan sosial, kerusakan infrastruktur desa, hingga minimnya program pemberdayaan pemuda. Dzikyan yang juga Ketua […]

  • Menggeser Stigma Negatif Wanita Bercadar

    Menggeser Stigma Negatif Wanita Bercadar

    • calendar_month Rabu, 26 Okt 2022
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 5
    • 0Komentar

    Wanita bercadar kembali menjadi isu nasional setelah peristiwa penangkapan seorang wanita bersenjata oleh aparat keamanan di Istana Negara, pada Selasa, 26 Oktober 2022.  Berita ini viral di semua media cetak maupun media online. Oleh karena  wanita bersenjata ini mengenakan cadar dalam penampilannya, maka simbol “cadar” kembali menjadi sorotan yang mengiringi pemberitaan. Di media terdapat dua […]

  • Diduga Terlibat Tambang Ilegal PT. Smart Marsindo di Pulau gebe, KIBAR Desak DPP PDIP Pecat Shanty Alda Nathalia

    Diduga Terlibat Tambang Ilegal PT. Smart Marsindo di Pulau gebe, KIBAR Desak DPP PDIP Pecat Shanty Alda Nathalia

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 91
    • 0Komentar

    JAKARTA – Gelombang unjuk rasa besar menyambangi Kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, pada hari ini, Jumat, 6 Maret 2026. Massa yang tergabung dalam Koalisi Independen Bersama Rakyat (KIBAR) menuntut tindakan tegas dan pemecatan terhadap Shanty Alda Nathalia, yang menjabat sebagai anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PDI-P sekaligus […]

expand_less