Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menghidupkan Kembali Gagasan Gus Dur: Tantangan bagi NU di Daerah

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Selasa, 29 Mar 2022
  • visibility 1
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Salah satu agenda penting Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum dan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam adalah menghidupkan kembali pemikiran KH. Abdurrahman Wahid, atau yang akrab dikenal sebagai Gus Dur. Pertanyaannya, seperti apa upaya menghidupkan gagasan tersebut, dan bagaimana implikasinya bagi NU di tingkat daerah?

PBNU yang baru saja dikukuhkan berkomitmen untuk menghidupkan kembali strategi serta gagasan yang pernah dikembangkan Gus Dur ketika memimpin jam’iyyah terbesar di Indonesia ini. Misi tersebut bukan sekadar wacana, melainkan lahir dari pembacaan yang mendalam terhadap dinamika organisasi dan kebutuhan umat. Karena itu, visi untuk menghidupkan kembali pemikiran Gus Dur semestinya tidak hanya menjadi agenda pusat, tetapi juga diterjemahkan secara nyata oleh kepemimpinan NU di tingkat wilayah maupun cabang.

Menurut Gus Yahya, struktur NU di berbagai tingkatan harus benar-benar berfungsi dan dirasakan kehadirannya oleh jamaah. Artinya, kepengurusan di tingkat Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) perlu mampu memetakan kebutuhan serta keresahan warga NU di berbagai lapisan. Hal ini sejalan dengan teladan Gus Dur yang selalu hadir dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat.

Pemikiran Gus Dur yang Tetap Relevan

Menurut Gus Yahya, pemikiran Gus Dur memiliki relevansi yang panjang dan tetap kontekstual hingga hari ini. Visi dan idealisme Gus Dur ketika memimpin PBNU pernah dirasakan secara nyata oleh warga NU di berbagai daerah. Oleh karena itu, PWNU dan PCNU perlu berjalan seirama dalam menghidupkan kembali pemikiran dan strategi tersebut.

Upaya ini kemudian dijabarkan oleh PBNU melalui berbagai program strategis. Salah satu langkah penting adalah memastikan bahwa struktur organisasi di tingkat daerah berjalan selaras dengan kebijakan pusat. Melalui mekanisme ini, program-program nasional PBNU akan didistribusikan hingga ke tingkat ranting.

PBNU juga berkomitmen untuk melibatkan struktur NU di berbagai tingkatan dalam pelaksanaan program-program tersebut. Dengan cara ini, hubungan komunikasi antara PBNU, wilayah, cabang, hingga ranting dapat terbangun secara lebih efektif.

Tujuan dari langkah ini tidak sekadar menjalankan program pemberdayaan organisasi. Lebih jauh, program-program tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi proses konsolidasi organisasi yang lebih sistemik di seluruh jenjang kepengurusan NU.

Realitas NU di Gorontalo

Dalam konteks daerah, para pemimpin NU di tingkat wilayah dan cabang sudah saatnya menyiapkan diri untuk menerjemahkan visi besar tersebut. Struktur kepengurusan di berbagai jenjang perlu segera diaktifkan, termasuk lembaga-lembaga yang menjadi perangkat organisasi.

Lembaga-lembaga inilah yang pada akhirnya akan menjadi pelaksana berbagai program strategis PBNU di tingkat daerah hingga ranting. Tanpa aktivasi lembaga-lembaga tersebut, visi besar PBNU tentu akan sulit diwujudkan secara nyata.

Di sisi lain, kepengurusan NU di daerah juga perlu menanggalkan ego sektoral yang selama ini kerap menghambat konsolidasi organisasi. PWNU dan PCNU di Gorontalo, misalnya, perlu duduk bersama untuk menyatukan persepsi sekaligus menghidupkan kembali perangkat-perangkat organisasi demi mewujudkan visi PBNU: menghidupkan kembali gagasan Gus Dur.

Pada akhirnya, pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama adalah: apakah NU di Gorontalo mampu bersatu dan bekerja bersama untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut?

Wallahu a’lam.

  • Penulis: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ummu Athiyah, Sang Juru Rawat di Medan Perang (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #8)

    Ummu Athiyah, Sang Juru Rawat di Medan Perang (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #8)

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Ummu ‘Athiyah al‑Ansariyah adalah sahabat perempuan dari kalangan Anshar yang hidup dan beraktivitas di Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW. Sumber-sumber klasik mencatat namanya sebagai Nusaibah binti al-Harith, meskipun terdapat variasi penulisan nasabnya di berbagai teks sejarah. Identitasnya sebagai sahabat yang aktif tetap konsisten dalam riwayat yang sampai kepada generasi setelahnya. Ummu ‘Athiyah ikut terlibat […]

  • Pemprov Sulsel Genjot Preservasi Jalan Paket 3 Senilai Rp478,1 Miliar, Ruas Strategis di Pinrang Dikebut

    Pemprov Sulsel Genjot Preservasi Jalan Paket 3 Senilai Rp478,1 Miliar, Ruas Strategis di Pinrang Dikebut

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 91
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) terus menggenjot penanganan preservasi jalan melalui Paket 3 dengan total anggaran mencapai Rp478,1 miliar. Program ini mencakup penanganan jalan sepanjang 254,85 kilometer yang tersebar di 15 ruas jalan pada sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan. Salah satu ruas yang saat ini tengah dikerjakan berada di Kabupaten Pinrang, yakni […]

  • Dianggap Lalai Atasi Pencemaran Sungai, IMCI Layangkan Peringatan Darurat ke Bupati dan DLH Kabupaten Cirebon

    Dianggap Lalai Atasi Pencemaran Sungai, IMCI Layangkan Peringatan Darurat ke Bupati dan DLH Kabupaten Cirebon

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Ikatan Mahasiswa Cirebon Indonesia (IMCI) melontarkan kritik tajam terhadap Pemerintah Kabupaten Cirebon, khususnya Bupati Cirebon Drs. H. Imron, M.Ag. dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), atas kegagalan bertahun-tahun dalam mengatasi pencemaran limbah industri batu alam di aliran sungai yang berhulu di Dukupuntang dan dikenal luas sebagai Sungai Jamblang. Sekretaris Umum IMCI, Barri Niko, menegaskan bahwa pencemaran […]

  • NU di Persimpangan Jalan: Analisis Geopolitik dan Sosio-Keagamaan

    NU di Persimpangan Jalan: Analisis Geopolitik dan Sosio-Keagamaan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di dunia tengah menghadapi ujian eksistensial yang menempatkannya pada persimpangan jalan sejarah yang krusial. Memasuki akhir tahun 2025, organisasi ini terjebak dalam pusaran konflik internal yang melibatkan dua pilar utamanya, jajaran Syuriyah yang merepresentasikan otoritas ulama dan jajaran Tanfidziyah sebagai pelaksana organisatoris. Ketegangan ini bukan sekadar perselisihan […]

  • KUHP dan KUHAP Versi Baru Resmi Berlaku, Sejumlah Pasal Jadi Sorotan Publik

    KUHP dan KUHAP Versi Baru Resmi Berlaku, Sejumlah Pasal Jadi Sorotan Publik

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 217
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) versi terbaru resmi mulai berlaku pada Jumat (2/12/2025). Pemberlakuan KUHAP baru ini melengkapi reformasi hukum pidana nasional setelah sebelumnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) disahkan lebih dahulu sebagai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023. KUHP baru ditandatangani Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada 2 Januari 2023. Selanjutnya, DPR […]

  • 500 Tahun Ramadan di Gorontalo

    500 Tahun Ramadan di Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Praktek berpuasa bagi umat Islam selama bulan Ramadan telah berlangsung ribuan kali sejak era Nabi. Khusus untuk kita di Gorontalo, puasa baru berlangsung sekitar 500 tahun. Hitungan “kasar” ini bermula dari tahun 1525 sejak Islam menjadi agama resmi di Gorontalo. Artinya, untuk Gorontalo sendiri, baru 500 kali puasa Ramadan dilangsungkan. Bagi peradaban lain, puasa Ramadan […]

expand_less