NU dan PR Kesenjangan Kultur dan Struktur (Bagian 1)
- account_circle Abdullah Aniq Nawawi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 87
- print Cetak

Ilustrasi sinergi antara nahdliyyin kultural dan struktural, menggambarkan jembatan antara tradisi akar rumput dan kepemimpinan organisasi dalam membangun Nahdlatul Ulama yang kuat dan berkelanjutan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam banyak kasus, nahdliyyin kultural justru menunjukkan keikhlasan yang sangat kuat dalam menjaga tradisi NU. Hal ini karena keterlibatan mereka tidak terikat oleh masa khidmat kepengurusan dan tidak pula didorong oleh target-target pribadi tertentu. Mereka ber-NU karena kecintaan terhadap tradisi dan nilai yang diwariskan oleh para ulama.
Namun di sinilah muncul persoalan. Banyak nahdliyyin kultural yang tidak aktif dalam kepengurusan struktural NU. Ketidakterlibatan mereka bisa disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, sebagian dari mereka memang tidak terlalu tertarik dengan mekanisme kerja organisasi yang cenderung formal, prosedural, dan birokratis. Kedua, tidak sedikit nahdliyyin kultural yang merasa kalah panggung dengan mereka yang lebih dominan dalam struktur organisasi. Ketiga, ada pula kemungkinan bahwa mereka memang tidak dilibatkan secara serius dalam kepengurusan.
Di sisi lain, nahdliyyin struktural memiliki peran yang sangat penting dalam menjalankan tugas-tugas kelembagaan NU. Mereka berperan dalam pengambilan keputusan, pengelolaan organisasi, serta representasi NU dalam berbagai forum resmi.
Akan tetapi, dalam beberapa kasus, terdapat pengurus struktural yang justru tidak lahir dari basis sosial NU. Sebagian dari mereka bahkan berasal dari lingkungan yang tidak memiliki kedekatan dengan tradisi NU. Namun karena memiliki kedekatan dengan pihak-pihak yang memegang kewenangan dalam penentuan kepengurusan, mereka akhirnya masuk ke dalam struktur NU.
- Penulis: Abdullah Aniq Nawawi

Saat ini belum ada komentar