Breaking News
light_mode
Trending Tags

NU dan PR Kesenjangan Kultur dan Struktur (Bagian 1)

  • account_circle Abdullah Aniq Nawawi
  • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
  • visibility 770
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Fenomena ini menimbulkan persoalan lain. Tidak sedikit nahdliyyin struktural yang berhenti aktif dalam kegiatan NU ketika masa khidmat kepengurusannya berakhir. Setelah tidak lagi menjadi pengurus, mereka juga tidak lagi terlibat dalam aktivitas NU. Selain itu, keterlibatan sebagian nahdliyyin struktural terkadang juga diiringi oleh orientasi tertentu, seperti target jabatan atau kepentingan politik.

Lalu bagaimana menjawab persoalan ini?
Tentu saja kondisi yang paling ideal adalah ketika nahdliyyin kultural yang memiliki kecintaan mendalam terhadap NU, aktif dalam kegiatan keagamaan, serta dekat dengan masyarakat akar rumput, juga menjadi bagian dari kepengurusan struktural NU.

Dengan kata lain, akan sangat ideal jika seorang nahdliyyin kultural pada saat yang sama juga menjadi nahdliyyin struktural.

Dengan demikian, struktur organisasi NU akan diisi oleh orang-orang yang tidak hanya memiliki posisi formal, tetapi juga memiliki akar kultural yang kuat dalam tradisi NU.

Tugas Ketua Umum Nahdlatul Ulama ke depan adalah mencari formulasi yang tepat agar kondisi ideal tersebut dapat tercipta. Kita tentu tidak ingin kelembagaan NU dipimpin dan diisi oleh orang-orang yang tidak memahami problem akar rumput NU. Jika hal itu terjadi, maka sangat mungkin kepengurusan NU akan menyusun program-program yang tidak memiliki korelasi dengan persoalan nyata yang dihadapi warga nahdliyyin.

Di sisi lain, kita juga tidak ingin melihat nahdliyyin kultural tiba-tiba menempati posisi struktural secara instan hanya karena memiliki pengaruh di akar rumput, tanpa melalui proses kaderisasi dan tanpa pernah berkhidmah dalam kepengurusan sebelumnya. Karena kondisi ini akan melahirkan pengurus yang tidak professional, gagap dalam menjalankan roda organisasi, meskipun ia memiliki kedekatan dengan basis NU.

Kondisi ideal yang perlu diupayakan adalah lahirnya pengurus-pengurus NU yang memiliki ikatan kuat dengan akar rumput, memahami kondisi sosial masyarakat nahdliyyin, serta mampu menyusun program-program yang berangkat dari problem sosial yang nyata di tengah masyarakat. Pada saat yang sama, mereka juga harus profesional dalam menjalankan roda organisasi, serta menghormati tahapan-tahapan dalam proses berorganisasi.

Penulis : Katib Syuriyah PWNU Gorontalo

  • Penulis: Abdullah Aniq Nawawi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 630
    • 0Komentar

    Lebih lanjut, Aras mengaitkan fenomena ini dengan apa yang ia sebut sebagai krisis epistemik dalam birokrasi modern situasi ketika bahasa kekuasaan menggantikan bahasa akuntabilitas. “Jawaban ‘pokoknya ada’ adalah bentuk simplifikasi yang berbahaya. Ia mengaburkan proses, menutupi struktur, dan menghilangkan jejak akuntabilitas. Publik tidak hanya berhak tahu ‘ada’, tetapi juga ‘dari mana’, ‘bagaimana’, dan ‘untuk siapa’ […]

  • How Jakarta and Singapore Are Redefining Resilience Amid a Climate Crisis

    How Jakarta and Singapore Are Redefining Resilience Amid a Climate Crisis

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Pramono Pido
    • visibility 200
    • 0Komentar

    A comparative analysis of Jakarta and Singapore reveals distinct limitations in urban resilience. Jakarta contends with pronounced environmental risks and uneven development, whereas Singapore encounters more nuanced challenges related to governance and civil liberties. These cases illustrate that resilience is inherently multidimensional. Physical infrastructure alone is insufficient, and technological efficiency without social trust remains vulnerable. […]

  • Barira: Muktabah, Wala, dan Hak Pilih dalam Pernikahan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 14)

    Barira: Muktabah, Wala, dan Hak Pilih dalam Pernikahan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 14)

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Setelah merdeka, Barira menghadapi persoalan lain dalam rumah tangganya. Ia sebelumnya menikah dengan seorang budak bernama Mughits. Dalam hukum Islam, ketika seorang budak perempuan menjadi merdeka sementara suaminya masih budak, ia memiliki hak untuk memilih tetap dalam pernikahan atau berpisah. Barira memilih untuk berpisah. Mughits sangat mencintainya dan diriwayatkan merasa sedih atas keputusan itu. Nabi […]

  • Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    Lailatulqadar: Mengapa Harus Malam?

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Hari, bulan dan tahun merupakan siklus hidup manusia yang diukur menurut satuan waktu dengan berdasarkan peredaran bumi, bulan dan matahari. Siklus hari manusia terbagi dalam dua babakan, yaitu malam dan siang. Dalam penciptaan keduanya, begitu sangat istimewa sehingga Allah mengulang-ulang penciptaan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikir (QS. 3:190, 11:3, 16:12, 23:80, […]

  • Pemkab Maros Serahkan SK 4.639 ASN P3K Paruh Waktu, Bupati: Ini Kekuatan Besar Pelayanan Publik

    Pemkab Maros Serahkan SK 4.639 ASN P3K Paruh Waktu, Bupati: Ini Kekuatan Besar Pelayanan Publik

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Dari sisi anggaran, Bupati mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Maros telah menyiapkan dana yang tidak sedikit. Sekitar Rp4 miliar per bulan atau setara Rp48 miliar per tahun dialokasikan untuk pembayaran gaji ASN P3K paruh waktu. Ia menegaskan, kebijakan ini lahir dari perencanaan matang dan komitmen kuat pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan aparatur dan kualitas layanan publik. […]

  • Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — M. Arafah Alias Arpah, dari PP HPPMI Maros, menyampaikan keprihatinan serius sekaligus kecaman tegas terhadap kondisi Jalan Trans Sulawesi di wilayah Kabupaten Maros yang hingga saat ini terus mengalami kerusakan berulang, meskipun telah dilakukan penanganan oleh pihak terkait. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah titik jalan yang sebelumnya berlubang telah dilakukan penambalan, […]

expand_less