Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis
- account_circle Afidatul Asmar
- calendar_month Senin, 9 Mar 2026
- visibility 169
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Seperti halnya sutra Bugis yang ditenun helai demi helai, takwa pun dibangun melalui latihan yang berulang: menahan diri, menahan emosi, menahan keserakahan. Ramadhan adalah bulan ketika manusia belajar menenun dirinya sendiri.
Filosofi Cura’ La’ba
Dalam tradisi tenun Bugis, terdapat konsep yang dikenal sebagai Cura’ La’ba, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai ragam motif yang memiliki makna luas dan mendalam.
Motif-motif pada Lipa’ Sa’be tidak dibuat secara sembarangan. Setiap pola memiliki simbol, mulai dari motif Cura’ Cadi, Siko-Siko, hingga Dang Cobo yang menggambarkan keseimbangan hidup.
Dalam perspektif antropologi budaya, simbol seperti ini disebut sebagai sistem makna sosial. Antropolog terkenal Clifford Geertz menyebut budaya sebagai “jaringan makna” yang ditenun oleh manusia sendiri.
Menariknya, Islam juga menggunakan simbol-simbol spiritual yang membentuk kehidupan manusia. Puasa bukan hanya menahan diri, tetapi juga menenun makna dalam kehidupan sehari-hari.
Sutra dalam Sejarah Peradaban
Sejak abad ke-13, sutra dari Sulawesi sudah dikenal dalam jaringan perdagangan dunia. Catatan perjalanan Marco Polo bahkan menyebutkan bahwa wilayah Asia Tenggara memiliki komoditas tekstil yang sangat diminati oleh pedagang internasional.
Dalam sejarah jalur perdagangan global yang dikenal sebagai Silk Road, sutra menjadi simbol kemewahan sekaligus simbol peradaban.
- Penulis: Afidatul Asmar

Saat ini belum ada komentar