Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis

  • account_circle Afidatul Asmar
  • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
  • visibility 171
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Menariknya, para ulama sering menggambarkan proses pembentukan karakter manusia dengan metafora kerja yang penuh kesabaran. Sebagaimana tanah yang harus diolah sebelum ditanami, atau besi yang harus ditempa sebelum menjadi kuat, demikian pula manusia yang harus melalui latihan spiritual agar menjadi pribadi yang matang. Dalam konteks ini, puasa tidak hanya melatih tubuh menahan lapar, tetapi juga melatih jiwa untuk menahan ego, amarah, dan keinginan yang berlebihan.

Di sinilah kebudayaan lokal sering kali menyimpan pelajaran moral yang tidak kalah dalam dibandingkan dengan teori-teori sosial modern. Tradisi menenun sutra Bugis, misalnya, secara simbolik mengajarkan bahwa kehidupan adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran kolektif. Ketika generasi muda mulai meninggalkan tradisi ini, yang hilang sebenarnya bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga nilai-nilai kesabaran dan ketekunan yang diwariskan melalui praktik budaya tersebut.

Karena itu, menjaga tradisi seperti Lipa’ Sa’be bukan semata-mata upaya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Dalam bulan Ramadhan, pesan ini terasa semakin relevan: bahwa manusia yang baik tidak lahir dari proses yang instan, tetapi dari kesabaran yang dirawat, dari karakter yang ditempa, dan dari nilai-nilai yang ditenun perlahan dalam perjalanan hidupnya.

Ramadhan dan Kesabaran yang Ditenun

Puasa Ramadhan sering dipahami sebagai ibadah menahan lapar dan haus. Namun dalam Al-Qur’an, tujuan puasa jauh lebih dalam.

Allah berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Dalam tafsirnya, Ibn Kathir menjelaskan bahwa takwa dalam ayat ini lahir dari latihan kesabaran dan pengendalian diri. Dengan kata lain, puasa adalah proses menenun karakter manusia.

  • Penulis: Afidatul Asmar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panggung, Disabilitas, dan Kurikulum Berbasis Cinta (Catatan Review and Design in Islamic Education Ditjen Pendis Kemenag RI)

    Panggung, Disabilitas, dan Kurikulum Berbasis Cinta (Catatan Review and Design in Islamic Education Ditjen Pendis Kemenag RI)

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Saya cenderung skeptis terhadap doa dan pembacaan kitab suci dalam acara seremonial. Bukan karena keduanya kehilangan legitimasi religius, melainkan karena terlalu sering diposisikan sebagai ritual pembuka yang netral, steril dari relasi kuasa, dan seolah berada di luar politik representasi. Padahal, justru di awal acara itulah etika sebuah panggung bekerja. Acara ini dibuka dengan tilawah Al-Qur’an, […]

  • Solidaritas PC PMII Baabullah Kota Ternate Untuk Sumatera dan Aceh Sekaligus Berikan Warning Wilayah Maluku Utara 

    Solidaritas PC PMII Baabullah Kota Ternate Untuk Sumatera dan Aceh Sekaligus Berikan Warning Wilayah Maluku Utara 

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Asril
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Baabullah Kota Ternate menggelar aksi kemanusiaan untuk korban bencana alam di Sumatra dan Aceh, sekaligus mengampanyekan peringatan darurat ekologi bagi Maluku Utara yang saat ini dikepung oleh aktivitas pertambangan secara masif. Ternate, 7 Desember 2025. Aksi yang berlangsung di depan Lank Mart itu diisi dengan penggalangan donasi, […]

  • Mengulik “Haji Bawakaraeng”: Cerita dari Kaki Langit

    Mengulik “Haji Bawakaraeng”: Cerita dari Kaki Langit

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 95
    • 0Komentar

    “Panggilan haji Telah tiba lagi Menunaikan ibadah Panggilan Baitullah Tanah Suci Makkah Ya Makkatul Mukarramah” Lagu “Panggilan Haji”, dari grup Kasidah ‘Nasida Ria’ mengalun lembut dari pita kaset radio yang sudah terlihat kucar-kacir tersebut. Jangan heran, di tempat lain, kasidah bolehlah ditelan waktu, digilas masa dan ditinggalkan zaman, tetapi di kampungku, kasidahan, apalagi punya Nasida […]

  • DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 88
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene mendorong penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah guna memastikan jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu tetap terlayani secara optimal dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Kantor Gubernur, Makassar, Jumat (20/2/2026). […]

  • Jejak Gus Dur di Pambusuang

    Jejak Gus Dur di Pambusuang

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Polewali Mandar — Ketua Lesbumi NU Sulbar, Ahmad Zaki, mengatakan bahwa jejak Gus Dur di Pambusuang dapat ditelusuri melalui program Bina Desa. Gus Dur tidak hanya menjalin persahabatan dengan tokoh agama, pemuda, dan masyarakat di Pambusuang, tetapi juga aktif mendorong pendampingan bagi warga setempat. Sejumlah nama yang dikenal akrab dengan Gus Dur antara lain […]

  • Abu Hurairah: Sahabat yang Namanya Hidup dalam Ribuan Hadis (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #28)

    Abu Hurairah: Sahabat yang Namanya Hidup dalam Ribuan Hadis (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #28)

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Sejak saat itu, hidupnya berubah. Abu Hurairah memilih untuk tinggal dekat dengan Nabi dan bergabung dengan kelompok sahabat yang dikenal sebagai Ahl al-Suffah (lihat kisah Abu Dzar), yaitu para sahabat yang tinggal di serambi Masjid Nabawi. Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar dari Nabi, meskipun harus hidup dalam kesederhanaan dan kadang dalam keadaan […]

expand_less