Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis
- account_circle Afidatul Asmar
- calendar_month Senin, 9 Mar 2026
- visibility 168
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun di balik kemewahan itu, ada kerja panjang para penenun yang sering kali tidak terlihat. Ramadhan juga mengajarkan hal yang sama. Di balik ibadah yang tampak sederhana, ada proses panjang pembentukan diri yang sering tidak disadari oleh manusia.
Ironisnya, di zaman modern, kesabaran seperti ini semakin langka. Kita hidup dalam dunia yang serba cepat. Makanan instan, informasi instan, bahkan ibadah sering diinginkan secara instan.
Padahal menenun sutra membutuhkan waktu berhari-hari. Dan membangun karakter juga membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dalam konteks ini, Ramadhan seperti memberikan satir yang halus kepada manusia modern.
Kita ingin menjadi lebih baik, tetapi tidak ingin melalui prosesnya. Kita ingin menjadi sabar, tetapi tidak ingin diuji.
Padahal Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Puasa adalah separuh dari kesabaran.” (HR. Al-Tirmidhi)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa sebenarnya adalah latihan karakter. Ia membentuk manusia sedikit demi sedikit, seperti benang yang ditenun menjadi kain.
Ketika Penenun Menghilang
Referensi tentang Lipa’ Sa’be juga menunjukkan satu kenyataan yang mengkhawatirkan: jumlah penenun tradisional semakin berkurang.
Generasi muda semakin jarang belajar menenun. Padahal di tangan para penenun itulah warisan budaya dijaga. Fenomena ini bukan hanya masalah budaya, tetapi juga masalah nilai.
Ketika masyarakat kehilangan kesabaran untuk menenun, mereka juga berpotensi kehilangan kesabaran untuk membangun peradaban. Dalam perspektif Islam, menjaga tradisi yang baik termasuk bagian dari menjaga kemaslahatan masyarakat.
Para ulama sering merujuk pada kaidah fiqh:
Al-‘adah muhakkamah (tradisi yang baik dapat menjadi pertimbangan hukum). Artinya, budaya yang mengandung nilai kebaikan layak untuk dijaga.
Ramadhan sebagai Tenunan Jiwa
Akhirnya, Ramadhan mengajarkan kita satu hal yang sederhana namun mendalam. Manusia tidak dibentuk dalam satu malam. Ia dibentuk melalui proses. Seperti ulat yang menghasilkan sutra. Seperti benang yang dipintal. Seperti motif yang ditenun dengan sabar.
Jika kita memahami makna ini, maka Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah bulan menenun jiwa manusia. Dan mungkin, dari para penenun Bugis kita belajar satu hikmah penting: keindahan tidak pernah lahir dari sesuatu yang instan. Ia lahir dari kesabaran.
Penulis : Dosen & Peneliti Bidang Antropologi Dakwah Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare/ Alumni PPNK LEMHANNAS RI
- Penulis: Afidatul Asmar

Saat ini belum ada komentar