Rekonsiliasi Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
- visibility 280
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Masalahnya, banyak di antara kita kreatif dalam “creative accounting” spiritual. Di bulan selain Ramadhan, beban sabar sering diakui sebagai beban luar biasa (extraordinary loss). Tetapi di bulan Ramadhan, sabar tiba-tiba dikapitalisasi menjadi investasi pahala. Padahal standar akuntansi langit tidak mengenal manipulasi klasifikasi. Yang sabar ya sabar. Yang marah ya marah. Malaikat tidak bisa disuap dengan narasi.
Dalam perspektif akuntansi modern, transparansi dan akuntabilitas adalah prinsip utama. Dalam Ramadhan, transparansi itu bernama muhasabah. Akuntabilitas itu bernama taubat. Dan opini audit terbaik bukanlah WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), melainkan “WIT”—Wajar Ikhlas Total.
Kita sering sibuk menghitung zakat dengan rumus detail, tetapi lupa menghitung ego dengan cermat. Zakat 2,5 persen bisa kita kalkulasikan sampai dua angka desimal. Namun kadar riya sering kita anggap tidak material. Padahal dalam audit langit, justru yang dianggap material adalah niat.
Ramadhan mengajarkan satu prinsip penting dalam akuntansi etis: pengendalian internal diri. Kalau dalam perusahaan ada SOP, dalam diri ada iman sebagai sistem kontrol. Kalau perusahaan punya auditor internal, manusia punya hati nurani. Masalahnya, kadang auditor internal ini kita “nonaktifkan” dengan dalih, “Ah, semua orang juga begitu.”
Humor ala Gus Dur akan berkata: “Kalau semua orang salah, bukan berarti salahnya jadi halal.” Dalam akuntansi pun, kalau satu industri salah mencatat, bukan berarti standar berubah mengikuti kesalahan. Standar tetap standar. PSAK tidak menyesuaikan diri dengan hawa nafsu. Begitu pula syariat.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar