Breaking News
light_mode
Trending Tags

Takjil Transparan, Anggaran Samar

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 37
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadhan selalu datang dengan dua hal yang pasti: pahala yang dilipatgandakan dan pengeluaran yang dilipat-duakan. Di satu sisi, takjil begitu transparan, kolak pisang terlihat jelas santannya, es buah jujur memamerkan biji selasihnya. Di sisi lain, anggaran rumah tangga sering kali samar: tahu-tahu saldo hilang, tapi kita merasa tidak pernah merasa belanja sebanyak itu. Seperti laporan keuangan yang belum diaudit, niatnya hemat, realisasinya “wallahu a’lam”.

Dalam tradisi warga Nahdlatul Ulama, humor bukan untuk menertawakan, melainkan untuk menyadarkan. Gus Dur pernah mengajarkan bahwa yang lebih berbahaya dari korupsi adalah kehilangan rasa malu. Dalam konteks Ramadhan, yang lebih berbahaya dari lapar adalah kehilangan kontrol anggaran. Kita bisa menahan haus 14 jam, tapi sering tak kuasa menahan diskon “Buy 1 Get 1” menjelang berbuka.

Fenomena “war takjil” adalah miniatur pasar modal musiman. Semua berebut posisi strategis: yang cepat dia dapat. Bedanya, di pasar modal ada prospektus; di pasar takjil ada “pokoknya enak, Bu”. Transparansi produk begitu jelas, warna merah sirupnya menyala, topping melimpah, harga tertera. Namun, transparansi sumber dan penggunaan dana sering kali tidak sejelas itu. Kita tahu harga es teh jumbo, tapi tak pernah benar-benar menghitung dampaknya pada arus kas bulanan.

Dalam akuntansi, kita mengenal prinsip full disclosure, pengungkapan penuh. Dalam kehidupan Ramadhan, mestinya ada juga prinsip full muhasabah, pengungkapan penuh pada diri sendiri. Berapa persen belanja berbuka karena kebutuhan, dan berapa persen karena lapar mata? Jangan-jangan lebih banyak “aset lancar” berupa gorengan daripada “investasi akhirat” berupa sedekah.

Secara teori, Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Dalam perspektif akuntansi manajemen, ini momentum penguatan budgeting dan pengendalian internal. Namun praktiknya sering terbalik: masjid mengumumkan laporan infak dengan rapi dan transparan, sementara laporan pengeluaran pribadi hanya tersimpan di notifikasi mobile banking yang kita abaikan.

Ada ironi yang jenaka sekaligus getir. Takjil di depan masjid gratis dan terbuka, siapa pun boleh ambil. Tetapi ketika bicara anggaran publik, sering kali yang terbuka hanya seremoni, bukan detail realisasi. Kita hafal jadwal buka puasa, tapi lupa jadwal audit. Kita semangat berbagi kurma, tetapi enggan berbagi data.

Padahal dalam Islam, akuntabilitas bukan konsep asing. Al-Qur’an sudah menyinggung pencatatan utang piutang secara rinci. Ayat terpanjang dalam kitab suci itu bicara tentang administrasi, bukan sekadar spiritualitas. Artinya, iman dan laporan keuangan tidak boleh dipisahkan. Takjil boleh manis, tapi anggaran harus logis.

Humor ala NU mengajarkan keseimbangan. Jangan terlalu kaku seperti auditor yang kehilangan selera humor, tapi jangan terlalu cair seperti es buah yang kebanyakan air. Transparansi bukan sekadar menampilkan angka, melainkan menjelaskan makna di balik angka. Kalau pengurus takmir masjid bisa memajang laporan pemasukan dan pengeluaran di papan pengumuman, masa kita tak bisa memajang rencana anggaran keluarga di dinding kulkas?

Sering kali, problem bukan pada kurangnya dana, tetapi pada kaburnya prioritas. Dalam istilah akuntansi, ini soal misalokasi sumber daya. Kita rela antre panjang demi takjil viral, tapi enggan antre dalam barisan disiplin menabung. Kita hitung pahala tarawih, tetapi tidak menghitung rasio utang terhadap pendapatan.

Ramadhan seharusnya menjadi laboratorium integritas. Transparansi takjil mengajarkan bahwa yang terlihat harus sesuai dengan isi. Jangan sampai kemasannya premium, isinya angin. Begitu pula anggaran: jangan sampai judulnya “pembangunan umat”, realisasinya “pembangunan citra”.

Sebagai akademisi akuntansi, saya sering bercanda kepada mahasiswa: “Neraca itu seperti timbangan amal. Kalau berat sebelah, berarti ada yang perlu diperbaiki.” Mereka tertawa, tapi saya tahu mereka paham. Dalam setiap transaksi ada nilai moral. Setiap rupiah yang keluar adalah keputusan etis.

Di bulan suci ini, mungkin kita perlu membuat laporan keuangan versi batin: berapa banyak sedekah dibanding belanja konsumtif? Berapa banyak waktu untuk tadarus dibanding scrolling diskon? Jangan sampai kita rajin mencatat pengeluaran untuk parcel, tapi lupa mencatat komitmen zakat.

Transparansi sejati bukan hanya soal angka, melainkan keberanian untuk diaudit oleh publik, oleh keluarga, dan tentu saja oleh Tuhan. Jika takjil saja bisa jujur menampilkan isinya, mengapa anggaran harus samar? Jika kolak bisa terang benderang, mengapa laporan penggunaan dana harus remang-remang?

Ramadhan mengajarkan bahwa lapar itu sementara, tetapi integritas itu selamanya. Maka mari kita jadikan bulan ini sebagai momentum memperjelas yang samar, memperbaiki yang timpang, dan menertawakan diri sendiri sebelum ditertawakan sejarah. Sebab dalam tradisi kebijaksanaan, humor adalah jalan halus menuju kesadaran.

Akhirnya, semoga takjil kita tetap transparan, anggaran kita makin terang, dan neraca kehidupan kita seimbang. Karena pada akhirnya, bukan hanya perut yang berbuka, tetapi juga mata hati yang terbuka. Dan siapa tahu, dengan sedikit humor dan banyak kejujuran, kita bisa membuktikan bahwa akuntansi bukan sekadar soal angka, melainkan soal amanah.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UU Pemilu Digugat Lagi, Ambang Batas Parlemen Dinilai Inkonsitusional

    UU Pemilu Digugat Lagi, Ambang Batas Parlemen Dinilai Inkonsitusional

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 96
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) kembali digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Kali ini, gugatan diarahkan pada ketentuan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) yang dinilai berpotensi inkonstitusional dan mencederai prinsip kedaulatan rakyat. Permohonan pengujian materiil diajukan oleh Koalisi Kawal Pemilu dan Demokrasi Indonesia yang diwakili Miftahol Arifin selaku Ketua […]

  • Epstein, Uang dan Impunitas

    Epstein, Uang dan Impunitas

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle -
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Epstein memulai kariernya sebagai guru matematika di Dalton School. Meski pria keLahiran Brooklyn 1953 tidak lulus kuliah, namun berkat kegigihannya, ia bisa merambah dunia keuangan di Bear Stearns sebelum mendirikan J. Epstein & Co., perusahaan manajemen kekayaan yang diklaim hanya melayani klien dengan aset di atas US$1 miliar. Jaringan dan Gaya Hidupnya dikenal sebagai sosialita […]

  • Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

    Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Benarkah Gerindra lagi panen tokoh intelektual serupa ciutan Juru Bicara Gerindra Gorontalo, Wahidin Ishak, di beberapa kanal media online 9 Maret 2025, baru-baru ini? Apa model dan bentuk intelektual yang dimaksud Wahidin itu juga tidak dijelaskan. Yang pasti, Jubir itu bilang: “Biasa-biasa jo. Mungkin karena Ketua GERINDRA cukup pintar maka para intelektual banyak yang ke […]

  • Ma’ruf Amin Pilih Istirahat, PKB Serahkan Dewan Syura ke KH Manarul Hidayah

    Ma’ruf Amin Pilih Istirahat, PKB Serahkan Dewan Syura ke KH Manarul Hidayah

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 70
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menunjuk KH Manarul Hidayah sebagai pelaksana tugas (Plt) Ketua Dewan Syura PKB, menggantikan KH Ma’ruf Amin yang memutuskan mundur dari jabatannya. “Ketua Dewan Syura PKB sekarang dijabat oleh pelaksana tugas. Pelaksana tugasnya adalah K.H. Manarul Hidayah,” ujar […]

  • Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

    Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle  Fadli Bina
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Mengonsumsi bukan lagi soal pemenuhan kebutuhan melainkan hanya soal hasrat agar tetap eksis. Dewasa ini mengonsumsi sepertinya merupakan hal yang mesti dilakukan agar kita dianggap tetap ada. Karena dalam budaya konsumtif nilai seseorang tidak diukur lagi dari kualitas pengetahuannya melainkan dari apa yang ia konsumsi. Hal ini juga terjadi dalam mengkonsumsi makananan. Meski kita tidak […]

  • KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah Play Button

    KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 117
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas: masjid-masjid kembali penuh, lantunan ayat suci terdengar lebih panjang dari biasanya, dan umat Islam berbondong-bondong menunaikan salat Tarawih. Namun di balik semarak itu, tidak sedikit pertanyaan yang terus berulang dari tahun ke tahun tentang sejarahnya, dalilnya, hingga perbedaan jumlah rakaat yang sering memantik perbincangan. Wakil Rais Syuriyah […]

expand_less