Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kampung Adalah Awal Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

  • account_circle Moloneo Az
  • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
  • visibility 654
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gorontalo, NULONDALO.com – Hingga saat ini di Provinsi Gorontalo telah ada 18 desa yang masuk dalam program kampung iklim (Proklim), belum banyak namun pemerintah daerah bertekad untuk menambahnya secara bertahap.

Untuk dapat menjadi kampung Proklim ada sejumlah syarat dan yang utama adalah desa tersebut sudah melakukan aksi dan mitigasi bencana selama 2 tahun.

Pekerjaan untuk mempersiapkan sebuah desa agar bisa disebut desa proklim memang tidak mudah dan desa Proklim tidak akan lahir begitu saja, melainkan perlu upaya-upaya pendampingan untuk mempersiapkannya.

“Melihat kondisi perubahan iklim di Indonesia sudah sangat nyata serta membawa dampak yang merugikan serta menelan korban jiwa,” kata Marahalim Siagian Koordinator Burung Indonesia Program Gorontalo, Rabu (7/1/2026).

Marahalim memberi contoh terbaru yaitu bencana hidrometeorologi yang melanda 3 provinsi di Pulau Sumatera ditaksir memerlukan biaya pemulihan sebesar Rp59,25 triliun. Jumlah korban meninggal dunia 1.777 jiwa, korban belum ditemukan (hilang) 148 jiwa serta yang mengalami luka-luka sebanyak 7.000 orang.

“Di akhir tahun 2025 banjir bandang dan tanah longsor juga melanda satu desa daerah pertambangan di Kabupaten Powato yakni Desa Hulawa Kecamatan Buntulia,” ucap Marahalim.

Dalam bencana di Hulawa ini ratusan rumah terendam, 2 rumah roboh, sebanyak 144 rumah tangga terdampak. Kerugian material belum bisa dihitung.

Semua ini menegaskan bahwa dampak perubahan iklim sudah sangat nyata dan semakin sering dialami masyarakat.

Sebagai respon atas fenemena ini, mitigasi dan adaptasi atas perubahan iklim sudah sangat mendesak untuk dilakukan, bisa dimulai dari kampung. Kampung adalah tempat separuh dari populasi Indonesia dan di sanalah pangan diproduksi.

Marahalim menjelaskan, dari aspek adaptasi, kampung pro iklim perlu memiliki sejumlah perangkat sistem.

Sistem pengendalian banjir seperti tanggul, saluran drainase, kolam penampungan, embung, sumur resapan, biopori. Sistem antisipasi kondisi kekeringan seperti panen air hujan (PAH), embung, sumur resapan, sistem irigasi tetes mikro. Sistem antisipasi longsor seperti terasering, tanggul sungai atau bronjong, revegetasi area sempadan sungai. Sistem peningkatan ketahanan pangan, yaitu diversifikasi tanaman pangan, lahan basah dan lahan kering, pemanfaatan sumber pangan lockal, lumbung pangan, sistem pengawetan bahan pangan dan penyimpanan.

“Untuk pemukiman penduduk di wilayah pesisir, kampung Proklim harus memiliki sistem adaptasi terhadap abrasi dan kenaikan air laut,” ucap Marahalim.

Selain itu kampung pesisir juga harus ada penataan ruang kelola wilayah pesisir, penanaman mangrove, budidaya rumput laut (sistem pangan), serta pemasangan breakwater atau pemecah ombak.

Dari aspek mitigasi, program untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di kampung adalah melakukan kegiatan untuk mereduksi karbon diosida yang dihasilkan oleh pembakaran limbah pertanian dan pembakatan limbah rumah tangga secara terbuka.

Penanganan gas metana yang berasal dari kegiatan peternakan serta pembusukan bahan organik juga menghasilkan gas metana. Pengurangan pupuk kimia yang menghasilkan nitrogen dioksida.

Ia menawarkan sejumlah program mitigasi perubahan iklim di kampung yang sesuai lain, seperti pengomposan limbah pertanian dan peternakan baik secara aerobik dan an-aerobik, rehabilitasi lahan kritis dan peningkatan luas area bervegetasi, meningkatkan pemakaian energi bersih melalui pemanfaatan solar panel dan biogas, budidaya pertanian rendah emisi, pertanian agroforestry dan tumpang sari, serta pencegahan kebakaran lahan dan hutan.

Di tengah ancaman nyata dampak perubahan iklim, program kampung iklim (Proklim) merupakan salah satu upaya yang relevan saat ini di Gorontalo serta di wilayah Indonesia lainnya.  Sebuah pendekatan untuk membumikan isu perlunya adaptasi dan mitigasi bencana akibat perubahan iklim, dimulai dari kampung.

  • Penulis: Moloneo Az

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UNUSIA Apresiasi Capaian Publikasi Internasional Mahasiswa Prodi Akuntansi

    UNUSIA Apresiasi Capaian Publikasi Internasional Mahasiswa Prodi Akuntansi

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Program Studi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui publikasi internasional yang berhasil diraih oleh mahasiswa dalam forum akademik bereputasi global. Capaian ini menjadi bukti kuat bahwa mahasiswa Akuntansi UNUSIA telah mampu bersaing dalam lanskap ilmiah internasional sekaligus menunjukkan kualitas pembinaan akademik yang sistematis, terukur, dan visioner. Ketua Program Studi Akuntansi […]

  • Pendamping PKH Pallantikang Klarifikasi Isu Pendataan dan Biaya Administrasi, Tegaskan Bukan Kewenangannya

    Pendamping PKH Pallantikang Klarifikasi Isu Pendataan dan Biaya Administrasi, Tegaskan Bukan Kewenangannya

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 203
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros –  Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kelurahan Pallantikang, Maryam, akhirnya angkat bicara menanggapi pemberitaan yang beredar terkait dugaan permasalahan pendataan penerima bantuan dan isu pemungutan biaya administrasi bantuan sosial. Klarifikasi ini disampaikan secara terbuka sebagai upaya meredam polemik yang dinilai telah mengganggu ketertiban dan ketenangan masyarakat. Maryam menegaskan bahwa proses pendataan penerima manfaat […]

  • Dari Pasar Ambuwa, Pesan Menjaga Alam dan Masa Depan Gorontalo

    Dari Pasar Ambuwa, Pesan Menjaga Alam dan Masa Depan Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 396
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana Pasar Ambuwa di Desa Huntu Selatan, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (6/6/2026), terasa berbeda dari biasanya. Pasar yang dikelola para seniman setempat itu tidak hanya menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas, tetapi juga dikenal sebagai tempat menikmati beragam kuliner lokal khas Gorontalo. Pasar Ambuwa sengaja dipilih sebagai lokasi peringatan Hari Lingkungan Hidup […]

  • Menghidupkan Kembali Gagasan Gus Dur: Tantangan bagi NU di Daerah

    Menghidupkan Kembali Gagasan Gus Dur: Tantangan bagi NU di Daerah

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Salah satu agenda penting Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum dan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam adalah menghidupkan kembali pemikiran KH. Abdurrahman Wahid, atau yang akrab dikenal sebagai Gus Dur. Pertanyaannya, seperti apa upaya menghidupkan gagasan tersebut, dan bagaimana implikasinya bagi NU di tingkat daerah? […]

  • Akademisi dan Ulama Soroti Pengadaan MacBook Rp25 Juta untuk Anggota DPRD Gorontalo

    Akademisi dan Ulama Soroti Pengadaan MacBook Rp25 Juta untuk Anggota DPRD Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 376
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Rencana pengadaan laptop merek MacBook Air untuk 45 anggota DPRD Provinsi Gorontalo menuai sorotan dari kalangan akademisi dan ulama. Pengadaan tersebut dianggarkan sekitar Rp25 juta per unit dan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Gorontalo. Kebijakan itu menjadi perbincangan publik setelah muncul pertanyaan mengenai urgensi penggunaan perangkat dengan kategori premium […]

  • Menuju Bank Gorontalo: Mungkinkah Pisah dari Bank SulutGo?

    Menuju Bank Gorontalo: Mungkinkah Pisah dari Bank SulutGo?

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 254
    • 0Komentar

    Rencana pembentukan Bank Gorontalo kembali mencuat ke permukaan. Gagasan ini sebenarnya bukan hal baru, namun perdebatan soal peluang dan tantangannya kini semakin menarik untuk dikaji secara lebih serius. Bank SulutGo sendiri memiliki sejarah panjang. Didirikan pertama kali pada 1961 dengan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara, bank ini lahir sebagai instrumen perbankan daerah untuk […]

expand_less