Breaking News
light_mode
Trending Tags

Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
  • visibility 216
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak keluarga Indonesia, ayah itu ibarat “aset tetap”. Kalau ada, sering tidak disadari nilainya. Kalau tidak ada, barulah neraca keuangan keluarga terasa jomplang. Fenomena fatherless, baik ayah pergi secara fisik, emosional, maupun spiritual, bukan cuma soal anak kehilangan figur panutan, tetapi juga soal neraca keluarga yang tiba-tiba timpang sebelah. Dalam bahasa akuntansi NU: ini bukan sekadar missing person, tapi missing control.

Gus Dur pernah berkelakar, “Kalau hidup ini terlalu serius”, nanti kita dikira laporan audit. Maka mari kita bahas fatherless dengan serius tapi sambil senyum, agar tidak stres seperti ibu rumah tangga yang akhir bulan dompetnya tinggal kartu ATM dan doa.

Dalam banyak keluarga, ayah adalah “kepala anggaran”. Entah ia paham akuntansi atau tidak, yang penting ia tahu satu rumus sakti: gaji masuk, istri pusing, anak sekolah. Ketika ayah tidak hadir, maka ibu naik jabatan otomatis: dari bendahara, manajer keuangan, direktur operasional, sampai auditor internal. Lengkap. Tanpa SK, tanpa tunjangan, tanpa rapat evaluasi tahunan, karena evaluasinya harian, tiap kali anak minta uang jajan.

Akuntansi keluarga dalam kondisi fatherless berubah drastis. Kalau dulu pencatatan keuangan cukup diingat di kepala ayah (“tenang, ada ayah”), kini semua harus ditulis. Ibu mulai akrab dengan buku kecil: sebelah kanan pemasukan, sebelah kiri pengeluaran, dan di bawahnya catatan kaki: “utang tetangga belum dibayar, semoga ingat.” Ini bukan sekadar pembukuan, tapi jihad administratif.

Secara ekonomi, keluarga fatherless adalah contoh nyata efisiensi tingkat tinggi. Kalau istilah akademik menyebut cost leadership, di rumah tangga namanya “hemat pol”. Minyak goreng diukur pakai rasa, beras ditakar pakai intuisi, dan lauk disesuaikan dengan saldo e-wallet. Ibu-ibu NU sudah lama mempraktikkan akuntansi biaya tanpa pernah ikut seminar. Mereka tahu kapan harus belanja harian, kapan harus puasa belanja sambil bilang ke anak, “Ini latihan tirakat.”

Dampak sosialnya? Jangan salah. Keluarga fatherless justru sering lebih kuat jejaringnya. Tetangga, keluarga besar, grup pengajian, dan warung kopi menjadi sistem supporting governance. Di sinilah modal sosial bekerja. Kalau ayah tidak ada, ada pak RT. Kalau pak RT sibuk, ada kiai. Kalau kiai tidak sempat, ada grup WhatsApp ibu-ibu yang informasinya lebih cepat dari laporan keuangan triwulanan.

Dalam perspektif NU, gotong royong ini bukan sekadar bantuan, tapi bagian dari sistem ekonomi moral. Bukan CSR, tapi sedekah real time. Akuntansi keluarga tidak lagi bicara laba, tapi keberkahan. Karena dalam keluarga fatherless, yang dicari bukan sekadar surplus anggaran, tapi cukup untuk hidup dengan tenang dan anak tidak minder di sekolah.

Aspek spiritual justru menjadi “modal tak tercatat” yang paling kuat. Banyak ibu dalam keluarga fatherless mengganti peran ayah dengan doa. Kalau ayah biasanya bilang, “Tenang, ada saya,” maka ibu bilang, “Tenang, ada Allah.” Ini bukan retorika, tapi strategi bertahan hidup. Gus Dur pernah berkata, “Tuhan tidak perlu dibela, tapi manusia perlu ditolong.” Dalam konteks ini, iman menjadi buffer psikologis dan spiritual menghadapi tekanan ekonomi.

Namun humor Gus Dur juga mengingatkan kita untuk kritis. Jangan sampai fatherless dianggap wajar lalu negara cuci tangan. Kalau terlalu banyak keluarga fatherless, itu bukan takdir semata, tapi bisa jadi hasil kebijakan ekonomi yang membuat ayah sibuk di luar rumah, jauh secara emosional, atau terpinggirkan secara sosial. Akuntansi keluarga boleh rapi, tapi kalau sistem di luar rumah berantakan, ibu terus yang jadi korban.

Fatherless dalam akuntansi keluarga juga mengajarkan satu hal penting: transparansi. Anak-anak sering lebih tahu kondisi ekonomi rumah. Tidak ada lagi ilusi “ayah pasti bisa”. Yang ada adalah dialog jujur: “Uang kita segini, kebutuhan segini, jadi harus bagi-bagi.” Ini pendidikan ekonomi paling mahal, tapi gratis. Anak belajar sejak dini bahwa uang itu terbatas, tapi akal dan doa tidak.

Akhirnya, keluarga fatherless mengajarkan kita bahwa akuntansi bukan cuma soal angka, tapi soal nilai. Tentang siapa yang menanggung beban, siapa yang mengalah, dan siapa yang tetap tersenyum meski neraca keuangannya defisit. Dalam humor NU, ini disebut nrimo ing pandum tapi tetap usaha. Dalam bahasa Gus Dur: hidup boleh berat, tapi jangan sampai kehilangan tawa.

Karena kalau keluarga fatherless masih bisa tertawa, mencatat keuangan dengan jujur, saling menguatkan secara sosial, dan bertahan secara spiritual, maka sesungguhnya mereka sedang mengajarkan akuntansi paling luhur: akuntansi kemanusiaan.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Zakat Salah Catat

    Zakat Salah Catat

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu datang dengan dua agenda besar: membersihkan hati dan membersihkan pembukuan. Yang pertama urusan langit, yang kedua sering kali urusan auditor. Di sinilah zakat menemukan relevansinya, bukan hanya sebagai rukun Islam, tetapi juga sebagai “rukun akuntansi sosial”. Sebab, zakat itu jangan sampai salah niat, apalagi salah catat. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, humor bukan untuk […]

  • Dari Maros untuk Indonesia: Chaidir Syam Diganjar Penghargaan Bela Negara

    Dari Maros untuk Indonesia: Chaidir Syam Diganjar Penghargaan Bela Negara

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Komitmen Pemerintah Kabupaten Maros dalam menanamkan nilai-nilai bela negara kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Bupati Maros, Chaidir Syam, menerima Penghargaan Apresiasi Bela Negara 2025 yang digelar oleh Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Markas Besar TNI, di Hotel El Royal Bandung. Penghargaan tersebut […]

  • Solidaritas PC PMII Baabullah Kota Ternate Untuk Sumatera dan Aceh Sekaligus Berikan Warning Wilayah Maluku Utara 

    Solidaritas PC PMII Baabullah Kota Ternate Untuk Sumatera dan Aceh Sekaligus Berikan Warning Wilayah Maluku Utara 

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Asril
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Baabullah Kota Ternate menggelar aksi kemanusiaan untuk korban bencana alam di Sumatra dan Aceh, sekaligus mengampanyekan peringatan darurat ekologi bagi Maluku Utara yang saat ini dikepung oleh aktivitas pertambangan secara masif. Ternate, 7 Desember 2025. Aksi yang berlangsung di depan Lank Mart itu diisi dengan penggalangan donasi, […]

  • Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle -
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Kasus tragis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada penghujung Januari 2026, ketika seorang siswa SD berusia 10 tahun berinisial YBS diduga mengakhiri hidupnya karena keluarganya tak mampu membeli buku dan pena, adalah tamparan keras bagi nurani bangsa. Membaca berita tentang seorang anak kecil yang memilih “pergi” selamanya hanya karena selembar buku dan sebatang pena […]

  • Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Di berbagai lini masa dan ruang diskusi publik, kita menyaksikan pemandangan yang tak biasa: dukungan terhadap Iran meluas. Respons terhadap penyerangan Iran ke Israel datang dari berbagai arah yang memiliki simpati dan empati yang sama atas penderitaan masyarakat Palestina di Gaza. Dukungan ini melintasi batas identitas, keyakinan, dan geopolitik. Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa rudal-rudal […]

  • BNPB Bangun Huntara untuk Korban Banjir Aceh Timur, 44 Unit di Pante Rambong Ditarget Rampung Pekan Ini

    BNPB Bangun Huntara untuk Korban Banjir Aceh Timur, 44 Unit di Pante Rambong Ditarget Rampung Pekan Ini

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 86
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Timur pada akhir November 2025 berdampak signifikan terhadap permukiman warga. Di Gampong Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, lebih dari 75 persen wilayah terendam banjir dengan ketinggian muka air mencapai lebih dari tiga meter. Luapan air yang disertai lumpur dan material sampah menyebabkan kerusakan berat pada rumah warga. […]

expand_less