Breaking News
light_mode
Trending Tags

Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
  • visibility 307
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak keluarga Indonesia, ayah itu ibarat “aset tetap”. Kalau ada, sering tidak disadari nilainya. Kalau tidak ada, barulah neraca keuangan keluarga terasa jomplang. Fenomena fatherless, baik ayah pergi secara fisik, emosional, maupun spiritual, bukan cuma soal anak kehilangan figur panutan, tetapi juga soal neraca keluarga yang tiba-tiba timpang sebelah. Dalam bahasa akuntansi NU: ini bukan sekadar missing person, tapi missing control.

Gus Dur pernah berkelakar, “Kalau hidup ini terlalu serius”, nanti kita dikira laporan audit. Maka mari kita bahas fatherless dengan serius tapi sambil senyum, agar tidak stres seperti ibu rumah tangga yang akhir bulan dompetnya tinggal kartu ATM dan doa.

Dalam banyak keluarga, ayah adalah “kepala anggaran”. Entah ia paham akuntansi atau tidak, yang penting ia tahu satu rumus sakti: gaji masuk, istri pusing, anak sekolah. Ketika ayah tidak hadir, maka ibu naik jabatan otomatis: dari bendahara, manajer keuangan, direktur operasional, sampai auditor internal. Lengkap. Tanpa SK, tanpa tunjangan, tanpa rapat evaluasi tahunan, karena evaluasinya harian, tiap kali anak minta uang jajan.

Akuntansi keluarga dalam kondisi fatherless berubah drastis. Kalau dulu pencatatan keuangan cukup diingat di kepala ayah (“tenang, ada ayah”), kini semua harus ditulis. Ibu mulai akrab dengan buku kecil: sebelah kanan pemasukan, sebelah kiri pengeluaran, dan di bawahnya catatan kaki: “utang tetangga belum dibayar, semoga ingat.” Ini bukan sekadar pembukuan, tapi jihad administratif.

Secara ekonomi, keluarga fatherless adalah contoh nyata efisiensi tingkat tinggi. Kalau istilah akademik menyebut cost leadership, di rumah tangga namanya “hemat pol”. Minyak goreng diukur pakai rasa, beras ditakar pakai intuisi, dan lauk disesuaikan dengan saldo e-wallet. Ibu-ibu NU sudah lama mempraktikkan akuntansi biaya tanpa pernah ikut seminar. Mereka tahu kapan harus belanja harian, kapan harus puasa belanja sambil bilang ke anak, “Ini latihan tirakat.”

Dampak sosialnya? Jangan salah. Keluarga fatherless justru sering lebih kuat jejaringnya. Tetangga, keluarga besar, grup pengajian, dan warung kopi menjadi sistem supporting governance. Di sinilah modal sosial bekerja. Kalau ayah tidak ada, ada pak RT. Kalau pak RT sibuk, ada kiai. Kalau kiai tidak sempat, ada grup WhatsApp ibu-ibu yang informasinya lebih cepat dari laporan keuangan triwulanan.

Dalam perspektif NU, gotong royong ini bukan sekadar bantuan, tapi bagian dari sistem ekonomi moral. Bukan CSR, tapi sedekah real time. Akuntansi keluarga tidak lagi bicara laba, tapi keberkahan. Karena dalam keluarga fatherless, yang dicari bukan sekadar surplus anggaran, tapi cukup untuk hidup dengan tenang dan anak tidak minder di sekolah.

Aspek spiritual justru menjadi “modal tak tercatat” yang paling kuat. Banyak ibu dalam keluarga fatherless mengganti peran ayah dengan doa. Kalau ayah biasanya bilang, “Tenang, ada saya,” maka ibu bilang, “Tenang, ada Allah.” Ini bukan retorika, tapi strategi bertahan hidup. Gus Dur pernah berkata, “Tuhan tidak perlu dibela, tapi manusia perlu ditolong.” Dalam konteks ini, iman menjadi buffer psikologis dan spiritual menghadapi tekanan ekonomi.

Namun humor Gus Dur juga mengingatkan kita untuk kritis. Jangan sampai fatherless dianggap wajar lalu negara cuci tangan. Kalau terlalu banyak keluarga fatherless, itu bukan takdir semata, tapi bisa jadi hasil kebijakan ekonomi yang membuat ayah sibuk di luar rumah, jauh secara emosional, atau terpinggirkan secara sosial. Akuntansi keluarga boleh rapi, tapi kalau sistem di luar rumah berantakan, ibu terus yang jadi korban.

Fatherless dalam akuntansi keluarga juga mengajarkan satu hal penting: transparansi. Anak-anak sering lebih tahu kondisi ekonomi rumah. Tidak ada lagi ilusi “ayah pasti bisa”. Yang ada adalah dialog jujur: “Uang kita segini, kebutuhan segini, jadi harus bagi-bagi.” Ini pendidikan ekonomi paling mahal, tapi gratis. Anak belajar sejak dini bahwa uang itu terbatas, tapi akal dan doa tidak.

Akhirnya, keluarga fatherless mengajarkan kita bahwa akuntansi bukan cuma soal angka, tapi soal nilai. Tentang siapa yang menanggung beban, siapa yang mengalah, dan siapa yang tetap tersenyum meski neraca keuangannya defisit. Dalam humor NU, ini disebut nrimo ing pandum tapi tetap usaha. Dalam bahasa Gus Dur: hidup boleh berat, tapi jangan sampai kehilangan tawa.

Karena kalau keluarga fatherless masih bisa tertawa, mencatat keuangan dengan jujur, saling menguatkan secara sosial, dan bertahan secara spiritual, maka sesungguhnya mereka sedang mengajarkan akuntansi paling luhur: akuntansi kemanusiaan.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Spirit Qurban: Manifestasi Iman dan Solidaritas Kemanusiaan

    Spirit Qurban: Manifestasi Iman dan Solidaritas Kemanusiaan

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Amsar A. Dulmanan
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Ibadah qurban merupakan  simbol spiritual paling mendalam pada tradisi Islam. Qurban tidak sekadar ritual penyembelihan hewan pada momentum Idul Adha, melainkan representasi perjalanan batin manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat relasi kemanusiaan. Dalam tindakan qurban terkandung pesan pengorbanan, keikhlasan, ketundukan, dan solidaritas sosial yang melampaui makna formal ibadah. Di tengah kehidupan modern […]

  • Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

    Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 866
    • 0Komentar

    Tulisan Donald Tungkagi berjudul Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas (9/1) di nulondalo.com., sebagai tanggapan atas tulisan saya (8/1) setidaknya memuat tiga poin utama, yakni: (1) penjelasan historiografis makuta problematik karena tidak cukup valid dalam simbol makuta dalam paradigma epistemologi Makuta Keilmuan; (2) ketegangan antarpilar itu produktif, alih-alih saling menegasikan satu […]

  • Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo akan menggelar Festival Green Tumbilotohe yang akan dipusatkan di Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo. Sejumlah lomba pada Festival Green Tumbilotohe tersebut diantaranya lomba Koko’o, Vokalia Religi, Lomba Hamparan lampu antar kecamatan, lomba jalan paling tumbilotohe, Doorprise grebek rumah dan Festival ribuan lampu. Kepada bakukabar.id, Kepala Dinas Pariwitasa, Pemuda dan Olahraga (Disparpora), […]

  • Aktivis Gorontalo Bongkar Dugaan Aleg Pohuwato Terlibat Tambang Ilegal

    Aktivis Gorontalo Bongkar Dugaan Aleg Pohuwato Terlibat Tambang Ilegal

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Polemik dugaan keterlibatan anggota DPRD Pohuwato, Yusuf Lawani, dalam aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) kembali mencuat. Kali ini, sorotan tajam datang dari aktivis muda Gorontalo, Kevin Lapendos, yang menegaskan telah mengantongi bukti kuat atas dugaan tersebut. Sejak Juli 2025, Kevin bersama jaringan advokasinya melakukan penelusuran terkait aleg dari Fraksi Nasdem itu. Hasilnya, ia mengklaim menemukan […]

  • Menertawakan Kekuasaan

    Menertawakan Kekuasaan

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 369
    • 0Komentar

    Orang kecil itu sebenarnya tidak bodoh. Mereka cuma capek. Capek mendengar janji, capek membaca berita korupsi, capek melihat pejabat miskin di LHKPN tapi kaya di pesta pernikahan anaknya. Maka jangan heran kalau rakyat akhirnya memilih tertawa. Karena kalau tidak tertawa, bisa-bisa marah. Dan kalau marah terus, tekanan darah naik, sementara kebijakan tidak pernah turun. Dalam […]

  • Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Bertentangan dengan Putusan MK

    Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Bertentangan dengan Putusan MK

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 294
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Wacana sejumlah partai politik besar untuk mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD dinilai bertentangan dengan konstitusi dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Putusan MK Nomor 110/PUU-XXII/2025 secara tegas menempatkan pilkada sebagai bagian dari rezim pemilu yang harus dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Pengajar Politik IAIN Sultan Amai Gorontalo, Eka Putra B. Santoso, […]

expand_less