Breaking News
light_mode
Trending Tags

Goodwill Langit

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
  • visibility 87
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di dunia akuntansi, ada satu istilah yang sering membuat mahasiswa mengernyitkan dahi: goodwill. Ia tidak bisa disentuh, tidak bisa difoto, tetapi nilainya bisa sangat mahal. Goodwill muncul ketika sebuah perusahaan dibeli lebih mahal daripada nilai aset bersihnya. Artinya ada sesuatu yang tak terlihat—reputasi, kepercayaan, atau nama baik—yang dihargai lebih tinggi daripada bangunan, mesin, bahkan kas.

Kalau dipikir-pikir, konsep ini sangat mirip dengan kehidupan Ramadhan. Bedanya, dalam Ramadhan kita sedang membangun sesuatu yang bisa disebut “Goodwill Langit.”

Dalam logika akuntansi dunia, goodwill dicatat ketika perusahaan membeli perusahaan lain. Dalam logika Ramadhan, goodwill muncul ketika manusia “bertransaksi” dengan Tuhan melalui amal baik. Bedanya lagi, transaksi ini tidak memerlukan auditor eksternal, karena auditornya langsung Yang Maha Mengetahui.

Orang NU biasanya menjelaskan hal-hal rumit dengan cara sederhana. Gus Dur pernah memberi contoh bahwa dalam hidup ini yang penting bukan hanya berapa banyak uang di rekening, tetapi berapa banyak orang yang mendoakan kita. Dalam bahasa akuntansi, mungkin itu semacam intangible asset sosial.

Ramadhan adalah bulan ketika umat Islam secara massal memperbaiki neraca goodwill spiritual mereka. Orang yang biasanya jarang ke masjid tiba-tiba rajin tarawih. Yang biasanya pelit mendadak dermawan. Yang biasanya sulit bangun pagi tiba-tiba semangat sahur. Secara akuntansi, ini seperti perusahaan yang sedang melakukan revaluasi moral.

Menariknya, dalam standar akuntansi modern, goodwill tidak boleh diamortisasi sembarangan. Ia harus diuji melalui impairment test. Kalau reputasi perusahaan turun, nilai goodwill juga harus diturunkan. Nah, dalam kehidupan sosial kita, hal yang sama juga berlaku.

Seseorang bisa saja rajin ibadah, aktif di masjid, bahkan menjadi panitia buka puasa. Tetapi kalau setelah Ramadhan ia kembali menjadi tukang fitnah di grup WhatsApp keluarga, kemungkinan besar goodwill spiritualnya mengalami impairment.

Orang NU biasanya menertawakan hal seperti ini dengan santai. Ada cerita di pesantren. Seorang santri sangat rajin shalat malam selama Ramadhan. Kyainya memuji, “MasyaAllah, istiqamah sekali.” Namun setelah Ramadhan selesai, santri itu kembali tidur pulas setiap malam.

Kyai itu hanya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa. Yang penting langit sudah tahu wajahmu. Jangan sampai setelah dikenal, kamu malah menghilang.” Humor seperti ini mengingatkan bahwa ibadah bukan sekadar ritual musiman, tetapi investasi reputasi di hadapan Tuhan.

Dalam dunia bisnis, reputasi adalah segalanya. Perusahaan dengan reputasi baik bisa menjual produk lebih mahal karena pelanggan percaya. Itulah sebabnya goodwill sering menjadi aset terbesar dalam akuisisi perusahaan.

Dalam kehidupan spiritual, hal yang sama juga terjadi. Orang yang dikenal jujur akan dipercaya mengelola amanah. Orang yang dikenal dermawan akan selalu didoakan orang lain.
Orang yang dikenal rendah hati akan memiliki banyak sahabat. Semua itu tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi dampaknya sangat nyata.

Gus Dur pernah berkata dengan gaya khasnya, “Tuhan tidak perlu dibela.” Yang perlu dijaga adalah akhlak manusia. Kalau diterjemahkan ke bahasa akuntansi, mungkin maksudnya sederhana: jangan sibuk mencatat amal orang lain, sementara buku besar akhlak kita sendiri berantakan. Ramadhan sebenarnya adalah periode closing sementara bagi laporan amal manusia.

Selama sebelas bulan sebelumnya, mungkin kita terlalu sibuk mengejar laba dunia: target kerja, kenaikan jabatan, investasi, dan berbagai proyek kehidupan. Tidak ada yang salah dengan itu. Akuntansi juga tidak melarang orang mencari keuntungan.

Namun Ramadhan mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya memiliki laporan laba rugi, tetapi juga laporan nilai kemanusiaan. Di sinilah konsep Goodwill Langit menjadi menarik. Ia tidak bisa dihitung dengan rumus Excel. Ia tidak muncul di laporan tahunan perusahaan. Ia juga tidak bisa dimanipulasi melalui rekayasa akuntansi.

Goodwill Langit muncul dari hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele: membantu tetangga, menahan amarah, memberi makan orang yang lapar, atau sekadar membuat orang lain tersenyum.

Orang NU punya filosofi sederhana: urip iku urup—hidup itu harus memberi cahaya. Dalam bahasa akuntansi, mungkin itu berarti nilai manusia tidak diukur dari aset yang dimiliki, tetapi dari manfaat yang diberikan. Dan Ramadhan adalah musim terbaik untuk memperbesar nilai itu.

Sebab dalam “sistem akuntansi langit,” ada satu aturan yang sangat menarik: setiap kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Coba bayangkan kalau aturan ini berlaku di perusahaan. Setiap rupiah yang diinvestasikan langsung dilipatgandakan puluhan kali. Pasti semua orang akan menjadi investor.

Namun Tuhan memberikan “insentif investasi” seperti ini justru pada amal kebaikan. Itulah sebabnya orang bijak tidak hanya menabung uang, tetapi juga menabung goodwill spiritual.

Karena pada akhirnya, ketika laporan hidup manusia benar-benar ditutup, mungkin yang paling bernilai bukanlah rumah, mobil, atau saldo rekening. Melainkan sesuatu yang tidak terlihat—tetapi sangat mahal di hadapan Tuhan: Goodwill Langit.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Harapan Ketua SEMA-HABAR Kepada Bupati Terpilih Yang Baru Dilantik

    Ini Harapan Ketua SEMA-HABAR Kepada Bupati Terpilih Yang Baru Dilantik

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Ketua SEMA-HABAR (Sentral Mahasiswa Halmahera Barat), Riwan Basir menyampaikan harapannya kepada Bupati Halmahera Barat, James Uang yang baru terpilih dan baru saja dilantik beberapa hari lalu agar lebih memperhatikan berbagai aspek pembangunan di kabupaten Hal-bar. Ketua Sentral Mahasiswa menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur, terutama jalan, sekolah, rumah sakit, transportasi umum, serta pengelolaan pasar yang lebih baik. […]

  • Ketua Soa Matapure ajak seluruh orang Bobawa Sukseskan Tobo-tobo Safar 2025

    Ketua Soa Matapure ajak seluruh orang Bobawa Sukseskan Tobo-tobo Safar 2025

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Gaung persiapan Tobo-tobo Safar 2025 mulai menggema di Desa Bobawa, Makian Barat, Halmahera Selatan. Tradisi besar yang selalu ditunggu masyarakat ini akan digelar pada 15–20 Agustus 2025 dengan rangkaian acara adat dan budaya yang sarat makna. Ketua Soa Matapure, Mubin Hi Samsi, menegaskan pentingnya kehadiran seluruh masyarakat Bobawa dalam perayaan tahun ini. Baginya, Tobo-tobo Safar […]

  • Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Hafiz Aqmal Djibran, S.Ikom
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Jika Aceh dikenal dengan “Serambi Mekkah”, maka Gorontalo dikenal dengan “Serambi Madinah”. Julukan tersebut sudah lama dikenal khususnya bagi masyarakat Gorontalo, termasuk penulis. Barangkali telah menjadi identitas daerah Gorontalo yang bisa diketahui oleh banyak orang. Tentunya julukan ini tidak serta merta turun dari langit dan dipersembahkan untuk daerah Gorontalo. Jika digali dari sejarah lokal dan […]

  • Kritik Pelindo atas Kemacetan Tanjung Priok, Wasekjen PII: Gagal dalam Manajemen Sistem Logistik

    Kritik Pelindo atas Kemacetan Tanjung Priok, Wasekjen PII: Gagal dalam Manajemen Sistem Logistik

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Panji Sukma Nugraha, menyampaikan kritik tajam terhadap manajemen PT Pelindo seiring kemacetan parah yang terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok beberapa hari terakhir. Menurutnya, insiden ini merupakan bentuk nyata dari kegagalan perencanaan dan pengendalian sistem logistik nasional yang semestinya dapat diantisipasi sejak awal. “Ini bukan sekadar kemacetan lalu […]

  • Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pemerintah Kota Gorontalo secara resmi melarang penggunaan petasan saat perayaan malam pergantian tahun 2025 ke 2026. Larangan tersebut ditegaskan langsung oleh Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea. Pernyataan itu disampaikan Wali Kota Adhan saat diwawancarai pewarta usai apel malam pada kegiatan wisata akhir tahun yang digelar Pemkot Gorontalo di Pantai Bolihutuo, Kecamatan Botumoito, Kabupaten […]

  • Mahasiswa KKN Desa Boidu Edukasi Masyarakat tentang Teknologi Climate Smart Agriculture

    Mahasiswa KKN Desa Boidu Edukasi Masyarakat tentang Teknologi Climate Smart Agriculture

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Mahasiswa KKN Tematik Tahap II Desa Boidu melaksanakan program kerja yang memanfaatkan teknologi Climate Smart Agriculture. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat Desa Boidu, khususnya Sanggar Tani pada hari Selasa (9/9/2025). Koordinator desa Nabil murtono menyampaikan bahwa Tujuan kegiatan ini di buat untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memanfaatkan teknologi untuk mengurangi […]

expand_less