Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menggeser Stigma Negatif Wanita Bercadar

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Rabu, 26 Okt 2022
  • visibility 146
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Wanita bercadar kembali menjadi isu nasional setelah peristiwa penangkapan seorang wanita bersenjata oleh aparat keamanan di Istana Negara, pada Selasa, 26 Oktober 2022.  Berita ini viral di semua media cetak maupun media online. Oleh karena  wanita bersenjata ini mengenakan cadar dalam penampilannya, maka simbol “cadar” kembali menjadi sorotan yang mengiringi pemberitaan.

Di media terdapat dua judul pemberitaan. Ada media yang menulis judul : “Wanita bercadar dst” dan ada yang menulis judul : “Wanita bersenpi dst” Mengapa  media harus menuliskan kata “wanita bercadar”, bukankah banyak wanita lainnya tak bercadar yang juga berbuat kejahatan, bukankah ini diskriminasi dan pembunuhan karakter ?

Memang banyak wanita yang di luar sana yang tak bercadar bergelimang dengan maksiat dan kemungkaran, seperti prostitusi, miras, judi, narkoba, korupsi dan kejahatan lainnya, akan tetapi jarang kita dengar wanita bercadar yang terlibat langsung dalam jaringan kelompok radikalisme dan terorisme.  Dan satu hal lagi bahwa kejahatan radikalisme dan terorisme merupakan kejahatan “extra ordinary” sehingga media memasukannya sebagai fokus prime news (pemberitaan utama). Nah, Secara kebetulan, atau ada yang menduga sebagai rekayasa atau memang dalam  kesehariannya benar-benar bercadar, maka media menuliskan kata cadar dalam pemberitaannya.

Saya juga tidak habis pikir, mengapa yang sering tampil sebagai “martir” perjuangan yang katanya suci adalah wanita bercadar, apakah dalam kelompok yang mewajibkan wanitanya bercadar terdapat doktrin “Eksklusif”, atau ada kelompok tertentu yang berperan sebagai serigala berbulu domba ? Yang pasti bahwa setiap ada kasus radikalisme dan terorisme, selau saja kita diperhadapkan dengan wanita bercadar. 

Apapun persepsi yang timbul dari kasus ini, semuanya mengalir seperti air dan tidak bisa diremehkan atau diabaikan begitu saja. 

Jika kita merunut daftar kasus radikalisme dan terorisme yang diperankan oleh wanita bercadar yang terjadi di bumi nusantara ini, maka kita tidak asing lagi dengan nama seperti Dita Siska Millenia, Siska Nur Azizah, Dian Yulia Novi alias Ayatun Nisa binti Asnawi, Zakiah Aini dan yang terbaru saat ini adalah Siti Elina yang terduga pendukung organisasi terlarang HTI.

Miris memang. Tampilan yang seharusnya menjadi peneduh dan penyejuk sekaligus antitesa dari  kegamangan budaya fashion semi vulgar bahkan sangat vulgar yang melanda generasi bangsa, justru memunculkan stigma yang membentuk opini negatif cadar yang sulit dibendung.  

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebahagian orang yang phobia terhadap cadar. Alasannya bisa bermacam-macam. Termasuk diantaranya adalah alasan identifikasi dan  terbatasnya komunikasi sosial. 

Keberadaan wanita bercadar dengan mudah kita temukan pada komunitas Islam bermazhab Hambali, Maliki dan sebagian mazhab Syafi’i. Kewajiban  bercadar juga dapat kita temui pada wanita yang tergabung dalam kelompok Jama’ah Tabligh (JT). Wanita  Jama’ah Tabligh dikenal dengan nama Masturah (sosok yang tersembunyi).  Ada pula kelompok lainnya yang mewajibkan pemakaian cadar bagi wanitanya yaitu kelompok Salafi dan Wahabi. Tak perlu ditanya lagi tentang kelompok garis keras (mutasyaddid) yang wanitanya memang identik dengan cadar seperti JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid), JAD (Jama’ah Ansharud Daulah), MMI (Majelis Mujahiddin Indonesia), MIT (Mujahiddin Indonesia Timur), dan kelompok garis keras lainnya.

Bagaimana cadar dalam perspektif Islam. Sampai saat ini, diskursus tentang cadar masih termasuk dalam ranah khilafiyah. Para ulama, baik ulama klasik maupun ulama kontemporer telah menuangkan pendapat mereka dalam kitab yang mereka tulis. Jika pendapat mereka dikumpulkan, maka hanya akan berputar antara mewajibkan, menyunahkan dan memubahkan. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang hukum cadar tersebut, yang pasti bahwa “cadar adalah bagian dari syariat Islam”. 

Faktanya kemudian  adalah cadar sebagai bagian dari ajaran Islam yang mulia tidak berbanding lurus dengan perilaku oknum yang mengenakannya. Tergerusnya citra cadar dalam kehidupan bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara merupakan sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, wanita bercadar yang melakukan upaya “jihad” dengan mengatasnamakan agama harus bertanggung jawab atas citra negatif terhadap cadar. 

Perlu dicamkan bahwa “selama masih ada wanita bercadar yang melakukan tindakan radikalisme dan terorisme, maka Stigmatisasi Negatif terhadap cadar tidak akan pernah hilang”

Apa yang harus dilakukan oleh “wanita-wanita mulia bercadar” agar stigma negatif cadar bisa bergeser ke stigma yang baik ? Kiat berikut ini bisa menjadi bahan pertimbangan :

– Para wanita bercadar baik secara individual maupun kolektif membuat aksi-aksi sosial yang membawa kepada kemaslahatan masyarakat baik terhadap masyarakat muslim maupun non muslim.

2. Menyelenggarakan diskusi, seminar, dan simposium keagamaan tentang cadar dalam perspektif Islam 

3. Menyelenggarakan even-even sosial dan budaya yang bertemakan nasionalisme, kebangsaan dan ke-Indonesiaan, atau

4. Kegiatan strategis lainnya.

Yakinilah bahwa sepuluh wanita mulia bercadar pasti akan mampu mengalahkan satu atau dua wanita bercadar yang diiming-imiming “surga instan” 

Wallahu A’lam

Gorontalo, 26 Oktober 2022

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kader Muda NU Barru Konsolidasi Jelang Konfercab, Dorong Perubahan Kepemimpinan

    Kader Muda NU Barru Konsolidasi Jelang Konfercab, Dorong Perubahan Kepemimpinan

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 267
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Kabupaten Barru, dinamika internal organisasi mulai menghangat. Sejumlah badan otonom (Banom) dan kader muda NU Barru menyatakan tengah melakukan konsolidasi untuk mendorong perubahan kepemimpinan serta pembenahan organisasi. Dorongan tersebut muncul setelah berbagai kalangan menilai NU Barru membutuhkan penyegaran agar kembali aktif menjalankan program keummatan, kaderisasi, dan […]

  • LPNU Gorontalo Gelar Buka Puasa Bersama, Bahas Tantangan Ekonomi Warga NU di Era MEA

    LPNU Gorontalo Gelar Buka Puasa Bersama, Bahas Tantangan Ekonomi Warga NU di Era MEA

    • calendar_month Senin, 10 Jun 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 158
    • 0Komentar

    nulondalo.com – PWNU Provinsi Gorontalo menginstruksikan kepada seluruh badan dan lembaga Nahdlatul Ulama di tingkat provinsi untuk mengisi bulan suci Ramadan dengan berbagai kegiatan keagamaan. Menindaklanjuti instruksi tersebut, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri oleh jajaran pengurus LPNU serta sejumlah badan otonom (Banom) dan lembaga NU lainnya, […]

  • Persipura Jayapura Tekuk Deltras FC 1-0 di Stadion Lukas Enembe

    Persipura Jayapura Tekuk Deltras FC 1-0 di Stadion Lukas Enembe

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Ali Doniaw
    • visibility 359
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Persipura Jayapura meraih kemenangan penting usai menundukkan Deltras FC dengan skor tipis 1-0 dalam lanjutan Liga 2 Pegadaian musim 2025/2026 di Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan, Minggu (4/1/2026). Gol tunggal Jeam Kelly Sroyer menjadi penentu tiga poin krusial bagi tim tuan rumah. Pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi sejak menit awal. Di hadapan ribuan […]

  • WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 238
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai perpanjangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan Inc terkait kelanjutan operasi PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga seumur cadangan tembaga dan emas di Papua sebagai kebijakan yang berpotensi melanjutkan krisis ekologis dan kemanusiaan di Tanah Papua. Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even […]

  • Mahasiswa PKUMI Perluas Jejaring Akademik Global di UCR

    Mahasiswa PKUMI Perluas Jejaring Akademik Global di UCR

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Delegasi mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) terus memperluas jejaring akademik di tingkat internasional. Pada Jumat (3/4/2026), para mahasiswa mengikuti kegiatan International Scholars Coffee Hour di University of California, Riverside. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk berdialog dan bertukar gagasan dengan para cendekiawan dari berbagai negara. Dalam forum tersebut, mahasiswa […]

  • Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Serius

    Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Serius

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 364
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menilai demokrasi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius yang berpotensi melemahkan prinsip-prinsip dasar demokrasi, mulai dari kebebasan sipil, supremasi sipil, hingga kebebasan pers. Penilaian tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2026, yang digelar di Grha Pemuda, Kompleks Gereja Katedral, Jalan Katedral No. 7B, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026), […]

expand_less