Kisah ini menarik dalam diskursus pengetahuan Sosiologi Agama. Dalam kerangka Weber, kharisma sering dipahami sebagai sesuatu yang menonjol—sebuah kualitas luar biasa yang membuat seseorang tampak berbeda dari masyarakat di sekitarnya. Tetapi dalam kisah Imam Lapeo, legitimasi moral justru tidak lahir Semata dari penonjolan diri, melainkan dari kemampuan menyatu dengan kehidupan sosial yang sederhana.
Kesederhanaan dan Akhlak yang berumur panjang: Membaca Kharisma Imam Lapeo
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 64
- print Cetak

Potret ulama kharismatik Nusantara, KH Muhammad Thahir, yang dikenal sebagai Imam Lapeo, tokoh penyebar Islam berpengaruh di Mandar, Sulawesi Barat, yang dihormati karena keilmuan, keteladanan, serta perannya dalam membimbing umat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam kajian sosiologi klasik, Max Weber memperkenalkan konsep otoritas kharismatik sebagai salah satu sumber legitimasi sosial. Menurut Weber, kharisma muncul ketika seorang individu dipercaya memiliki kualitas luar biasa—kesucian, keberanian, atau kemampuan spiritual—yang membuatnya dipandang berbeda dari orang kebanyakan. Legitimasi figur tersebut tidak bersumber dari hukum formal ataupun tradisi, melainkan dari keyakinan para pengikut bahwa ia memiliki sesuatu yang istimewa.
Namun, jika kita menengok pengalaman sosial di banyak masyarakat lokal, konsep ini kadang menemukan bentuk yang lebih subtil. Ingatan kolektif masyarakat Mandar tentang Imam Lapeo, misalnya, memperlihatkan sebuah model kharisma yang tidak selalu sejalan dengan gambaran Weberian yang dramatis.
Dalam banyak cerita yang beredar secara lisan, Imam Lapeo tidak dikenang sebagai ulama yang menampilkan keistimewaan dirinya secara spektakuler. Ia justru diingat sebagai sosok yang hidup sederhana, belajar tanpa merasa selesai, dan mengajar tanpa merasa lebih tinggi dari orang lain. Ilmu, bagi beliau, tidak berhenti pada kitab atau mimbar, tetapi hadir dalam percakapan sehari-hari, dalam nasihat yang tenang, dan dalam sikap hidup yang rendah hati.
Salah satu kisah kecil yang sering diceritakan orang-orang tua di Mandar menggambarkan hal ini dengan cukup jelas. Dikisahkan seorang pemuda pulang dari perantauan setelah bertahun-tahun belajar agama. Ia datang dengan bekal pengetahuan yang tidak sedikit, namun juga membawa kegelisahan. Di kampung halaman, masyarakat tidak memperlakukannya secara istimewa sebagaimana yang ia bayangkan. Ia merasa ilmunya tidak mendapatkan pengakuan.
Ketika kegelisahan itu disampaikan kepada Imam Lapeo, sang ulama tidak memberikan nasihat panjang. Ia hanya mengajak pemuda itu berjalan menyusuri kampung hingga mereka tiba di sebuah ladang. Di sana seorang petani tua bekerja di bawah matahari, dengan tangan penuh tanah dan baju yang basah oleh keringat.
Imam Lapeo kemudian berkata pelan, “Ia mungkin tidak membaca kitab seperti yang engkau baca. Tetapi setiap pagi ia bangun sebelum fajar, salat, bekerja dengan jujur, dan tidak pernah mengambil hak orang lain. Jika ilmumu membuatmu lebih dekat kepada Tuhan dan lebih lembut kepada manusia, orang akan merasakannya tanpa perlu engkau ceritakan.”
Dan beberapa kisah yang diwariskan secara lisan juga menyambungkan ilmu dan keteladanan dari Imam Lapeo dalam menyelesaikan berbagai persoalan sehari-hari di tengah masyarakat. Banyak dari kisah tersebut mencerminkan kecakapan serta kedalaman pembacaannya terhadap realitas sosial yang dihadapi umat.
Alih-alih mempertegas jarak antara ulama dan masyarakat, Imam Lapeo justru meruntuhkan jarak itu. Ia menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dibicarakan dalam kitab—kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan—bisa hidup dalam keseharian seorang petani. Dalam konteks ini, kharisma tidak dibangun melalui klaim keistimewaan, melainkan melalui konsistensi antara pengetahuan dan praktik hidup.
Penghormatan masyarakat kepada seorang ulama, dalam banyak tradisi lokal, memang sering lahir secara organik. Ia tumbuh dari pengalaman kolektif masyarakat yang melihat bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Orang tidak menghormati seseorang semata karena ia mampu mengutip kitab atau menjelaskan teori, tetapi karena mereka merasakan dampak dari ilmunya, sikapnya ,kata-katanya yzng menenangkan, dan tindakannya adil juga bijaksana.
Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat, pelajaran ini terasa semakin relevan. Pengetahuan hari ini beredar dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Diringkas dan kerap disimplifikasi untuk kebutuhan tertentu. Kemudahan ini tentu membawa manfaat besar. Tetapi ia juga melahirkan gejala lain, pengetahuan sering tampil lebih cepat daripada kedewasaan untuk memahaminya. Tidak jarang pengetahuan berubah menjadi simbol identitas—dipamerkan dalam perdebatan, di media sosial, atau dalam ruang-ruang diskusi—seolah-olah nilai sebuah gagasan baru terlihat ketika ia sudah diakui orang lain.
Dalam situasi seperti ini, kisah tentang Imam Lapeo menghadirkan pengingat yang sederhana namun penting di refleksikan bahwa Ilmu tidak selalu perlu dibuktikan melalui klaim. Jika ia benar-benar hidup dalam diri seseorang, masyarakat akan merasakannya secara perlahan.
Dalam fenomena ini ada celah kritik bagi teori kharisma Weber. Jika kharisma sering dipahami sebagai kualitas yang membuat seseorang tampak luar biasa, pengalaman sosial seperti yang ditunjukkan oleh kisah Imam Lapeo memperlihatkan bahwa kharisma juga bisa lahir dari sesuatu yang tampak sebaliknya: kerendahan hati yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam arti tertentu, kharisma tidak selalu muncul dari kemampuan untuk menonjol, tetapi dari kemampuan untuk menjalani nilai-nilai yang diyakini tanpa banyak suara. Dan mungkin justru karena itulah sosok seperti Imam Lapeo tetap hidup dalam ingatan masyarakat—bukan karena spektakel keilmuannya, tetapi karena ketenangan cara ia mempraktikkan ilmunya di tengah kehidupan.
Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar