Abdullah bin Rawahah: Penyair yang Menguatkan Hati Pasukan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #25)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 21
- print Cetak

Ilustrasi suasana Perang Mu’tah yang menggambarkan Abdullah bin Rawahah berdiri di garis depan pasukan Muslim dengan pedang terangkat, sementara para prajurit bertempur di tengah debu medan perang, melambangkan keberanian dan tekadnya sebelum gugur sebagai komandan ketiga dalam pertempuran tersebut.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Abdullah bin Rawahah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad dari kalangan Anshar di Madinah. Ia berasal dari kabilah Khazraj dan termasuk orang yang lebih awal memeluk Islam sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Dalam sejarah Islam, Abdullah bin Rawahah dikenal sebagai sosok yang memiliki dua kekuatan sekaligus: keberanian di medan perang dan kemampuan menyusun syair yang menggugah semangat.
Pada masa masyarakat Arab, syair memiliki kedudukan penting. Ia bukan sekadar bentuk seni, tetapi juga alat untuk menyampaikan pesan, membangun semangat, dan memperkuat identitas kelompok. Abdullah bin Rawahah dikenal sebagai salah satu penyair Muslim yang menggunakan syair untuk mendukung dakwah dan membela kaum Muslimin. Bersama sahabat lain seperti Hassan bin Tsabit dan Ka‘b bin Malik, ia sering menyampaikan syair yang menjawab ejekan atau serangan verbal dari pihak Quraisy.
Kehadiran Abdullah bin Rawahah dalam komunitas Muslim Madinah tidak hanya terlihat dalam ruang budaya, tetapi juga dalam berbagai peristiwa penting. Ia ikut serta dalam beberapa peperangan bersama Nabi Muhammad dan dikenal sebagai sahabat yang setia. Keberaniannya terlihat dari kesediaannya berada di barisan depan dalam banyak kesempatan.
Namun peristiwa yang paling sering disebut dalam kisah hidup Abdullah bin Rawahah adalah keterlibatannya dalam Perang Mu’tah, sebuah pertempuran yang terjadi pada tahun 8 Hijriah di wilayah Syam. Pasukan Muslim yang berjumlah sekitar tiga ribu orang menghadapi kekuatan besar dari pasukan Bizantium dan sekutu Arabnya. Nabi Muhammad menunjuk tiga komandan secara berurutan untuk memimpin pasukan: Zaid bin Haritsah, Ja‘far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah.
Ketika pertempuran berlangsung, Zaid bin Haritsah gugur sebagai komandan pertama. Kepemimpinan kemudian berpindah kepada Ja‘far bin Abi Thalib, yang juga gugur di medan perang setelah bertempur dengan sangat berani. Setelah itu komando jatuh kepada Abdullah bin Rawahah.
Riwayat menyebutkan bahwa sebelum maju ke pertempuran, Abdullah bin Rawahah sempat berdiri sejenak. Ia berbicara kepada dirinya sendiri, mengingatkan hatinya tentang tujuan perjuangan dan keberanian yang harus ia miliki. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ia mengucapkan syair yang meneguhkan dirinya agar tidak ragu menghadapi pertempuran.
Setelah itu ia maju memimpin pasukan. Abdullah bin Rawahah akhirnya gugur dalam pertempuran tersebut. Peristiwa itu menjadikannya sebagai komandan ketiga yang gugur dalam Perang Mu’tah. Setelah gugurnya tiga komandan tersebut, pasukan Muslim kemudian dipimpin oleh Khalid bin al-Walid yang berhasil menarik pasukan kembali dengan selamat.
Kisah gugurnya Abdullah bin Rawahah menjadi bagian penting dalam sejarah sahabat. Ia bukan hanya seorang prajurit yang berani, tetapi juga seorang penyair yang menggunakan kata-kata untuk menguatkan keyakinan. Syair yang ia ucapkan sebelum maju ke pertempuran sering dikenang sebagai gambaran pergulatan batin seorang manusia yang harus mengatasi rasa takut sebelum melangkah ke medan yang berbahaya.
Selain perannya di medan perang, Abdullah bin Rawahah juga dikenal sebagai sahabat yang dipercaya Nabi dalam beberapa tugas administratif. Ia pernah diutus Nabi untuk mengawasi pengelolaan hasil pertanian di wilayah Khaibar setelah wilayah itu berada di bawah kekuasaan Muslim. Dalam tugas tersebut ia dikenal sebagai orang yang tegas dan adil.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar