Breaking News
light_mode
Trending Tags

Idul Fitr: Ketika Kapal-kapal Bersiap Kembali

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
  • visibility 23
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Terhitung 1 Syawal 2022/1 Mei 2022, kita berpisah dengan Ramadan dan menyambut hari baru. Hari ini kita berlebaran. Kumandang takbir yang agung bersahut-sahutan. Ada perasaan haru kembali ke fitr (suci); namun ada perasaan tidak kuat menahan kepergian Ramadan yang berlalu begitu cepat. Sebab Ramadan, bagaimana pun juga, adalah bulan yang agung. Farid Essack, seorang sarjana kenamaan Afrika Selatan, di dalam On Being Muslim (2002), menggambarkan Ramadan dengan metafora “ketika kapal-kapal aman bersandar di dermaga setelah berlayar 11 bulan lamanya di lautan lepas”.

Kapal-kapal itu bagaikan diri kita yang, sepulangnya dari pelayaran panjang, mengalami lubang di banyak bagian. Lubang itu kita peroleh karena bersinggungan dengan hal-hal duniawi. Kita berbuat salah dan dosa sepanjang tahun dan di bulan Ramadan, kita semua memohon ampun dan memperbanyak ibadah. Dosa-dosa itu ibarat lubang, bulan Ramadan adalah dermaga, dan ibadah serta pertobatan kepada Tuhan sepanjang Ramadan adalah cara untuk menambal lubang-lubang itu. Itu sebabnya Ramadan adalah jalan pulang.

Namun pulang, bersandar di dermaga, bukanlah sebuah akhir. Setelah menetap selama sebulan di dermaga untuk memperbaiki lubang-lubang yang menganga, kapal-kapal bersiap kembali berlayar untuk 11 bulan berikutnya. Penandanya adalah Ied Al-Fitr: kembali ke fitrah, kepada kesucian. Pada momentum ini, semua bergembira. Sanak-saudara dan karib-kerabat yang jauh kemudian berkumpul dan saling sapa. Hari baru diukir kembali. Pintu rumah terbuka untuk semua orang untuk saling berbagi. Segala salah dimaafkan. Silaturahmi kembali dieratkan. Namun pertanyaannya, apakah hanya sebatas ini?

Tradisi Selebratif

Akhir Ramadan, khususnya di Indonesia, menjadi momen yang riang-gembira. Di Gorontalo misalnya, 10 hari sebelum Ramadan, orang-orang ramai iktikaf di masjid; tiga hari sebelum Ramadan diperingati dengan tradisi tumbilotohe, atau menyalakan lampu botol sebagai ekspresi kesilaman menyambut Laylah Al-Qadr (Malam 1000 bulan di mana malaikat turun—sebagaimana ayat Al-Quran Surah Al-Qadr 1-5). Malam-malam ini juga diisi oleh ramainya orang-orang, khususnya anak-anak, yang meminta jakati dengan mengunjungi rumah setiap rumah. Sedangkan ketika menyambut 1 Syawal, menyambut Hari Raya Idul Al-Fitr, orang-orang saling berkunjung untuk saling memaafkan.

Tradisi-tradisi yang demikian ini menunjukkan bahwa akhir Ramadan hingga menyambut 1 Syawal di Gorontalo itu memiliki watak yang selebratif. Kita bisa menyebut bahwa kegembiraan ini sebagai festival. Dalam penelusuran historis yang dilakukan oleh Mun’im Sirry di dalam Islam Revisionis (2018) karena memang, kata Id sendiri di dalam bahasa Arab bermakna “festival”. Kata ini sebenarnya merupakan lingua franca Aramain, lalu diadopsi oleh orang-orang Arab dengan arti persis. Nabi Muhammad, seturut penjelasan Sirry, pun tidak pernah melarang hal ini. Sebab beliau menyadari bahwa, di dalam masa-masa pembentukan Islam awal, kegembiraan menyambut hari-hari besar pada agama-agama sebelum Islam, itu sudah ada dan tidak bermasalah.

Hal ini misalnya ditunjukkan ketika Aisyah R.A., istri Nabi Muhammad Saw, menyenandungkan nyanyian di rumah Nabi pada saat Idul Fitr. Meskipun sempat ditegur oleh Abu Bakar, ayahanda Aisyah, namun respons nabi mengejutkan: beliau justru berkata bahwa “biarkanlah setiap masyarakat punya festival (id) sendiri, dan hari ini adalah hari festival kita” (Sirry, 2018). Ini menunjukkan bahwa Nabi, pemegang otoritas tertinggi dalam Islam bukan hanya memperbolehkan “kegembiraan” menyambut lebaran, melainkan juga turut melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya, khususnya di dalam pada agama Abrahamik: Yahudi dan Kristen. Dengan demikian, watak selebratif yang diwujudkan oleh masyarakat Gorontalo, dengan cara apa pun juga untuk menyambut kegembiraan di 1 Syawal, adalah hal yang wajar.

Tetapi…

Namun apakah perayaan terhadap Idul Fitr hanya tampak begitu saja? Bagaimana jika watak selebratif ini justru membenamkan tujuan kita berpuasa: membelajarkan diri sebaik-baiknya. Tentang hal ini, saya tidak ingin mereduksi tujuan berpuasa sebatas pada aspek religiusitas: beribadah semabuk-mabuknya. Saya pikir, beberapa hal urgen yang dapat menjadi refleksi selama Ramadan adalah tentang marjinalisasi, kesulitan mempertahankan kehidupan spiritual dan akhirnya, adalah relevansi berpuasa dalam kehidupan sehari-hari pasca lebaran nanti.

Saya pernah bertanya di dalam diri sendiri di banyak kesempatan: apa benar bahwa dunia ini terus dibiarkan berputar oleh Allah SWT karena adanya kehadiran orang-orang yang beribadah semalam suntuk, meskipun pada saat yang sama, marginalisasi terus terjadi? Di belahan bumi lain yang enggan terjamah, barangkali ada orang-orang yang dihimpit kuasa despotik sehingga mereka berada dalam keadaan miskin yang, alhasil, untuk makan dan minum pun harus bekerja mati-matian. Atau barangkali ada mereka yang dihantam kalangan mayoritas Muslim dengan madzhab dominan agar tidak bisa beribadah di tengah Ramadan sesuai tafsir dan pemahaman madzhab mereka. Fakta yang terakhir ini benar-benar terjadi dan menyat hati, ketika saya membaca Catatan Sejuk yang memberitakan komunitas Ahmadiyah di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang akhirnya harus merayakan Idul Fitr di kamp-kamp pengungsian selama 16 tahun karena diusir oleh mayoritas.

Ramadan juga mengingatkan kita tentang sulitnya mempertahankan kehidupan spiritual. Ini juga mengundang pertanyaan: mengapa kita tidak bisa se-religius saat ini di luar bulan Ramadan? Tentu saja, pertanyaan ini tidak pantas diajukan jika seseorang memiliki kadar kedekatan pada Allah SWT yang stabil. Sayangnya, tidak ada manusia selain Nabi Muhammad yang agung pernah melakukannya. Alasannya karena kondisi manusia yang dinamis. Selalu saja ada faset, keburukan, kejahatan, bahkan hanya di dalam niat sekalipun yang membuat kita berada jauh dari Allah. Namun ini juga menjadi tanda: tanpa kesadaran religius yang melemah, Ramadan tentu saja bukan Ramadan. Essack lagi-lagi menganalogikan hal ini bagaikan musim panas: jika yang ada hanya panas, untuk apa ada “musim”. Musim, bagi dirinya, tidak merujuk pada satu kondisi saja, melainkan menujukkan “kepelbagaian”: musim dingin, musim panas, musim semi, dsbg.

Tapi tentu saja, Essack tidak mengharapkan ini. Baginya, pertanyaan fundament yang perlu diajukan adalah: apa yang kita lakukan pada “musim panas”, untuk memasuki dan mempersiapkan “musim dingin”? Ini persis dengan Ramadan: apa yang kita lakukan di luar Ramadan, untuk mempersiapkan Ramadan? Bagi saya, sebenarnya, Ramadan tidak membelajarkan seseorang menjadi Muslim yang sempurna. Kita tidak mungkin mencapainya. Sebaliknya, bukan kesempurnaan yang kita capai, melainkan sebuah kemajuan. Ramadan hari ini, yang telah selesai, adalah cara seseorang membangun komitmen: Ramadan berikutnya kita lebih dekat pada Allah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Ini persis dengan ungkapan Seyyed Hosn Nasr: “kita terlahir kembali, menjadi suci kembali [di momentum Idul Fitr], semata-mata untuk bersiap menghadapi tahun berikutnya agar lebih mantap hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Yang paling sulit dari kedua argumen di atas adalah “menerjemahkan kesadaran Ramadan pasca-Ramadan”. Kita tidak ingin berakhir seperti ultimatum Nabi “banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar, tidak mendapat apa-apa dari ibadahnya selain kelelahan”. Namun bagaimana melakukannya? Apakah dengan melakukan puasa sunnah dan lebih-lebih beribadah secara telaten dan konsisten? Ini ada benarnya. Namun Nabi sebenarnya menghendaki hal yang lebih: sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain. Argumen ini sangat kuat menunjukkan bahwa kesalihan spiritual saja tidak cukup. Di luar dari itu, kita butuh kesalihan sosial.

Ramadan sebenarnya mengajarkan ini. Lewat mongopanggola juga bapak dan ibu sejak kecil, saya diajarkan untuk memahami Ramadan sebagai cara untuk merasakan laparnya orang-orang miskin sehingga dengannya, tangan kita terbuka untuk memberi dan berbagi. Kemiskinan bukan satu-satunya problem. Ada hal lain seperti marjinalisasi, persekusi, pembatasan terhadap hak-hak minoritas untuk mengakses keadilan, dan masih ada berlusin-lusin problem yang dihadapi. Itu sebabnya, saya pikir, sebagian orang yang merindukan Ramadan di hari-hari akhir, boleh jadi merupakan pendusta, tak terkecuali saya sendiri. Skeptisisme ini selalu terjadi berulang-ulang. Jangan-jangan, banyak dari kita yang justru berharap Ramadan karena rangkaian selebrasi setiap tradisi di dalamnya? Tapi ini juga tidak berarti merindukan Ramadan dan berharap agar bisa bertemu dengannya adalah hal yang tidak relevan.

Idul Fitr dan Momen-momen Setelahnya

Pulang di dermaga, sekali lagi, bukanlah akhir. Di depan sana, setelah khatib turun dari mimbar pasca Salat Idul Fitr, setelah bermaaf-maafan dan merayakan kegembiraan, kapal-kapal kembali bersiap untuk berlayar. Pertanyaannya, apakah momen-momen pelayaran kembali akan kita arungi dengan begitu-begitu saja? Maksud saya, apakah marginalitas, despotisme, kesalihan sosial yang membenam, akan tetap kita biarkan terjadi? Tiga masalah ini begitu akut dan selalu kita hadapi setiap harinya. Saya pikir, hanya dengan membebaskan Islam dari sekadar urusan-urusan ibadah menuju aksi merupakan jawabannya.

Membebaskan Islam, sekali lagi, adalah term yang saya gunakan untuk memberi pandangan alternatif terhadap tafsir Islam yang kaku dan literal-atomistik, dengan mengajukan pandangan Islam yang lebih ramah dan akomodatif terhadap realitas “yang lain” di dalam kehidupan sehari-hari. Islam tidak sekadar urusan legal formal; mengurusi apa yang Islami dan tidak Islami. Lebih dari itu, Islam juga beririsan dengan persoalan HAM, egalitarianisme, filsafat, sosial dan budaya, Islam lokal vis a vis Islam universal. Pandangan semacam ini hanya bisa dilakukan dengan melakukan pembacaan secara terus menerus terhadap realitas kebudayaan yang ada.

Shahab Ahmed, di dalam What is Islam? (2015) memberikan pandangan yang sangat baik terkait hal ini. Baginya, korpus besar dalam Islam (Al-Quran dan Hadist) memang menjadi standar utama setiap Muslim mengambil kebenaran. Namun pada dasarnya, ada “pre-teks” atau sebuah fenomen yang tidak tertangkap oleh “teks”. Dua hal ini bagaikan gunung es: teks adalah gunung es yang terlihat di permukaan; dan “pre-text” merupakan gunung es yang tertutupi air laut. Sedangkan “context” baginya merupakan keseluruhan pemaknaan dari tafsir terhadap teks dan pre-teks yang dilakukan sepanjang sejarah. Bagi Ahmed, cara untuk keluar dan membebaskan Islam adalah dengan melakukan pembacaan secara totalitas terhadap wahyu kenabian: teks, pre-teks dan konteks.

Ambil contoh misalnya Hari Buruh yang diperingati 1 Mei kemarin. Momentum itu diperingati tidak lain untuk menyasar berbagai pengalaman pelik yang dihadapi oleh kelas buruh yang rentan dieksploitasi oleh pemilik modal. Teks-teks dalam Islam memang tidak menyebut buruh, melainkan budak. Islam juga mengakui eksistensi budak. Namun demikian, Islam mendorong Muslim memperhatikan para budak dengan jalan memerdekakannya. Apa alasannya? Karena orang-orang yang bertaqwa pada Allah, seru Nabi Muhammad, itu membebaskan budak-budaknya (Shahih Muslim). Argumen ini adalah sebuah justifikasi bahwa perbudakan dalam Islam merupakan yang harus dihapuskan. Tentu, di zaman kiwari, perbudakan hampir tidak ada. Praktik perbudakan langgeng dalam narasi kelas pekerja. Tantangannya bahkan lebih besar: eksploitasi, rekognisi, pemenuhan hak libur dan cuti, hingga relasi adil antara pemilik modal dan pekerja.

Lantas, apa yang perlu dilakukan umat Islam? Tentu saja dengan membaca kembali fenomena ini, melihat tafsir yang lebih akomodatif, dan mengaitkannya dengan keadaan sekarang. Tiga hal ini adalah model pembacaan terhadap “totalitas pewahyuan” ala Ahmed. Apa tujuannya? Ya tentu saja dengan mendorong adanya payung hukum rekognisi hak-hak mereka lewat Undang-Undang dan peraturan terkait. Inilah hal yang perlu dilakukan dan sangat mendesak. Seperti inilah Islam semestinya diterjemahkan pasca-Lebaran nanti. Tentu saja belum terlambat. Kapal-kapal baru akan berlabuh. Jalan terjal yang bakal dilalui dengan hantaman ombak sana-sini baru akan dimulai. Bahkan meskipun kita berada di akhir sekalipun, tidak ada yang sia-sia. Sabab ujar Nabi Muhammad yang agung: “meskipun kiamat sebentar lagi dan kamu masih memegang tunas untuk ditanam, maka lanjutkanlah niatmu dan tanamlah!”.

Akhirnya, selamat berlebaran. Selamat menikmati kegembiraan. Mohon maaf lahir dan batin.***

Oleh: Tarmizi Abbas, M.A.
Institute for Humanities and Development Studies (InHIDES); Akademisi/Dosen
  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tradisi Memperingati 1 Muharram di Gorontalo: Perpaduan Spiritualitas dan Budaya

    Tradisi Memperingati 1 Muharram di Gorontalo: Perpaduan Spiritualitas dan Budaya

    • calendar_month Kamis, 5 Jun 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Bulan Muharram, khususnya tanggal 1 Muharram, bukan hanya menandai tahun baru dalam kalender Islam, tetapi juga menjadi momen penting refleksi dan spiritualitas bagi masyarakat Gorontalo. Di wilayah ini, peringatan Muharram tidak sekadar seremonial, namun sarat dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal. Tradisi Buruda di Makam-makam Aulia Salah satu tradisi yang masih dilestarikan adalah Buruda atau […]

  • Auditor Langit

    Auditor Langit

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Di dunia akuntansi, kita mengenal auditor sebagai pihak yang datang dengan wajah serius, membawa kertas kerja tebal, dan sering membuat manajemen perusahaan tiba-tiba rajin merapikan laporan keuangan. Ada yang bercanda, kalau auditor datang ke kantor, suasana langsung seperti menjelang sidang skripsi: semua mendadak disiplin, file diberi label rapi, dan yang biasanya santai mendadak terlihat sibuk […]

  • PWNU Gorontalo Gelar PES Esport 2025: Ajang Turnamen Game dengan Total Hadiah Rp10 Juta

    PWNU Gorontalo Gelar PES Esport 2025: Ajang Turnamen Game dengan Total Hadiah Rp10 Juta

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Dalam rangkaian Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo menghadirkan kompetisi seru bertajuk PES Esport 2025 yang akan berlangsung pada 28–30 Oktober 2025 di Pelataran Kantor PWNU Gorontalo, Jalan Samratulangi, Kelurahan Limba U-I, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo. Turnamen ini menjadi salah satu terobosan kreatif PWNU Gorontalo dalam menggabungkan nilai-nilai syariah […]

  • GP Ansor Sulsel Tegaskan Satu Komando Pimpinan Pusat Soal Kasus Kuota Haji

    GP Ansor Sulsel Tegaskan Satu Komando Pimpinan Pusat Soal Kasus Kuota Haji

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 87
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Makassar – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan resmi merilis pernyataan sikap terkait polemik dugaan penyimpangan kuota haji yang menyeret nama mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut). Ketua GP Ansor Sulsel, Muhammad Ridwan Yusuf, menegaskan bahwa seluruh kader di daerah tetap berada dalam satu komando yang solid. Ia menyatakan bahwa GP […]

  • NU dalam Cengkeraman Kekuasaan: Ke Mana NU Bergerak?

    NU dalam Cengkeraman Kekuasaan: Ke Mana NU Bergerak?

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Misbah Yamin
    • visibility 234
    • 0Komentar

    Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai keberhasilan organisasi keagamaan bertahan dalam lintasan sejarah bangsa, tetapi juga sebagai momentum evaluasi kritis atas arah gerak institusionalnya. Dalam konteks ini, pertanyaan nya “Ke mana NU bergerak?” bukanlah ungkapan emosional, melainkan problem akademik tentang representasi, otonomi organisasi, dan relasi kuasa antara agama dan negara. Secara […]

  • Habis Gelap Ada yang Belum Terang: Kartini, Emansipasi dan Ilusi Kolonial

    Habis Gelap Ada yang Belum Terang: Kartini, Emansipasi dan Ilusi Kolonial

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 73
    • 0Komentar

    “Ibu Kita Kartini, putri sejati, wanita yang mulia dan harum namanya.” Begitulah yang terpatri di benak para anak-anak sekolah.  Lagunya kerap didendangkan, hari lahirnya ditetapkan sebagai emansipasi wanita dan kiprahnya dijadikan patokan gerakan perempuan di Indonesia.  Setiap tanggal 21 April, Kartini dan narasi tentangnya dilantangkan kembali. Kalau anda hidup dan sudah bisa memahami situasi pada masa orde […]

expand_less