Pembelajaran Online dan Dinamikanya
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Senin, 13 Apr 2026
- visibility 88
- print Cetak

Pepi Al-Bayqunie/istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di tengah arus digitalisasi yang semakin deras, pembelajaran online tidak lagi relevan diperdebatkan pada level “perlu atau tidak”. Ia telah menjelma menjadi bagian dari infrastruktur pendidikan itu sendiri. Persoalannya kini bergeser: bukan lagi soal menerima atau menolak, melainkan bagaimana menempatkannya secara tepat agar tidak kehilangan ruh pendidikan. Di titik ini, kita berhadapan dengan dilema klasik—antara efisiensi dan kedalaman.
Jika meminjam cara pandang Erich Fromm, pendidikan modern—termasuk dalam format digital—cenderung bergerak ke arah having: mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin tanpa benar-benar mengalaminya. Sementara itu, Paulo Freire mengingatkan bahwa tanpa dialog, pendidikan akan terjerumus pada pola satu arah yang mematikan kesadaran. Ketika dua kritik ini kita letakkan dalam konteks pembelajaran online, menjadi jelas bahwa persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita menggunakannya.
Dalam banyak praktik, pembelajaran online biasanya dipahami sebatas ruang distribusi materi. Video diputar, modul dan bahan ajar dibagikan, lalu peserta diminta menyelesaikan tugas. Secara administratif, proses ini tampak berjalan dengan baik. Namun jika ditelisik lebih dalam, yang terjadi sering kali hanyalah perpindahan medium, bukan transformasi pembelajaran. Pengetahuan tetap bergerak satu arah, sementara peserta didik tetap berada pada posisi pasif—hanya saja kini dalam format digital.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan adalah blended learning. Namun, blended yang dimaksud tidak cukup hanya dengan membagi jadwal antara online dan offline. Yang lebih mendasar adalah membagi fungsi pembelajaran secara sadar.
Pembelajaran daring dapat difungsikan sebagai ruang awal—ruang untuk membangun pemahaman kognitif. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan pada konsep, kerangka berpikir, dan isu-isu dasar. Materi dapat diakses secara mandiri, dengan ritme yang lebih fleksibel. Dalam batas tertentu, pendekatan ini justru efektif karena memungkinkan efisiensi tanpa mengorbankan akses. Peserta datang ke proses belajar dengan bekal awal, bukan dari titik nol.
Namun, pemahaman saja tidak cukup. Pendidikan tidak berhenti pada mengetahui, tetapi harus bergerak menuju mengalami. Di sinilah pembelajaran tatap muka menemukan urgensinya. Pertemuan langsung bukan sekadar mengulang materi yang sudah tersedia di platform digital, melainkan menjadi ruang untuk memperdalam, mempertanyakan, bahkan menggugat apa yang telah dipahami.
Dalam ruang luring, dialog memperoleh ruang hidupnya. Peserta dapat berbagi pengalaman, menguji pandangan, dan berhadapan langsung dengan perbedaan. Tema-tema yang muncul menjadi lebih konkret—berangkat dari realitas yang mereka alami, bukan sekadar dari teks yang mereka baca. Pada titik ini, apa yang oleh Freire disebut sebagai generative themes menemukan bentuknya. Pendidikan tidak lagi berbicara tentang sesuatu yang jauh, tetapi tentang kehidupan itu sendiri.
Lebih jauh, pertemuan langsung memungkinkan hadirnya sesuatu yang sulit digantikan oleh teknologi: kehadiran itu sendiri. Ada dimensi emosional dan relasional yang hanya muncul ketika manusia benar-benar berjumpa. Ekspresi, jeda, bahkan keheningan, memiliki makna yang tak sepenuhnya dapat diterjemahkan melalui layar. Dari sanalah refleksi yang lebih dalam sering kali lahir.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar