Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Negara Untung di Atas Kertas, Rakyat Rugi di Kehidupan Nyata?

  • account_circle M. Ja'far Ali Reza
  • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
  • visibility 364
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap tahun, laporan keuangan pemerintah disajikan dengan rapi. Angka-angka tersusun sistematis, realisasi anggaran tercatat dengan detail, dan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kembali diraih dari Badan Pemeriksa Keuangan. Dari sudut pandang administratif, ini adalah gambaran ideal dari tata kelola keuangan negara yang tertib dan profesional. Tidak sedikit yang menjadikan capaian ini sebagai bukti bahwa sistem pengelolaan keuangan negara sudah berjalan dengan baik.

Namun, pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab adalah: untuk siapa kerapian itu?
Sebab di luar dokumen resmi, realitas publik tidak selalu mencerminkan optimisme yang sama. Ketimpangan layanan masih terasa, bantuan sosial belum sepenuhnya tepat sasaran, dan pembangunan yang masif belum selalu diikuti oleh pemerataan manfaat. Di titik ini, akuntansi pemerintahan menghadapi ujian yang lebih serius—bukan soal kepatuhan, tetapi soal relevansi terhadap kehidupan masyarakat. Masalahnya bukan karena negara tidak bekerja, melainkan karena cara kita menilai “keberhasilan” terlalu sempit. Selama laporan sesuai standar dan anggaran terserap, maka sistem dianggap berjalan baik. Padahal, kepatuhan administratif tidak otomatis menghasilkan keadilan sosial. Ada perbedaan mendasar antara “tercatat dengan benar” dan “berdampak secara nyata”.

Temuan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar asumsi. Dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan, terungkap bahwa penyaluran bantuan sosial seperti PKH, BPNT, dan BST masih menghadapi masalah ketepatan sasaran, dengan nilai mencapai sekitar Rp6,93 triliun pada tahun 2021. Dalam beberapa kasus, bantuan bahkan tercatat masih diterima oleh individu yang sudah meninggal, terdapat data ganda, hingga penerima yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria.

Kondisi ini tidak berdiri sendiri. Ombudsman Republik Indonesia juga menilai ketidaktepatan penyaluran bansos tersebut sebagai bentuk maladministrasi. Akar persoalannya terletak pada lemahnya validasi data serta sistem distribusi yang belum berjalan optimal. Dengan kata lain, persoalan ini bukan hanya soal teknis di lapangan, tetapi mencerminkan kelemahan yang lebih mendasar dalam tata kelola program itu sendiri.

Ironisnya, dalam kerangka pelaporan keuangan, kondisi seperti ini tidak selalu tercermin sebagai kegagalan. Program tetap dilaporkan berjalan, realisasi anggaran tetap tinggi, dan indikator administratif tetap terpenuhi. Dengan kata lain, sistem tetap terlihat “berhasil”, meskipun hasilnya di lapangan masih dipertanyakan. Di sinilah muncul apa yang dapat disebut sebagai paradoks akuntansi pemerintahan: laporan menunjukkan keberhasilan, tetapi realitas belum sepenuhnya mengonfirmasi hal tersebut.

Fenomena percepatan belanja di akhir tahun anggaran juga memperkuat gambaran ini. Tidak sedikit instansi yang berupaya menghabiskan anggaran dalam waktu singkat agar tingkat penyerapan terlihat optimal. Dalam praktiknya, kondisi ini sering berdampak pada kualitas belanja. Pengadaan dilakukan secara terburu-buru, perencanaan menjadi kurang matang, dan hasilnya tidak selalu memberikan manfaat maksimal. Dalam konteks ini, angka penyerapan justru menjadi tujuan, bukan alat untuk mencapai tujuan.

  • Penulis: M. Ja'far Ali Reza

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Industri Farmasi Nasional Tertinggal, DPR Beberkan Akar Masalahnya

    Industri Farmasi Nasional Tertinggal, DPR Beberkan Akar Masalahnya

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 328
    • 0Komentar

    nulondalo.om –  Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menilai rendahnya daya saing industri farmasi nasional bukan disebabkan oleh lemahnya efisiensi produksi, melainkan tingginya biaya bahan baku dan ongkos produksi di dalam negeri. Kondisi ini membuat harga produk farmasi Indonesia sulit bersaing dengan produk impor. Hal tersebut disampaikan Evita usai memimpin rapat Komisi VII […]

  • Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Turmuji Jafar
    • visibility 470
    • 0Komentar

    Oleh: Turmuji Jafar (Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto)   Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Terhitung sejak tanggal 25-30 November 2025, terus mendapatkan bantuan dari berbagai pihak untuk kemanusiaan dan juga pemulihan. Banjir yang terjadi di Aceh dan Sumatera bukan semata-mata karena faktor musim hujan dengan […]

  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural

    Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 1.399
    • 0Komentar

    Tulisan sederhan ini sebenarnya memenuhi permohonan dari dua sahabat saya, Kyai Asrul Lasapa dan Dr. Funco Tanipu. Tulisan ini bukan saatu-satunya jawaban atas polemik yang lagi viral di media sosial (facebook). Tulisan ini akan mencoba memberikan perspektif historis, teologis dan sosiokultural termasuk sedikit sentuhan antropologis. Jika kita mempelajari budaya Gorontalo, sesungguhnya konstruksi kebudayaan Gorontalo yang […]

  • Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Agenda SANTRIPRENEUR TALKS dengan Tema “Peradaban santri: Berpendidian, Berdaya, Berkhidmat Membangun Negeri” merupakan kegiatan kolaboratif antara Dewan Pengurus Pusat Gerakan SantriPreuner Nusantara (DPP GENINUSA) dan LPDP PKUMI (Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal) yang diselenggarakan di Aula Masjid Istiqlal pada Jum’at, 14 Maret 2025. Kegiatan SANTRIPRENEUR TALKS Dibuka secara resmi oleh ketua umum DPP GENINUSA, Zikal […]

  • Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 162
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Gorontalo kembali menunjukkan sikap kritisnya terhadap persoalan-persoalan serius yang menghantui daerah. Salah satu aktivisnya, Sandri atau yang lebih akrab disapa Kevin Lapendos, menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan dalam mengawal isu-isu strategis, mulai dari dugaan tindak pidana korupsi, pertambangan ilegal, hingga persoalan tata kelola sumber […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sosial-Ekonomi

    Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sosial-Ekonomi

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar kajian bertema “Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sosial dan Ekonomi”, Rabu (5/11/2025), bertempat di Kantor Bappeda Provinsi Gorontalo. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo yang diwakili oleh Kabid Riset dan Inovasi, Titi Iriani Datau. Dalam sambutannya, Titi Iriani menegaskan pentingnya kajian […]

expand_less