Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Awan yang tak Kunjung Hujan

  • account_circle Hakiki
  • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
  • visibility 215
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di surgaloka yang selalu cerah, Raqib dan Atid sudah lama bosan.

“Sudah berabad-abad kita mencatat amal manusia,” kata Raqib sambil mengusap jenggotnya yang putih. “Tapi akhir-akhir ini… awan di bawah sana makin tebal. Aneh, tidak juga hujan.”

Atid mengangguk. Matanya yang tajam menembus lapisan awan tebal yang
menyelimuti Jakarta. “Kita turun saja. Lihat sendiri. Siapa tahu ada yang bisa kita
perbaiki.”

Mereka turun tanpa sayap, hanya berpakaian sederhana seperti warga biasa. Malam itu Bundaran HI ramai seperti biasa. Lampu-lampu neon berkelap-kelip, tapi langit di atasnya hitam pekat, tak ada bintang.

Mereka berdiri di pinggir trotoar. Seorang ibu muda sedang live Instagram sambil memeluk anak jalanan kecil. “Lihat, teman-teman! Aku lagi bantu anak yatim piatu nih. Doakan ya!” Komentar membanjir: “Mashallah”, “Queen”, Ibu itu tersenyum lebar, tapi begitu kamera mati, ia melepaskan pelukannya dan buru buru pergi meninggalkan anak itu sendirian di trotoar.

Raqib menggeleng. “Amalnya tercatat… tapi kebaikannya tidak tulus” Mereka melanjutkan jalan ke arah Stasiun Sudirman. Di dalam kereta ada seorang remaja cowok duduk sambil memegang HP. Di layar terpampang postingan: “Hari ini gue donasi 1 juta buat korban banjir. Siapa yang mau ikutan? Tag temen lo!” Di bawahnya ratusan like. Tapi ketika seorang nenek tua di depannya
kesulitan berdiri karena kereta oleng, remaja itu tetap duduk, mata tak lepas dari
layar.

Atid berbisik, “Dia donasi satu juta… tapi tak sanggup berdiri sebentar saja.” Di sebuah kafe mewah di Thamrin, mereka melihat seorang selebgram sedang rapat dengan timnya. “Besok kita bikin konten peduli lingkungan. Aku foto sambil tanam pohon di rooftop, terus captionnya soal global warming. Bagus kan?” Timnya mengangguk antusias. Tak ada yang ingat bahwa kemarin mereka membuang plastik sekali pakai di sungai yang sama.

Raqib dan Atid terus berjalan. Mereka melihat seorang ayah yang baru pulang kerja memarahi anaknya karena nilai sekolah jelek, padahal seharian anak itu ditinggal sendirian dengan HP. Mereka melihat pejabat yang baru saja keluar dari mobil mewah sambil bicara di telepon, “Proyeknya jalan terus, bos. Yang penting laporan ke pusat bagus.”

Semua terasa sama orang-orang sibuk menunjukkan kebaikan, tapi tak ada yang benar-benar melakukan kebaikan.

Pagi menjelang, Raqib dan Atid berdiri lagi di Bundaran HI. Awan di atas kepala mereka semakin tebal, hampir hitam. Tak ada tetes air pun yang jatuh. “Kita sudah lihat cukup,” kata Atid. “Mereka tidak butuh hujan… mereka hanya butuh likes.”

Raqib mengangguk sedih. “Mari kita pulang. Mencatat amal di sini sudah tak ada artinya lagi.”

Mereka naik kembali ke surgaloka. Begitu kaki mereka menyentuh tanah surga, awan di atas Jakarta semakin menggantung berat. Kali ini bukan hanya mendung. Kali ini gelap sekali.  Dan hujan pun tak kunjung datang.

Penulis : Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

  • Penulis: Hakiki

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Abu Lubabah, Kisah Pengkhianatan dan Pertobatan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #10)

    Abu Lubabah, Kisah Pengkhianatan dan Pertobatan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #10)

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Abu Lubabah bin Abd al-Mundzhir adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar, berasal dari suku Aws di Madinah. Nama aslinya Basyir bin ‘Abd al-Mundhir. Ia termasuk Muslim awal di Madinah dan terlibat dalam fase-fase penting komunitas setelah hijrah. Dalam Perang Badr, ia ditugaskan menjaga Madinah sehingga tidak hadir di medan tempur, tetapi tetap dihitung […]

  • Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Angca Aldafa
    • visibility 316
    • 0Komentar

    Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah sering kali diukur dari intensitas pertempuran atau kerugian infrastruktur yang terpampang di permukaan media. Namun, dalam perspektif akuntansi pemerintahan, dampak sesungguhnya terletak pada kemampuan negara dalam mencatat, mengklasifikasikan, dan mempertanggungjawabkan beban fiskal yang ditimbulkan. Angka pengeluaran langsung mulai dari pengadaan alutsista, logistik tempur, hingga rehabilitasi wilayah terdampak hanyalah representasi […]

  • Warga Kota Timur Keluhkan Variasi Menu MBG, DPRD Kota Gorontalo Siap Lakukan Sidak

    Warga Kota Timur Keluhkan Variasi Menu MBG, DPRD Kota Gorontalo Siap Lakukan Sidak

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 250
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, menuai keluhan dari warga. Seorang warga, Sintia Bumulo, menyoroti variasi menu yang dinilai kurang beragam dan cenderung monoton. Menurut Sintia, program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi siswa tersebut seharusnya dibarengi dengan perencanaan menu yang lebih variatif dan bergizi seimbang. Ia menilai […]

  • Membunuh ‘tuhan’ dengan Puasa

    Membunuh ‘tuhan’ dengan Puasa

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Secara tidak sadar, manusia telah merancang ‘tuhan’ di altar persembahannya, memuja ilusi yang lahir dari tangannya sendiri, dan puasa hadir untuk membunuhnya. Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah ritual penyucian jiwa yang mendalam. Di balik setiap detik penantian dan keheningan, tersimpan makna esoterik memerangi dan memusnahkan segala bentuk penyembahan terhadap duniawi […]

  • Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

    Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Julkifli Gadeang
    • visibility 428
    • 0Komentar

    Oleh: Julkifli Gadeang Hari ini, sebuah persoalan tidak perlu benar-benar penting untuk menjadi perhatian publik. Ia hanya perlu viral. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai upaya menghakimi dinamika ruang digital yang terus berkembang, melainkan sebagai refleksi kritis atas perubahan cara masyarakat membangun dan memahami opini publik di era teknologi informasi. Di tengah derasnya arus komunikasi digital, […]

  • Yang Nanam Malah Lapar

    Yang Nanam Malah Lapar

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 449
    • 0Komentar

    Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) adalah usia yang cukup matang untuk merenung: apakah jam’iyah ini masih sekadar kuat di tahlilan, atau sudah cukup berani kuat di laporan keuangan? Gus Dur pernah berkelakar, “NU itu besar sekali, tapi kalau ditanya asetnya, jawabannya sering: berkah.” Masalahnya, berkah saja tidak cukup untuk bayar pupuk, solar kapal nelayan, dan […]

expand_less