Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bersuara

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 109
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dunia maya kembali bergeliat. Kali ini di sebuah ajang cerdas cermat setingkat SMA terjadi peristiwa. Boleh jadi, peristiwa seperti ini sudah sering terjadi, tetapi baru kali ini terblow up.  Salah seorang peserta  dari kelompok C menginterupsi keputusan juri yang memberinya nilai minus untuk jawaban yang sama yang justru diberi nilai plus kepada kelompok lain. Sang peserta mencoba menyampaikan keberatannya. Ia meminta penjelasan. Ia mempertanyakan konsistensi keputusan.

Namun pada akhirnya, ia tetap harus mengalah. Otoritas juri berdiri terlalu tinggi untuk diganggu gugat. Apalagi sang juri menyalahkan artikulasi peserta. Artinya yang salah adalah peserta, bukan cara juri mendengar. Padahal, rekaman menunjukkan artikulasi peserta sudah tepat. Inilah yang membuat netizen Indonesia bereaksi.

Saya tidak ingin masuk ke dalam polemik siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya juga tidak sedang ingin menghakimi juri atau membela peserta tertentu. Yang ingin saya soroti adalah keberanian seorang anak untuk bersuara ketika merasa diperlakukan tidak adil. Dalam banyak situasi, keberanian semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan menjawab pertanyaan dengan benar.

Kita hidup dalam budaya pendidikan yang sejak lama menempatkan kepatuhan sebagai ukuran utama. Anak didik dianggap baik ketika diam, mendengar, mengikuti instruksi, dan menerima keputusan tanpa banyak bertanya. Ruang kelas sering kali dibangun dengan pola satu arah: guru berbicara, murid menerima. Dalam situasi seperti itu, suara kritis perlahan dianggap sebagai ancaman terhadap keteraturan. Anak-anak akhirnya belajar satu hal penting: lebih aman diam daripada mempertanyakan.

Di titik inilah pemikiran Paulo Freire menjadi relevan. Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, Freire mengkritik model pendidikan yang ia sebut sebagai banking education. Pendidikan model ini memposisikan murid seperti celengan kosong yang harus diisi pengetahuan oleh guru. Guru menjadi subjek yang mengetahui segalanya, sementara murid menjadi objek penerima informasi. Dalam relasi seperti itu, murid tidak dibiasakan berpikir kritis terhadap realitas. Mereka hanya dilatih menerima.

Freire percaya bahwa pendidikan semestinya menjadi proses pembebasan, bukan penjinakan. Pendidikan harus melahirkan manusia yang sadar terhadap situasi di sekitarnya dan berani berdialog dengan kekuasaan. Bagi Freire, dialog bukan sekadar percakapan biasa, tetapi pengakuan bahwa setiap manusia memiliki suara dan pengalaman yang layak didengar. Ketika suara murid dibungkam hanya karena berhadapan dengan otoritas, maka pendidikan kehilangan salah satu fungsi terpentingnya: memanusiakan manusia.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

    Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Refleksi Antropologis tentang Perbedaan, Kesepakatan, dan Kedewasaan Beragama Setiap Ramadhan selalu diawali oleh satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang dalam: kapan kita mulai berpuasa? Pertanyaan ini bukan semata soal tanggal, melainkan tentang ketenangan batin, rasa aman dalam beribadah, dan kerinduan untuk menjalani waktu suci secara bersama. Dari tahun ke tahun, saya […]

  • Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Dalam kamus kehidupan sehari-hari, kata sabar sering diperlakukan seperti obat mujarab untuk segala luka sosial. Ia terdengar menenangkan, penuh kebijaksanaan, bahkan dianggap sebagai jawaban paling aman atas berbagai persoalan hidup. Namun di balik itu, ada kekeliruan yang diam-diam terus dipelihara: kita terlalu sering mencampuradukkan antara kesabaran dan kepasrahan. Padahal keduanya lahir dari ruang batin yang […]

  • Korban Laka Dibawa Mobil BPBD, Ambulans Puskesmas Cenrana Dipertanyakan: Kepala Puskesmas Klaim Tak Terima Informasi

    Korban Laka Dibawa Mobil BPBD, Ambulans Puskesmas Cenrana Dipertanyakan: Kepala Puskesmas Klaim Tak Terima Informasi

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Nulindalo.com, MAROS — Kesiapsiagaan pelayanan kegawatdaruratan di wilayah timur Kabupaten Maros menjadi sorotan. Seorang korban kecelakaan lalu lintas di Dusun Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Senin (10/8/2026) sore, dilaporkan sempat dievakuasi menggunakan kendaraan operasional Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan publik. Pasalnya, Puskesmas Cenrana merupakan salah satu fasilitas kesehatan terdekat […]

  • Mahasiswa Akuntansi UNUSIA Menggugat Trans 7: Kritik atas Tayangan “Exposed Uncensored”

    Mahasiswa Akuntansi UNUSIA Menggugat Trans 7: Kritik atas Tayangan “Exposed Uncensored”

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Tayangan Exposed Uncensored yang disiarkan oleh Trans 7 menuai gelombang protes dari kalangan akademisi muda Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), khususnya mahasiswa Program Studi Akuntansi. Mereka menilai konten tersebut telah melampaui batas etika penyiaran dan mencederai nilai-nilai keagamaan serta budaya bangsa. Asep Alfarizi Yulianto, mahasiswa Akuntansi UNUSIA semester V, menilai tayangan tersebut bukan sekadar hiburan, […]

  • Alissa Wahid: Merawat Indonesia Tidak Cukup Hanya dengan Kata-kata

    Alissa Wahid: Merawat Indonesia Tidak Cukup Hanya dengan Kata-kata

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Yogyakarta- Direktur Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid, menyampaikan bahwa merawat Indonesia tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi juga membutuhkan kerja nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurut Alissa, menjaga dan merawat Indonesia bukanlah pekerjaan mudah seperti menyampaikan pidato di depan umum. Merawat Indonesia berarti harus hadir secara nyata dalam memelihara keberagaman dan kebersamaan di antara […]

  • 1.512 SPPG Program MBG Dihentikan Sementara, BGN Temukan Masalah Sanitasi hingga IPAL

    1.512 SPPG Program MBG Dihentikan Sementara, BGN Temukan Masalah Sanitasi hingga IPAL

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional 1.512 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah II. Kebijakan ini diambil sebagai tindak lanjut evaluasi terhadap pemenuhan standar operasional serta kelengkapan sarana dan prasarana layanan. Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN, Albertus Dony Dewantoro, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari penataan layanan dalam Program […]

expand_less