Bersuara
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
- visibility 44
- print Cetak

Pepi Al-Bayqunie/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dunia maya kembali bergeliat. Kali ini di sebuah ajang cerdas cermat setingkat SMA terjadi peristiwa. Boleh jadi, peristiwa seperti ini sudah sering terjadi, tetapi baru kali ini terblow up. Salah seorang peserta dari kelompok C menginterupsi keputusan juri yang memberinya nilai minus untuk jawaban yang sama yang justru diberi nilai plus kepada kelompok lain. Sang peserta mencoba menyampaikan keberatannya. Ia meminta penjelasan. Ia mempertanyakan konsistensi keputusan.
Namun pada akhirnya, ia tetap harus mengalah. Otoritas juri berdiri terlalu tinggi untuk diganggu gugat. Apalagi sang juri menyalahkan artikulasi peserta. Artinya yang salah adalah peserta, bukan cara juri mendengar. Padahal, rekaman menunjukkan artikulasi peserta sudah tepat. Inilah yang membuat netizen Indonesia bereaksi.
Saya tidak ingin masuk ke dalam polemik siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya juga tidak sedang ingin menghakimi juri atau membela peserta tertentu. Yang ingin saya soroti adalah keberanian seorang anak untuk bersuara ketika merasa diperlakukan tidak adil. Dalam banyak situasi, keberanian semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan menjawab pertanyaan dengan benar.
Kita hidup dalam budaya pendidikan yang sejak lama menempatkan kepatuhan sebagai ukuran utama. Anak didik dianggap baik ketika diam, mendengar, mengikuti instruksi, dan menerima keputusan tanpa banyak bertanya. Ruang kelas sering kali dibangun dengan pola satu arah: guru berbicara, murid menerima. Dalam situasi seperti itu, suara kritis perlahan dianggap sebagai ancaman terhadap keteraturan. Anak-anak akhirnya belajar satu hal penting: lebih aman diam daripada mempertanyakan.
Di titik inilah pemikiran Paulo Freire menjadi relevan. Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, Freire mengkritik model pendidikan yang ia sebut sebagai banking education. Pendidikan model ini memposisikan murid seperti celengan kosong yang harus diisi pengetahuan oleh guru. Guru menjadi subjek yang mengetahui segalanya, sementara murid menjadi objek penerima informasi. Dalam relasi seperti itu, murid tidak dibiasakan berpikir kritis terhadap realitas. Mereka hanya dilatih menerima.
Freire percaya bahwa pendidikan semestinya menjadi proses pembebasan, bukan penjinakan. Pendidikan harus melahirkan manusia yang sadar terhadap situasi di sekitarnya dan berani berdialog dengan kekuasaan. Bagi Freire, dialog bukan sekadar percakapan biasa, tetapi pengakuan bahwa setiap manusia memiliki suara dan pengalaman yang layak didengar. Ketika suara murid dibungkam hanya karena berhadapan dengan otoritas, maka pendidikan kehilangan salah satu fungsi terpentingnya: memanusiakan manusia.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar