Homo MBGiens
- account_circle Muhammad Suryadi R
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 53
- print Cetak

Muhammad Suryadi R/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebahagiaan dan kenikmatan hidup itu terletak pada makanan yang kita santap. Kalimat dari Epicurus ini terasa hangat di tengah situasi Indonesia yang dilanda musim MBG. Tetapi sebelum itu, saya ingi memulai tulisan ini dengan pembahasan bahwa dalam sejarah panjang manusia, ilmuan bermazhab Darwinisme mengatakan Homo Sapiens sebagai evolusi terakhir dan paling sempurna umat manusia. Sapiens adalah makhluk rasional, yang dari aktivitas berpikirnya melahirkan rumah, menciptakan kebudayaan, menciptakan teknologi, dan melahirkan kebijaksanaan dan peradaban. Tetapi, di era Serakahnomics, narasi tersebut dibantah oleh kemunculan satu evolusi manusia yang lahir dari kebijakan dan anggaran.
Homo yang satu ini bertumbuh dari sepiring makanan: ompreng. Homo MBGiens nama generasi tersebut. Kemunculannya hampir bersamaan dengan sekolah rakyat. Jika Homo Sapiens dikenal sebagai manusia yang berpikir mencari makan untuk bertahan hidup, maka Homo MBGiens sebaliknya. Ia baru bisa berpikir setelah makan.
Peradaban manusia seringkali bermula dan diidentikkan dengan benda-benda yang menandai sebuah babak kehidupan. Jika dulu ada kapak dan batu yang menandai zaman prasejarah. Ada cangkul yang menandai masyarakat agraris. Ada kapal dan pelabuhan yang menandai masyarakat maritim. Ada mesin uap yang menandai revolusi industri. Ada big data dan digitalisasi menandai era AI. Maka di Indonesia di era kiwari, ada ompreng yang menandai eksistensi manusia berbadan gemoy (MBG).
Ompreng sebagai Simbol Peradaban Baru
Hari ini, dalam beberapa pemandangan sosial kita, ompreng muncul sebagai satu benda yang senantiasa akan membersamai kita. Benda yang tadinya kita akrabi di meja makan dan dapur, kini kita jumpai setiap lima hari -kalau tidak setiap hari- di bangku belajar anak-anak sekolahan. Ompreng yang semula hanya wadah makanan, kini menjadi realitas simbolik keseharian kita. Karena kebutuhan untuk melahirkan anak-anak bergizi sehat, kalori cukup, dan nutrisi terpenuhi, maka ompreng berubah menjadi simbol baru dalam peradaban dimana Homo MBGiens eksis, sukses dan lancar jaya.
Setiap hari, orang datang membawa wadah itu, berdiri dalam antrean, menunggu makanan dibagikan. Menunggu ompreng makanan bergizi -seharga Rp. 8.500- yang di dalamnya berisi nasi, lauk, dan sayur. Ompreng kini perlahan menjadi tanda zaman, yang mana sebuah peradaban tidak lagi sepenuhnya ditopang oleh kerja manusia, tetapi ditentukan pola makan yang telah diatur oleh negara: Makan Bergizi Gratis.
Makan Bergizi Gratis sesungguhnya merupakan program yang (berniat) sungguh mulia. Tujuannya jelas: memastikan masyarakat, terutama anak-anak sekolah -dari semua tingkatan baik swasta maupun negeri- mendapatkan makanan yang layak bukan lezat. Dalam banyak kasus, program semacam ini membantu keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, meski hanya tertulis dalam angka dan statistik.
Tetapi, kebijakan kerap menampilkan dua sisi sekaligus. Ketika pemberian makanan dilakukan terus-menerus dan menjadi rutinitas wajib, maka secara tidak langsung akan membentuk pola pikir dan kebiasaan baru. Generasi yang tumbuh dari pola semacam ini bisa saja akan memandang makanan bukan lagi sebagai hasil dari usaha, tetapi sebagai sesuatu yang datang dan didistribusi oleh negara. Tanpa disadari, negara bukan hanya menyuap makan setiap hari. Negara juga turut andil besar membentuk pola hidup baru.
Homo MBGiens: Evolusi yang Aneh
Sekali lagi, ompreng bukan sekadar wadah makanan. Ia sekaligus membawa pesan simbolik. Bahwa kebutuhan hidup, terutama makanan, datang tanpa proses panjang dari bekerja. Jika kebiasaan ini terus berulang, maka nalar manusia perlahan tersisih oleh ingatan terhadap ompreng. Rasionalitas yang seharusnya menjadi alat intelektualitas anak-anak sekolah digeser oleh wadah makanan yang datang setiap lima hari yang bernama ompreng itu. Kebiasaan ini akan menggeser banyak hal. Pergeseran dari papan tulis ke dapur. Dari pulpen ke ompreng. Dan pikiran turun ke perut.
Dalam konteks ini, tentu saja manusia jenis ini tidak serta-merta kehilangan akal pikirannya. Tetapi peran akalnya tergerus karena kebiasaan sosial baru yang berpengaruh besar, yakni MBG. Hal ini pada gilirannya membentuk mentalitas baru. Dan dalam mentalitas seperti ini, ompreng tidak lagi sekadar wadah makanan, tetapi berubah menjadi pusat orientasi hidup.
Padahal sejarah manusia sebenarnya adalah sejarah tentang perjuangan. Manusia purba berburu mengumpul makanan dan manusia modern bekerja untuk bertahan hidup. Seolah-olah tidak ada makan tanpa kerja keras.
Tetapi bagi Homo MBGiens, relasi itu mulai dibalik. Makanan datang dari distribusi. Antrian mengikuti jadwal pembagian. Dan memang sebagian aktivitas manusia seringkali (dipaksa) menyesuaikan diri dengan urusan antri pembagian bantuan pemerintah, itupun salah sasaran kalau tidak dikorupsi. Dari situ kemudian muncul gambaran satir, dimana manusia yang dulu disebut sebagai manusia yang berpikir, kini perlahan bertransformasi menjadi makhluk yang (senang) menunggu, menunggu itu barang kata Bahlil.
Di sinilah MBGiens menemukan bentuk akhirnya, yakni seorang manusia yang hidup dan bergantung pada seompreng makanan dari negara. Generasi hidup dalam sistem distribusi yang teratur, generasi yang terbiasa menyesuaikan hidupnya dengan jadwal dan antrian, dan generasi yang mulai memandang makanan sebagai bantuan yang terberi bukan dari bekerja. Ini bukan lagi soal kebijakan yang baik, tapi perlahan mengubah ekosistem menjadi ekosistem yang kacau kalau tidak ingin dikatakan buruk.
Evolusia manusia dalam tahapan ini adalah evolusi yang aneh. Aneh dalam istilah, perkakas, dan kebiasaan. Makan bergizi gratis awal mula keanehan ini. Di saat dunia pendidikan kita keropos karena kualitas pengajar dan kualitas sistem yang keropos, MBG hadir di tengah-tengah problem itu. Negara menghadirkannya dengan optimisme “tambah dua orang gas” bahwa pemenuhan gizi anak-anak adalah solusi pendidikan Indonesia dan stunting nasional. Dan kita melihat, dapur-dapur didirikan. Rekrutmen petugas dilaksanakan secara massif. Masyarakat menerima surplus dengan menjadi penerima manfaat.
Tetapi yang terlihat yakni lahirnya Homo MBGiens, sebuah generasi manusia yang bertumbuh di era MBG. Generasi dengan nutrisi dan kalorinya serba diatur. Padahal petugas dan pekerja MBG belum tentu nutrisi dan kalorinya tercukupi setiap hari; generasi dengan buruk atau baiknya gizi ditentukan oleh seompreng nasi. Padahal anak pemulung yang hidup di jalanan setiap hari jauh lebih kuat dibanding anak yang makan MBG setiap hari; generasi yang diharuskan mengabarkan manfaat MBG. Padahal tidak sedikit ompreng terisi makanan yang tidak habis. Satu hal yang pasti, apapun masalahnya MBG tetap harus jalan, jaya, jaya, jaya.
(Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi dan Peneliti Parametric Development Center)
- Penulis: Muhammad Suryadi R

Saat ini belum ada komentar