Menyongsong Sosialisme Tarbiyah
- account_circle Almunauwar Bin Rusli
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 47
- print Cetak

Almunauwar bin Rusli - Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kedua, masalah kemiskinan (poverty). Bank Dunia (2025) mendefinisikan kemiskinan sebagai bentuk kehilangan kesejahteraan multidimensi seperti ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup dasar yakni makanan, pakaian, dan perumahan serta minimnya akses ke pendidikan, kesehatan, dan partisipasi dalam masyarakat. Data BPS (2025) pun menjelaskan jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 23,36 juta orang. Adapun wilayah dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia adalah Provinsi Papua Pegunungan dengan angka kemiskinan mencapai 30,03%, Papua Tengah 28,9%, Papua Barat 20,66%, Papua Selatan 19,71%, dan Papua 19,16%.
Ketiga, masalah penyakit (disease problem). Bank Dunia (2025) mendefinisikan penyakit sebagai penyimpangan fungsi atau struktur tubuh yang menyebabkan hilangnya kesehatan. Mereka mengelompokkan penyakit dalam tiga kategori utama yaitu (a) penyakit menular seperti gangguan yang disebabkan oleh patogen, kesehatan ibu dan kekurangan gizi (b) penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, diabetes, dan kanker (c) cedera seperti kerusakan fisik akibat kecelakaan atau kekerasan. Data BPS (2025) pun menguatkan bahwa sekitar 25,23% penduduk Indonesia memiliki keluhan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gastritis, hipertensi, HIV/AIDS, dan stroke. Sedangkan khusus stunting nasional sebesar 19,8%.
Sampai di sini, tentu mustahil fitrah manusia bisa dioptimalkan jika faktor kebodohan, kemiskinan dan penyakit tidak bisa diselesaikan. Oleh karenanya, tentu kita membutuhkan sebuah metode strategis ilmiah dan bukan sekadar jurus abrakadabra. Pertama, sosialisme tarbiyah akan berjuang untuk (a) mendemokratisasikan akses pendidikan tanpa kelas (b) melaksanakan pendidikan berbasis kesadaran kritis dan (c) mobilisasi literasi massal. Kedua, sosialisme tarbiyah akan berjuang untuk membentuk (a) solidaritas sosial otomatis (b) membuat petisi penghapusan alat produksi yang monopolistik dan (c) memperkuat ekonomi kreatif dari desa-desa. Ketiga, sosialisme tarbiyah akan berjuang untuk (a) pemberantasan komersialisasi medis (b) membangun jaringan rumah sakit, relawan medis & klinik rakyat dan (c) memperkuat intervensi struktural terhadap kedaulatan pangan & gizi serta perbaikan sanitasi lingkungan. Sebagai penutup, sosialisme tarbiyah adalah paham untuk membangkitkan kembali hakikat dasar manusia dalam Al-Qur’an yakni Al-Basyar (dimensi fisik-biologis), Al-Insan (dimensi spiritual-psikologis), dan An-Nas (dimensi sosial-masyarakat). Tanpa kebangkitan fitrah manusia, maka masyarakat Muslim Indonesia akan sulit menjadi pemain dan penentu arah peradaban global di masa depan. Apakah sosialisme tarbiyah layak dikampanyekan? Sekian !
Penulis : Dosen IAIN Manado/Anggota KPPP MUI Sulawesi Utara
- Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Saat ini belum ada komentar