PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Senin, 23 Feb 2026
- visibility 297
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PSAK Keikhlasan juga mengenal konsep going concern, kelangsungan usaha. Amal pun harus berkelanjutan. Jangan hanya dermawan di awal Ramadhan, lalu “bangkrut spiritual” di Syawal. Keikhlasan itu seperti arus kas: harus dijaga agar tetap positif. Kalau arus kas niat sudah defisit karena riya’, maka perlu restrukturisasi hati.
Humor Gus Dur pernah menyentil, “Tuhan tidak perlu dibela.” Mungkin hari ini kita bisa menambahkan: Tuhan juga tidak perlu dipromosikan dengan pencitraan. Yang perlu diperbaiki adalah diri sendiri. Kalau kita sudah ikhlas, tidak perlu publikasi; kalau belum ikhlas, publikasi justru memperparah inflasi ego.
Akhirnya, Ramadhan adalah momen audit internal. Bukan audit oleh KAP ternama, tapi oleh hati nurani. Kita periksa: apakah amal kita sudah sesuai standar? Apakah niat kita bebas dari salah saji? Apakah ada manipulasi dalam laporan keikhlasan?
Jika jawabannya belum, jangan panik. Dalam akuntansi ada jurnal penyesuaian. Dalam hidup, ada taubat dan istighfar. Setiap malam adalah kesempatan closing, setiap sahur adalah opening balance baru.
Semoga Ramadhan ini kita tidak hanya lulus ujian lapar dan dahaga, tetapi juga lulus uji kepatuhan terhadap PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan. Karena pada akhirnya, laporan amal kita tidak diaudit manusia, melainkan Dia Yang Maha Mengetahui. Dan percayalah, di hadapan-Nya, tidak ada rekayasa laporan yang lolos.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar