PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Senin, 23 Feb 2026
- visibility 298
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kedua: Pengukuran (Measurement). Akuntansi mengenal nilai wajar (fair value). Dalam keikhlasan, nilai wajarnya bukan nominal, melainkan ketulusan. Seribu rupiah dari tukang becak bisa lebih “material” daripada satu juta dari pejabat yang sedang klarifikasi. Seperti dawuh almarhum Gus Dur: “Ikhlas itu kalau dipuji tidak terbang, kalau dicaci tidak tumbang.” Kalau setelah sedekah kita rajin mengecek siapa yang menyebut nama kita di mimbar, berarti masih ada akun piutang pujian yang belum dihapus.
Ketiga: Penyajian (Presentation). Laporan keuangan harus disajikan secara jujur dan wajar. Dalam Ramadhan, penyajian ibadah juga harus jujur dan wajar. Jangan sampai tarawihnya khusyuk, tapi setelah itu marah-marah di parkiran. Jangan sampai puasanya menahan lapar, tapi tidak menahan jari dari komentar pedas. Di era digital, kadang yang batal bukan puasanya, tapi keikhlasannya, karena terlalu sibuk presentasi diri.
Orang NU punya humor khas: kalau ada yang terlalu panjang doanya, biasanya disindir, “Doanya jangan pakai lampiran.” Artinya, jangan bertele-tele demi kesan saleh. Dalam PSAK Keikhlasan, pengungkapan (disclosure) cukup kepada Allah. Tidak perlu catatan atas laporan amal yang dibagikan ke seluruh grup keluarga.
Keempat: Materialitas. Dalam audit, sesuatu dianggap material jika memengaruhi keputusan pengguna laporan. Dalam kehidupan, yang material bukan besar kecilnya amal, tetapi dampaknya bagi sesama. Senyum yang tulus bisa lebih material daripada ceramah panjang yang membuat jamaah menghitung menit.
Ramadhan sering menjadi musim “war takjil” sekaligus “war citra.” Spanduk santunan lebih besar dari jumlah santunannya. Di sinilah kita perlu standar akhlak. Sebab tanpa akhlak, akuntansi bisa menjadi alat pembenaran; dengan akhlak, akuntansi menjadi instrumen keadilan.
Sebagai akademisi akuntansi, saya sering bercanda kepada mahasiswa: neraca itu seimbang karena ada debit dan kredit. Hidup juga seimbang kalau ada ibadah ritual dan sosial. Jangan hanya rajin menghitung harta, tapi lalai menghitung manfaat. Jangan hanya sibuk mengejar opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), tapi lupa mengejar ridha Ilahi.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar