Breaking News
light_mode
Trending Tags

Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
  • visibility 1.252
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tentu saja, hukum sadaka yang “sukarela” dan “seikhlasnya” bisa digunakan manakala seseorang tidak mampu menunaikannya. Namun jikapun ia berani, apakah beban selesai? Tidak juga. Justru dua kata ini menjebak karena tidak ada ukuran pasti. Jika keikhlasan itu mewujud dalam nominal sadaka yang sedikit, maka itu berpotensi dibandingkan dengan pemilik hajatan lain dengan nominal sadaka yang lebih banyak; jika tidak ada, maka kalimat yang muncul bisa jadi “sudah semiskin apa orang itu tidak mengeluarkan sadaka?” padahal, hukum memberi sadaka ini tidak wajib. Itulah sebabnya, dalam banyak kasus, meskipun harapan agar didoakan tetap ada, namun menunaikan sadaka jatuh-jatuhnya hanya sebagai formalitas agar setiap hajatan telah sesuai dengan adat Gorontalo dan bukan karena penghormatan terhadap para pembesar negeri lagi. Masalahnya, formalisme atas praktik sadaka ini mengorbankan hal yang sangat esensial: kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang begitu rentan hari-hari belakangan yang akhirnya, membuat mereka harus mencari ke sana-sini hanya untuk status acara “yang telah sesuai dengan adat Gorontalo”.

Pada sisi yang bersamaan, sadaka ini juga diam-diam menciptakan heroisme di kalangan para elit itu sendiri yang, pada akhirnnya, mengategorisasi hajatan-hajatan masyarakat dengan berbagai derajat tertentu. Misalnya, jika ada dua hajatan dalam waktu yang hampir beseberangan, lalu salah satunya tidak didatangi camat atau walikota, akan mendorong percakapan publik yang berpotensi menyudutkan si pembuat hajat bahwa ia “tidak mampu memberi sadaka” atau bahkan hajatannya “tidak sesuai adat Gorontalo” karena tidak didatangi para pembesar negeri atau pemangku adat. Heroisme ini muncul karena pada dasarnya, struktur sosial masyarakat Gorontalo meniscayakan hal tersebut. Imbasnya, hal juga diikuti dengan menguatnya identitas di antara masyarakat yang melaksanakan adat dengan “sebenar-benarnya” dan “seadanya”. Itu sebabnya, ketika problem ini naik ke ruang publik, kalangan orang yang betul sadar dengan adat cenderung kecewa problem ini tidak didiskusikan dengan lembaga adat karena bagi mereka, sadaka adalah bagian dari adat Gorontalo dan setiap perkara adat harus diselesaikan secara adat.

Lantas, apakah jawabannya sesederhana merekonfigurasi lagi praktik adat Gorontalo agar dapat menjawab masalah ini? Tidak sesederhana itu juga. Sebab, selain memakan waktu yang tidak sedikit, dinamika politik di dalamnya juga tidak bisa diabaikan. Apakah golongan penerima sadaka ini mau jika nominalnya dipotong atau bahkan ditiadakan? Belum lagi, masalah yang muncul selanjutnya adalah: apakah aturan hasil rumusan adat ini akan dipraktikkan mengingat saat ini, adat dan tradisi Gorontalo mendapat tantangan besar dari dunia yang semakin bergerak maju? Belum lagi secara politik, sepertinya, isu ini sekadar menyita perhatian dari tahun ke tahun namun tak pernah dibicarakan secara serius.

Akhirnya, bagi saya, beberapa hal di atas akan tetap menjadi diskursus agar suatu saat nanti, jika pun tidak kelar di sidang adat atau bahkan hanya sekadar mengudar di udara lewat status fesbuk, setidaknya berpotensi untuk masuk pembahasan dalam seminar internasional.***

Catatan:

Simbol (*) yang merujuk pada tahun/periode para olongiya Gorontalo sangat samar, belum pasti, dan masih perlu dilakukan pelacakan kembali karena beberapa di antaranya tumpang-tindih.

Penulis : Mahasiswa PhD Department Antropologi, The Australian National University

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (1)

  • icalmaruf212@gmail.com

    Kalo bang arif sudah nulis tentang sejarah dan adat gorontalo. Sy pasti baca dan tdk mo skip

    Balas23 April 2026 14:46

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Ai Dila Umul Hidayah
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Di sisi transparansi, penyajian informasi anggaran perlu dibuat lebih sederhana dan mudah dipahami, misalnya melalui dashboard publik yang menghubungkan antara anggaran, program, dan hasilnya. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berperan aktif dalam mengawasi penggunaan anggaran. Terakhir, penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi hal yang penting juga […]

  • Pelantikan PMII Maros Periode 2026-2027: Teguhkan Gerakan Intelektual dan Keumatan

    Pelantikan PMII Maros Periode 2026-2027: Teguhkan Gerakan Intelektual dan Keumatan

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Maros bersama Korps PMII Putri (KOPRI) PC PMII Maros resmi dilantik dalam prosesi khidmat yang berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Maros, Sabtu (16/5/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “Mengakar di Maros, Bergerak untuk Peradaban” sebagai spirit perjuangan kader PMII dalam merawat nilai, tradisi, dan […]

  • Lomba Da’i Cilik Meriahkan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo

    Lomba Da’i Cilik Meriahkan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Lomba Da’i Cilik turut memeriahkan rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo yang dilaksanakan di Kantor PWNU Gorontalo, Rabu (29/10/2025). Penanggung jawab kegiatan, Indrawan Modanggu, menyampaikan bahwa lomba Da’i Cilik ini bertujuan untuk menumbuhkan potensi generasi muda sejak dini, khususnya anak-anak di bawah usia 10 tahun, agar semakin mengenal nilai-nilai Islam dan ekonomi syariah. “PWNU […]

  • Said Aqil Siradj dan Kritik tentang Tambang: Ketika NU Diuji antara Khidmah dan Kekuasaan Play Button

    Said Aqil Siradj dan Kritik tentang Tambang: Ketika NU Diuji antara Khidmah dan Kekuasaan

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 152
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama KH Said Aqil Siradj bukan sosok asing dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Selama dua periode memimpin PBNU, ia dikenal sebagai kiai yang vokal dan tak segan mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk di era Presiden Joko Widodo, terutama ketika kebijakan dinilai merugikan rakyat kecil dan kaum lemah. Dalam sejumlah pernyataan yang kembali ramai dibicarakan, Said […]

  • Medan Ekstrem dan Kabut Tebal, Tim SAR Amankan Jenazah Korban Kedua ATR 42-500

    Medan Ekstrem dan Kabut Tebal, Tim SAR Amankan Jenazah Korban Kedua ATR 42-500

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, PANGKEP — Operasi pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, kembali membuahkan hasil. Satu jenazah korban kedua berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan di medan pegunungan yang ekstrem, Senin (19/1/2026). Korban ditemukan oleh Saiful Malik, anggota Komunitas Pencinta Alam Arai Sulawesi Selatan, […]

  • Kader Muda NU Barru Konsolidasi Jelang Konfercab, Dorong Perubahan Kepemimpinan

    Kader Muda NU Barru Konsolidasi Jelang Konfercab, Dorong Perubahan Kepemimpinan

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 148
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Kabupaten Barru, dinamika internal organisasi mulai menghangat. Sejumlah badan otonom (Banom) dan kader muda NU Barru menyatakan tengah melakukan konsolidasi untuk mendorong perubahan kepemimpinan serta pembenahan organisasi. Dorongan tersebut muncul setelah berbagai kalangan menilai NU Barru membutuhkan penyegaran agar kembali aktif menjalankan program keummatan, kaderisasi, dan […]

expand_less