Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
  • visibility 1.765
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tentu saja, hukum sadaka yang “sukarela” dan “seikhlasnya” bisa digunakan manakala seseorang tidak mampu menunaikannya. Namun jikapun ia berani, apakah beban selesai? Tidak juga. Justru dua kata ini menjebak karena tidak ada ukuran pasti. Jika keikhlasan itu mewujud dalam nominal sadaka yang sedikit, maka itu berpotensi dibandingkan dengan pemilik hajatan lain dengan nominal sadaka yang lebih banyak; jika tidak ada, maka kalimat yang muncul bisa jadi “sudah semiskin apa orang itu tidak mengeluarkan sadaka?” padahal, hukum memberi sadaka ini tidak wajib. Itulah sebabnya, dalam banyak kasus, meskipun harapan agar didoakan tetap ada, namun menunaikan sadaka jatuh-jatuhnya hanya sebagai formalitas agar setiap hajatan telah sesuai dengan adat Gorontalo dan bukan karena penghormatan terhadap para pembesar negeri lagi. Masalahnya, formalisme atas praktik sadaka ini mengorbankan hal yang sangat esensial: kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang begitu rentan hari-hari belakangan yang akhirnya, membuat mereka harus mencari ke sana-sini hanya untuk status acara “yang telah sesuai dengan adat Gorontalo”.

Pada sisi yang bersamaan, sadaka ini juga diam-diam menciptakan heroisme di kalangan para elit itu sendiri yang, pada akhirnnya, mengategorisasi hajatan-hajatan masyarakat dengan berbagai derajat tertentu. Misalnya, jika ada dua hajatan dalam waktu yang hampir beseberangan, lalu salah satunya tidak didatangi camat atau walikota, akan mendorong percakapan publik yang berpotensi menyudutkan si pembuat hajat bahwa ia “tidak mampu memberi sadaka” atau bahkan hajatannya “tidak sesuai adat Gorontalo” karena tidak didatangi para pembesar negeri atau pemangku adat. Heroisme ini muncul karena pada dasarnya, struktur sosial masyarakat Gorontalo meniscayakan hal tersebut. Imbasnya, hal juga diikuti dengan menguatnya identitas di antara masyarakat yang melaksanakan adat dengan “sebenar-benarnya” dan “seadanya”. Itu sebabnya, ketika problem ini naik ke ruang publik, kalangan orang yang betul sadar dengan adat cenderung kecewa problem ini tidak didiskusikan dengan lembaga adat karena bagi mereka, sadaka adalah bagian dari adat Gorontalo dan setiap perkara adat harus diselesaikan secara adat.

Lantas, apakah jawabannya sesederhana merekonfigurasi lagi praktik adat Gorontalo agar dapat menjawab masalah ini? Tidak sesederhana itu juga. Sebab, selain memakan waktu yang tidak sedikit, dinamika politik di dalamnya juga tidak bisa diabaikan. Apakah golongan penerima sadaka ini mau jika nominalnya dipotong atau bahkan ditiadakan? Belum lagi, masalah yang muncul selanjutnya adalah: apakah aturan hasil rumusan adat ini akan dipraktikkan mengingat saat ini, adat dan tradisi Gorontalo mendapat tantangan besar dari dunia yang semakin bergerak maju? Belum lagi secara politik, sepertinya, isu ini sekadar menyita perhatian dari tahun ke tahun namun tak pernah dibicarakan secara serius.

Akhirnya, bagi saya, beberapa hal di atas akan tetap menjadi diskursus agar suatu saat nanti, jika pun tidak kelar di sidang adat atau bahkan hanya sekadar mengudar di udara lewat status fesbuk, setidaknya berpotensi untuk masuk pembahasan dalam seminar internasional.***

Catatan:

Simbol (*) yang merujuk pada tahun/periode para olongiya Gorontalo sangat samar, belum pasti, dan masih perlu dilakukan pelacakan kembali karena beberapa di antaranya tumpang-tindih.

Penulis : Mahasiswa PhD Department Antropologi, The Australian National University

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (1)

  • icalmaruf212@gmail.com

    Kalo bang arif sudah nulis tentang sejarah dan adat gorontalo. Sy pasti baca dan tdk mo skip

    Balas23 April 2026 14:46

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

    Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Julkifli Gadeang
    • visibility 491
    • 0Komentar

    Masalahnya, generasi muda sebagai kelompok paling aktif di ruang digital sering kali tanpa sadar menjadi agen reproduksi viralitas tersebut. Aktivitas membagikan informasi kerap didorong oleh respons emosional, bukan refleksi kritis. Tombol share menjadi lebih cepat ditekan dibanding proses verifikasi. Di titik inilah dominasi viralitas menemukan momentumnya. Opini publik tidak lagi terbentuk melalui proses pertimbangan kolektif […]

  • Jaringan Gusdurian Tolak Board of Peace Gagasan Trump, Desak Indonesia Mundur

    Jaringan Gusdurian Tolak Board of Peace Gagasan Trump, Desak Indonesia Mundur

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 588
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Jaringan Gusdurian Indonesia secara tegas menolak inisiatif internasional Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penolakan tersebut disampaikan melalui Pernyataan Sikap yang dikeluarkan di Yogyakarta, 2 Februari 2026. Board of Peace diluncurkan Donald Trump pada 22 Januari 2026 di sela Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, Swiss. Inisiatif […]

  • Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 316
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Anggota Karang Taruna Desa Majannang, Akbar Ramadhan, menyampaikan komitmennya untuk mengawal proses pengisian sejumlah jabatan yang saat ini masih kosong di Desa Majannang. Menurutnya, kekosongan beberapa posisi penting di desa harus segera mendapat perhatian serius demi menjaga stabilitas pelayanan dan jalannya pemerintahan desa. Adapun posisi yang menjadi sorotan di antaranya jabatan Kepala […]

  • Ratusan Santri Seblak Belajar Ekologi dan Toleransi di Festival Jagat

    Ratusan Santri Seblak Belajar Ekologi dan Toleransi di Festival Jagat

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 104
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – JOMBANG – Ratusan santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) mengikuti rangkaian acara Fun Games dalam Festival Jagat di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Agenda ini dirancang secara khusus sebagai ruang edukasi alternatif yang mengenalkan isu ekologi, etika digital, hingga nilai-nilai karakter bangsa […]

  • Waspada Macet! Ini Titik Rawan Kemacetan di Maros Saat Libur Nataru

    Waspada Macet! Ini Titik Rawan Kemacetan di Maros Saat Libur Nataru

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Maros mengungkap sejumlah titik rawan kemacetan selama perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026. Pemetaan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi lonjakan mobilitas masyarakat yang diprediksi meningkat signifikan selama masa libur akhir tahun. Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Maros, Muhammad Darwis, mengatakan bahwa kepadatan arus lalu lintas umumnya terjadi di […]

  • Detik-Detik Mencekam Kebakaran Panti Jompo Manado, Lansia Terpanggang Saat Tidur!

    Detik-Detik Mencekam Kebakaran Panti Jompo Manado, Lansia Terpanggang Saat Tidur!

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 279
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Malam Minggu (28/12/2025) menjadi malam yang penuh duka bagi Panti Werdha Damai, Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado. Sebanyak 16 lansia meninggal dunia dalam kebakaran hebat, sementara belasan lainnya selamat tetapi mengalami luka bakar dan trauma mendalam. Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Alamsyah P. Hasibuan, menjelaskan bahwa pihak kepolisian dan Polda […]

expand_less