Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
  • visibility 1.475
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tentu saja, hukum sadaka yang “sukarela” dan “seikhlasnya” bisa digunakan manakala seseorang tidak mampu menunaikannya. Namun jikapun ia berani, apakah beban selesai? Tidak juga. Justru dua kata ini menjebak karena tidak ada ukuran pasti. Jika keikhlasan itu mewujud dalam nominal sadaka yang sedikit, maka itu berpotensi dibandingkan dengan pemilik hajatan lain dengan nominal sadaka yang lebih banyak; jika tidak ada, maka kalimat yang muncul bisa jadi “sudah semiskin apa orang itu tidak mengeluarkan sadaka?” padahal, hukum memberi sadaka ini tidak wajib. Itulah sebabnya, dalam banyak kasus, meskipun harapan agar didoakan tetap ada, namun menunaikan sadaka jatuh-jatuhnya hanya sebagai formalitas agar setiap hajatan telah sesuai dengan adat Gorontalo dan bukan karena penghormatan terhadap para pembesar negeri lagi. Masalahnya, formalisme atas praktik sadaka ini mengorbankan hal yang sangat esensial: kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang begitu rentan hari-hari belakangan yang akhirnya, membuat mereka harus mencari ke sana-sini hanya untuk status acara “yang telah sesuai dengan adat Gorontalo”.

Pada sisi yang bersamaan, sadaka ini juga diam-diam menciptakan heroisme di kalangan para elit itu sendiri yang, pada akhirnnya, mengategorisasi hajatan-hajatan masyarakat dengan berbagai derajat tertentu. Misalnya, jika ada dua hajatan dalam waktu yang hampir beseberangan, lalu salah satunya tidak didatangi camat atau walikota, akan mendorong percakapan publik yang berpotensi menyudutkan si pembuat hajat bahwa ia “tidak mampu memberi sadaka” atau bahkan hajatannya “tidak sesuai adat Gorontalo” karena tidak didatangi para pembesar negeri atau pemangku adat. Heroisme ini muncul karena pada dasarnya, struktur sosial masyarakat Gorontalo meniscayakan hal tersebut. Imbasnya, hal juga diikuti dengan menguatnya identitas di antara masyarakat yang melaksanakan adat dengan “sebenar-benarnya” dan “seadanya”. Itu sebabnya, ketika problem ini naik ke ruang publik, kalangan orang yang betul sadar dengan adat cenderung kecewa problem ini tidak didiskusikan dengan lembaga adat karena bagi mereka, sadaka adalah bagian dari adat Gorontalo dan setiap perkara adat harus diselesaikan secara adat.

Lantas, apakah jawabannya sesederhana merekonfigurasi lagi praktik adat Gorontalo agar dapat menjawab masalah ini? Tidak sesederhana itu juga. Sebab, selain memakan waktu yang tidak sedikit, dinamika politik di dalamnya juga tidak bisa diabaikan. Apakah golongan penerima sadaka ini mau jika nominalnya dipotong atau bahkan ditiadakan? Belum lagi, masalah yang muncul selanjutnya adalah: apakah aturan hasil rumusan adat ini akan dipraktikkan mengingat saat ini, adat dan tradisi Gorontalo mendapat tantangan besar dari dunia yang semakin bergerak maju? Belum lagi secara politik, sepertinya, isu ini sekadar menyita perhatian dari tahun ke tahun namun tak pernah dibicarakan secara serius.

Akhirnya, bagi saya, beberapa hal di atas akan tetap menjadi diskursus agar suatu saat nanti, jika pun tidak kelar di sidang adat atau bahkan hanya sekadar mengudar di udara lewat status fesbuk, setidaknya berpotensi untuk masuk pembahasan dalam seminar internasional.***

Catatan:

Simbol (*) yang merujuk pada tahun/periode para olongiya Gorontalo sangat samar, belum pasti, dan masih perlu dilakukan pelacakan kembali karena beberapa di antaranya tumpang-tindih.

Penulis : Mahasiswa PhD Department Antropologi, The Australian National University

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (1)

  • icalmaruf212@gmail.com

    Kalo bang arif sudah nulis tentang sejarah dan adat gorontalo. Sy pasti baca dan tdk mo skip

    Balas23 April 2026 14:46

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LKNU Gorontalo Dorong Sinergi Ekonomi Syariah dan Kesehatan Umat

    LKNU Gorontalo Dorong Sinergi Ekonomi Syariah dan Kesehatan Umat

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Provinsi Gorontalo, dr. Sri Manovita Pateda, M.Kes., Ph.D, menegaskan bahwa pelaksanaan Pekan Ekonomi Syariah memiliki nilai strategis yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan masyarakat (Selasa, 28/10/2025). Menurut dr. Sri Manovita, ekonomi syariah tidak dapat dipisahkan dari kesehatan karena keduanya saling menguatkan. “Kesehatan adalah modal dasar produktivitas, […]

  • Sebuah Prestasi! Satresnarkoba Polres Maros Tangani 48 Perkara Sepanjang 2026

    Sebuah Prestasi! Satresnarkoba Polres Maros Tangani 48 Perkara Sepanjang 2026

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Ia menegaskan, seluruh barang bukti yang diamankan dalam pengungkapan kasus tersebut merupakan narkotika jenis sabu. Sementara itu, seluruh tersangka yang telah diamankan dari 48 perkara merupakan pelaku dewasa. “Yang kami jaring semuanya merupakan pelaku dewasa,” tegasnya. Tidak hanya fokus pada penegakan hukum, Satresnarkoba Polres Maros juga mengedepankan langkah preventif melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. […]

  • Sistem Informasi Akuntansi Langit

    Sistem Informasi Akuntansi Langit

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 322
    • 0Komentar

    Padahal kalau mengikuti logika akuntansi, Ramadhan itu seperti periode penyesuaian (adjusting entries) dalam laporan keuangan kehidupan. Selama sebelas bulan sebelumnya kita mungkin terlalu sibuk mencatat transaksi dunia: bekerja, berdagang, mengejar target, atau sekadar mengejar diskon tanggal kembar di marketplace. Ramadhan datang seperti akuntan senior yang berkata dengan tenang, “Mari kita lihat lagi buku besar kehidupan […]

  • DPP Geninusa Bidang pendidikan dan ekonomi Soroti Uang komite/SPP Di SMA Negeri Sumatra Utara

    DPP Geninusa Bidang pendidikan dan ekonomi Soroti Uang komite/SPP Di SMA Negeri Sumatra Utara

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Dugaan pungutan liar (pungli) di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Sumatera Utara kembali mencuat. Hal ini disampaikan oleh Nirwan Pumah Siregar, pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GENINUSA bidang pendidikan dan ekonomi, yang menyoroti praktik pungutan yang berkedok sukarela namun bersifat wajib. “Pendidikan gratis di sekolah negeri sudah diatur dalam Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur, […]

  • Ikbal Kau Soroti Ketidakprofesionalan Disparprov Gorontalo dalam Mendukung Duta Daerah

    Ikbal Kau Soroti Ketidakprofesionalan Disparprov Gorontalo dalam Mendukung Duta Daerah

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Aktivis Gorontalo, Ikbal Kau, menyampaikan kritik keras kepada Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo (Disparprov) karena dinilai tidak profesional dan minim kreativitas dalam memberikan dukungan kepada mahasiswa serta duta daerah yang berkompetisi di tingkat nasional, Jumat (14/11/2025). Dalam pernyataannya, Ikbal menjelaskan bahwa selama empat bulan terakhir dirinya membangun komunikasi intens dengan pihak Disparprov. Ia mengajukan proposal, melengkapi […]

  • Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

    Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Alam Khaerul Hidayat
    • visibility 342
    • 0Komentar

    Lewat beberapa perbincangan santai ala tongkrongan dengan teman, saya menemukan satu celah pembahasan yang menarik sekaligus perlu diluruskan. Kami memang tumbuh dari latar belakang yang tidak sepenuhnya sama. Bahkan, jika dilihat dari kecenderungan wacananya, mereka hampir mendekati kelompok yang hendak saya bahas. Namun beruntungnya, keduanya tetap berada pada posisi yang moderat dan terbuka untuk berdialog. […]

expand_less