Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 264
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

Pernyataan Gus Ulil bahwa “menolak zero mining adalah goblok” secara teknis memang benar. Zero mining itu mustahil. Peradaban modern tidak berdiri tanpa mineral—ponsel, kendaraan listrik, panel surya, hingga kabel listrik di rumah kita semuanya lahir dari aktivitas tambang. Tidak ada yang membantah itu.

Namun persoalan Indonesia jauh lebih rumit daripada sekadar “butuh tambang atau tidak.” Masalah utamanya adalah defisit kesejahteraan di tengah surplus eksploitasi. Kita menggali begitu banyak, tetapi yang dinikmati rakyat tidak sebanding. Dan dalam banyak kasus, keuntungan korporasi justru jauh lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Negara dapat royalti, perusahaan dapat laba, warga sekitar tambang dapat air keruh dan tanah retak.

Di sinilah pernyataan Ulil masuk ke wilayah bias oversimplifikasi. Ia mereduksi problem struktural menjadi persoalan teknis, seolah-olah penolak tambang hanya tidak paham logika energi. Padahal publik sedang membicarakan ketidakadilan—bukan ketidaktahuan.

Ibaratnya begini: Ulil tampak seperti guru filsafat yang sedang menjelaskan fungsi pisau—tajam, berguna, dan esensial—tepat di depan keluarga korban penusukan. Penjelasannya benar, tetapi konteks tempat ia mengucapkannya justru membuat kebenaran itu kehilangan legitimasi moral. Yang dibutuhkan bukan kuliah tentang kegunaan pisau, tetapi empati terhadap luka yang ditimbulkannya.

Tambang di Indonesia bukan sekadar industri; ia adalah arsip panjang penderitaan ekologis dan sosial. Lubang-lubang bekas tambang menjadi kuburan masa depan, bukan kuburan imajinasi. Karena itu, argumentasi teknis yang tidak diiringi pengakuan atas ketidakadilan hanya menimbulkan jarak—bukan dialog.

Ketika Ulil menambahkan bahwa tambang harus dikendalikan, kata itu terdengar rapuh. Pengendalian macam apa? Oleh siapa? Publik sudah terlalu lama melihat kata “dikendalikan” lahir dalam rapat, tetapi mati di lapangan.

Masalah Ulil bukan terletak pada substansi, tetapi pada ketidaktepatan membaca luka kolektif. Pernyataannya benar dalam ruang seminar, tetapi publik tidak sedang duduk di seminar—mereka sedang ingat bahwa tanah mereka telah diambil, air mereka telah rusak, dan masa depan mereka dipertaruhkan.

Akhirnya, refleksi yang paling penting adalah ini: kebenaran memang wajib diucapkan, tetapi kebenaran yang tidak memandang wajah orang yang terluka sering kali jatuh menjadi bunyi kosong.

Dan pada saat seperti itu, pertanyaannya bukan lagi apakah argumen itu benar, melainkan untuk siapa kebenaran itu diucapkan.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Aliansi pemuda peduli rakyat Indonesia (APPRI) gelar aksi demonstrasi soal tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di depan kementrian imigrasi dan mabes polri pada Jum’at, 22 Agustus 2025. APPRI mendesak kepada Kapolri dan menteri imigrasi agar melakukan pemeriksaan terhadap oknum pejabat imigrasi Sumatera Utara dan imigrasi kota Medan karena diduga terlibat dalam tindak pidana perdagangan orang. […]

  • Marhaban Ya Ramadhan

    Marhaban Ya Ramadhan

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu 
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Dalam salah satu bukunya yang masuk kategori best seller yakni Lentera Al-Qur’an, kisah dan hikmah kehidupan, salah satu tema yang dikupas Prof Quraish adalah menyangkut ramadhan. Ada dua kata yang digunakan untuk menyambut tamu yang datang, yakni marhaban dan ahlan wa sahlan, keduanya berarti selamat datang, tapi beda dalam penggunaan kalimat tersebut. Menurut Prof Quraish, […]

  • Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Staf Ahli Gubernur bidang Kemasyarakatan dan SDM Yosef P Koton mewakili Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memberikan sambutan dan membuka lomba Renang “Pinguin Aquatic Fun Swimming Competition Series 2 tahun 2025” di kolam Renang Lahilote Kota Gorontalo, Sabtu (28/7/2025). Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pemuda dan OIahraga Provinsi Gorontalo,  Pengurus klub renang se-Provinsi Gorontalo, pelatih, ofisial […]

  • RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Setelah melalui proses pembangunan sejak 2021, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Camba di Kabupaten Maros akhirnya resmi beroperasi penuh mulai 29 Desember 2025. Kehadiran fasilitas kesehatan ini menjadi salah satu realisasi janji politik Bupati Maros, Chaidir Syam, sekaligus menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di wilayah dataran tinggi. Peresmian operasional RSUD Camba disambut […]

  • Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

    Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Benarkah Gerindra lagi panen tokoh intelektual serupa ciutan Juru Bicara Gerindra Gorontalo, Wahidin Ishak, di beberapa kanal media online 9 Maret 2025, baru-baru ini? Apa model dan bentuk intelektual yang dimaksud Wahidin itu juga tidak dijelaskan. Yang pasti, Jubir itu bilang: “Biasa-biasa jo. Mungkin karena Ketua GERINDRA cukup pintar maka para intelektual banyak yang ke […]

  • UNUSIA Bersama PPATK Tolak Tindak Pidana Pencucian Uang

    UNUSIA Bersama PPATK Tolak Tindak Pidana Pencucian Uang

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menggelar kegiatan Diskusi Kontemporer GEMA APUPPT (Gerakan Muda Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme) pada Kamis, 6 November 2025, di Kampus UNUSIA Jakarta. Acara ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan dan lembaga negara untuk memperkuat literasi keuangan dan menolak segala […]

expand_less