Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 355
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

Pernyataan Gus Ulil bahwa “menolak zero mining adalah goblok” secara teknis memang benar. Zero mining itu mustahil. Peradaban modern tidak berdiri tanpa mineral—ponsel, kendaraan listrik, panel surya, hingga kabel listrik di rumah kita semuanya lahir dari aktivitas tambang. Tidak ada yang membantah itu.

Namun persoalan Indonesia jauh lebih rumit daripada sekadar “butuh tambang atau tidak.” Masalah utamanya adalah defisit kesejahteraan di tengah surplus eksploitasi. Kita menggali begitu banyak, tetapi yang dinikmati rakyat tidak sebanding. Dan dalam banyak kasus, keuntungan korporasi justru jauh lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Negara dapat royalti, perusahaan dapat laba, warga sekitar tambang dapat air keruh dan tanah retak.

Di sinilah pernyataan Ulil masuk ke wilayah bias oversimplifikasi. Ia mereduksi problem struktural menjadi persoalan teknis, seolah-olah penolak tambang hanya tidak paham logika energi. Padahal publik sedang membicarakan ketidakadilan—bukan ketidaktahuan.

Ibaratnya begini: Ulil tampak seperti guru filsafat yang sedang menjelaskan fungsi pisau—tajam, berguna, dan esensial—tepat di depan keluarga korban penusukan. Penjelasannya benar, tetapi konteks tempat ia mengucapkannya justru membuat kebenaran itu kehilangan legitimasi moral. Yang dibutuhkan bukan kuliah tentang kegunaan pisau, tetapi empati terhadap luka yang ditimbulkannya.

Tambang di Indonesia bukan sekadar industri; ia adalah arsip panjang penderitaan ekologis dan sosial. Lubang-lubang bekas tambang menjadi kuburan masa depan, bukan kuburan imajinasi. Karena itu, argumentasi teknis yang tidak diiringi pengakuan atas ketidakadilan hanya menimbulkan jarak—bukan dialog.

Ketika Ulil menambahkan bahwa tambang harus dikendalikan, kata itu terdengar rapuh. Pengendalian macam apa? Oleh siapa? Publik sudah terlalu lama melihat kata “dikendalikan” lahir dalam rapat, tetapi mati di lapangan.

Masalah Ulil bukan terletak pada substansi, tetapi pada ketidaktepatan membaca luka kolektif. Pernyataannya benar dalam ruang seminar, tetapi publik tidak sedang duduk di seminar—mereka sedang ingat bahwa tanah mereka telah diambil, air mereka telah rusak, dan masa depan mereka dipertaruhkan.

Akhirnya, refleksi yang paling penting adalah ini: kebenaran memang wajib diucapkan, tetapi kebenaran yang tidak memandang wajah orang yang terluka sering kali jatuh menjadi bunyi kosong.

Dan pada saat seperti itu, pertanyaannya bukan lagi apakah argumen itu benar, melainkan untuk siapa kebenaran itu diucapkan.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kena Semprot! Wali Kota Adhan Dambea Murka Usai Terima Aduan Warga

    Kena Semprot! Wali Kota Adhan Dambea Murka Usai Terima Aduan Warga

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 235
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Wali Kota Kota Gorontalo, Adhan Dambea, meluapkan kekecewaannya terhadap kinerja sejumlah lurah setelah menerima langsung aduan warga melalui pesan WhatsApp. Kemarahan itu disampaikan saat rapat koordinasi dan evaluasi (rakorev) penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan yang digelar di Bandhayo Lo Yiladia (BLY), Rabu (25/3/2026). “Tadi saja, barusan ada yang WhatsApp ke saya. Kasie Kesra Heledulaa […]

  • Ceramah Ramadan di Al Markaz: Kakanwil Sulsel Tekankan Akhlak Bertetangga

    Ceramah Ramadan di Al Markaz: Kakanwil Sulsel Tekankan Akhlak Bertetangga

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Nulondalo-Makassar. Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan, Rabu 4 Maret 2026 atau 15 Ramadhan 1447 H, masjid Al Markaz Al Islami Makassar kembali dipadati ribuan jamaah Tarawih. Malam itu terasa istimewa, sebab Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel, H. Ali Yafid, didaulat menyampaikan tauziah bertema “Akhlak Bertetangga” sebuah pesan sederhana namun menjadi fondasi kerukunan hidup […]

  • Penuh Khidmat, PERADI Gorontalo Lantik Kepengurusan Baru dan 24 Advokat Muda

    Penuh Khidmat, PERADI Gorontalo Lantik Kepengurusan Baru dan 24 Advokat Muda

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Mike
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Kota Gorontalo – Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gorontalo meresmikan kepengurusan baru periode 2022–2027. Advokat Arif Mahfudin Ibrahim, S.H., M.H., secara resmi mengemban tugas sebagai Ketua DPC setelah dilantik dalam sebuah upacara yang dipenuhi kekhidmatan di Hotel Aston, Kota Gorontalo, pada Selasa (02/12/2025). Momentum pelantikan ini merupakan perayaan regenerasi profesi hukum di […]

  • DPR Soroti Ketidakjelasan Status Kayu Gelondongan Pascabanjir di Aceh

    DPR Soroti Ketidakjelasan Status Kayu Gelondongan Pascabanjir di Aceh

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 253
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Ketua DPR RI Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang) Saan Mustopa menyoroti ketidakjelasan status hukum kayu gelondongan yang terbawa banjir dan hingga kini masih menumpuk di sejumlah kabupaten di Provinsi Aceh. Kondisi tersebut dinilai menghambat upaya pemulihan pascabencana karena pemerintah daerah dan masyarakat tidak berani menangani atau memanfaatkan kayu-kayu tersebut. Hal itu disampaikan […]

  • Ketua DPD Perjosi Maros Soroti Larangan Wartawan Membawa Handphone di Kejari: “Tunjukkan Regulasinya!”

    Ketua DPD Perjosi Maros Soroti Larangan Wartawan Membawa Handphone di Kejari: “Tunjukkan Regulasinya!”

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Maros — Ketua DPD Perserikatan Journalist Siber Indonesia (Perjosi) Kabupaten Maros, Talla, menyoroti Kejaksaan Negeri (Kejari) Maros terkait larangan membawa HP Android ketika ingin bertemu dengan siapa saja di Kejaksaan. “Ini yang perlu kita perjelas, kenapa pihak Kejaksaan selalu meminta agar alat kerja jurnalistik, HP Android, selalu diminta dititip terlebih dahulu baru bisa masuk ke ruangan, […]

  • Intinya “memberatkan”: Itulah yang Luput! Respons atas Kritik Samsi Pomalingo

    Intinya “memberatkan”: Itulah yang Luput! Respons atas Kritik Samsi Pomalingo

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 758
    • 0Komentar

    Tulisan Samsi Pomalingo berjudul Yang Luput dari yang Luput (2026) untuk merespons tulisan saya beberapa hari yang lalu sebenarnya tidak menjawab apa-apa, alih-alih menunjukkan bahwa penulis sendiri tidak membaca dengan detail tulisan saya sebelumnya sehingga, ada banyak kritiknya yang tidak tepat bahkan kontradiktif. Padahal, tesis saya pada tulisan sebelumnya jelas: sadaka memberatkan. Ini poin yang […]

expand_less