Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Reinterpretasi Sejarah 22 Desember: Dari Hari Perempuan Menjadi Perayaan Ibu

  • account_circle Adythia Al Ghozaly
  • calendar_month Senin, 22 Des 2025
  • visibility 311
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh:

Adythia Al Ghozaly Kaempe, S.H

 

Setiap 22 Desember, kita disuguhi narasi nasional yang menyesatkan: peringatan “Hari Ibu” seolah menjadi satu-satunya representasi perempuan. Padahal, lebih dari sembilan dekade silam, perempuan-perempuan Nusantara berkumpul dalam Kongres Perempuan 1928, menuntut hak politik, kebebasan, pendidikan, dan pengakuan sosial yang setara. Namun, patriarki dengan cerdik merampas tanggal itu, membungkusnya dalam simbol-simbol domestik bunga, kue, ucapan manis seolah menyatakan kepedulian pada perempuan. Kepedulian? Tidak. Yang terjadi justru pengaburan sejarah perlawanan yang nyaris terlupakan, digantikan oleh ritual nyaman yang memudarkan dimensi perjuangan sejati. Merayakan “Hari Ibu” tanpa menyelami konteks sejarahnya sama dengan menari di atas panggung propaganda patriarki.

Perjuangan perempuan Nusantara bukan sekadar retorika. Raden Adjeng Kartini menentang praktik kawin muda dan memperjuangkan pendidikan perempuan. S.K. Trimurti menuntut hak perempuan di ranah publik, termasuk pendidikan dan politik, meski menghadapi tekanan sosial yang menekan perempuan untuk diam. Maria Walanda Maramis gigih mendirikan sekolah bagi perempuan di Sulawesi Utara. Mereka bukan sekadar ibu atau istri; mereka adalah subjek sejarah yang menolak tunduk pada norma-norma patriarkal yang membatasi ruang hidupnya. Namun warisan perjuangan itu kini disamarkan menjadi ucapan “Selamat Hari Ibu” yang manis tetapi dangkal.

Generasi muda harus menyadari bahwa 22 Desember bukan sekadar momen ceremonial. Itu adalah simbol perlawanan yang harus dihidupkan kembali. Memberikan ucapan manis tanpa memahami konteks sejarah sama dengan meneguhkan dominasi patriarki. Perempuan di masa lalu menuntut hak untuk bersuara, mengakses pendidikan, dan menentukan nasibnya sendiri bukan untuk dihargai melalui bunga atau kue.

Namun sejarah ini bukan narasi kelam tanpa harapan. Kisah Kartini, Trimurti, dan Maramis menjadi sumber inspirasi bagi semangat generasi sekarang. Mereka mengajarkan bahwa perlawanan dapat diwujudkan melalui pendidikan, organisasi, literasi, dan aksi sosial. Hari ini, generasi muda memiliki alat baru: kampanye digital, advokasi, gerakan sosial, dan suara kritis yang mampu menembus propaganda patriarki.

Seharusnya, 22 Desember menjadi hari refleksi kritis, bukan ritual belaka. Refleksi ini menuntut kita untuk mengenang para pejuang perempuan, memahami konteks sejarah, dan menyalurkan energi untuk perubahan nyata. Perempuan memiliki hak memilih jalannya sendiri apakah sebagai ibu, aktivis, pemimpin, atau kombinasi dari semuanya tanpa dikekang standar yang dipaksakan patriarki. Kesadaran ini merupakan bentuk perlawanan modern yang elegan dan kritis.

Mahasiswa dan mahasiswi harus menyadari bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi sarana membangun kesadaran kritis dan kapasitas untuk menginisiasi perubahan. Menghormati perempuan bukan sekadar ucapan manis, tetapi pemberian akses, kesempatan, dan pengakuan nyata atas peran mereka. Sejarah membuktikan, perempuan yang berdaya mendorong kemajuan bangsa secara substantif.

Patriarki tidak hanya merampas tanggal 22 Desember, tetapi juga menghapus narasi perlawanan perempuan dari ruang publik. Mereka mengganti suara pemberdayaan dengan bisikan domestik: ibu yang setia, istri yang patuh, perempuan yang hanya hadir di ranah privat. Ini adalah manipulasi sistemik: sejarah yang seharusnya menginspirasi aksi kritis dijadikan alat legitimasi untuk mempertahankan status quo. Generasi muda harus mampu melihat tipu daya ini, menembus lapisan propaganda, dan menuntut representasi sejarah yang akurat.

Bunga dan ucapan manis hanyalah simbol kosmetik yang menutupi realitas. Ketika kita hanya menyoraki ritual semu ini, kita ikut membiarkan patriarki menertawakan perjuangan perempuan yang nyaris hilang. 22 Desember bukan hari untuk ritual, tetapi hari untuk menggugat ketidakadilan, menghidupkan narasi perlawanan, dan mengingatkan bahwa perempuan pernah berjuang untuk hak yang fundamental: suara, pendidikan, dan kebebasan.

Generasi perempuan sekarang harus menyadari bahwa perjuangan itu berlanjut, dan medan perlawanan telah berubah. Dari ruang publik hingga ruang digital, dari kampus hingga media sosial, setiap tindakan kritis dan setiap gagasan progresif adalah perpanjangan tangan Kartini, Trimurti, dan Maramis. Mereka mengajarkan bahwa perlawanan tidak selalu membutuhkan kekerasan fisik, tetapi bisa diwujudkan melalui literasi, organisasi, dan keberanian berbicara.

Lebih jauh lagi, kita harus mengakui bahwa peringatan “Hari Ibu” yang dipropagandakan negara bukan sekadar ketidakadilan historis, tetapi bentuk kontrol sosial yang halus. Ini mengajarkan perempuan untuk puas dengan pengakuan simbolik, bukan substantif. Oleh karena itu, menuntut akses pendidikan, kesetaraan dalam politik, dan pengakuan publik menjadi kewajiban moral bagi generasi sekarang. Tanpa kesadaran kritis, kita akan terus menari di panggung yang sama yang dulu menertawakan pejuang perempuan.

Akhirnya, 22 Desember harus diposisikan ulang: bukan sebagai “Hari Ibu,” tetapi sebagai Hari Perempuan Indonesia hari untuk refleksi, pengakuan sejarah, dan aksi nyata. Perempuan sejati adalah mereka yang berani menuntut ruangnya, berpikir kritis, dan berkontribusi pada masyarakat. Generasi muda memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan ini, menantang patriarki, dan memastikan sejarah perempuan Nusantara tidak terhapus oleh ritual manis yang menipu.

  • Penulis: Adythia Al Ghozaly
  • Editor: Risman Lutfi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Setelah melalui proses pembangunan sejak 2021, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Camba di Kabupaten Maros akhirnya resmi beroperasi penuh mulai 29 Desember 2025. Kehadiran fasilitas kesehatan ini menjadi salah satu realisasi janji politik Bupati Maros, Chaidir Syam, sekaligus menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di wilayah dataran tinggi. Peresmian operasional RSUD Camba disambut […]

  • Kuliner Khas Gorontalo : Binte Biluhuta Masih Layakkah Dimakan?

    Kuliner Khas Gorontalo : Binte Biluhuta Masih Layakkah Dimakan?

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Orang-orang bilang, jika datang ke Gorontalo dan belum pernah menyantap kuliner khas serambi madinah; Binte biluhuta, belum afdol, katanya. Tak lengkap jika belum  merasakan gurihnya sup jagung manis yang dihidangkan bertabur cakalang suir, daun kemangi, dan parutan kelapa itu. Belum lagi, ia ditemani potongan jeruk nipis untuk melengkapi rasa. Seperti biasa ada juga bumbu tambahan […]

  • Terbongkar! Empat Anggota TNI Diduga Dalang Penyiraman Air Keras Aktivis

    Terbongkar! Empat Anggota TNI Diduga Dalang Penyiraman Air Keras Aktivis

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 356
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Andrie Yunus, memasuki babak baru. Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengungkap keterlibatan empat anggota TNI yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Komandan Puspom TNI, Mayjen TNI Yusri Nuryanto, menyatakan bahwa pengungkapan kasus ini bermula dari penyelidikan internal yang […]

  • PB HMI Angkat Bicara soal Teror Kader, Sebut Ancaman Serius bagi Demokrasi

    PB HMI Angkat Bicara soal Teror Kader, Sebut Ancaman Serius bagi Demokrasi

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 560
    • 0Komentar

    nulondalo.com — Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) angkat bicara terkait rangkaian teror dan intimidasi yang menimpa kader HMI di sejumlah daerah. Organisasi tersebut menilai ancaman yang terjadi bukan sekadar persoalan individu, melainkan ancaman serius terhadap ruang demokrasi. Teror dialami Ketua Badan Koordinasi HMI Sumatera Utara, Yusril Mahendra Butar Butar, pada Minggu, 29 Maret […]

  • UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Universiti Malaysia Kelantan (UMK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat kerja sama pendidikan lintas negara dengan kampus-kampus Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di Indonesia. Pernyataan ini diungkapkan pada acara Eid Al-Fitr Gathering yang diselenggarakan di Kalbis University, Jakarta, Sabtu (19/4/2025). Acara tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan akademik antara UMK dengan institusi pendidikan Islam di Indonesia. […]

  • Pacaran Anak di Bawah Umur dan Bawa Kabur Kini Bisa Dipenjara, Ini Aturan KUHP Baru

    Pacaran Anak di Bawah Umur dan Bawa Kabur Kini Bisa Dipenjara, Ini Aturan KUHP Baru

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 697
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Praktik pacaran anak di bawah umur yang berujung pada tindakan membawa pergi tanpa restu orang tua kini berisiko pidana. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru menegaskan bahwa persetujuan anak tidak menghapus pelanggaran hukum atas hak pengasuhan orang tua yang sah. Ketentuan tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP berlaku penuh […]

expand_less